Pahlawan dan Kepemimpinan
Hanifah Muslimah
Rabu, 10 November 2021 |
1119 kali
Alkisah, ada sebuah tempat di Amerika Serikat Bernama Death
Valley (Lembah Kematian). Tempat ini adalah area gurun pasir yang terletak di
negara Bagian California. A land of extreme -- tanah yang ekstrem karena
suhu panas ekstrem Death Valley dipengaruhi dua hal: ia berada di tengah gurun,
juga terletak 250 kaki atau 90 meter di bawah permukaan laut. Pegunungan Sierra
Nevada turut andil menghalangi kelembaban masuk ke lembah itu. Sebaliknya, suhu
di musim dingin bisa menjadi sangat dingin. Sebab, gurun tidak mempertahankan
panas saat udara sekitar mendingin. Sebagian orang bahkan mengumpamakannya
sebagai Hell on Earth -- neraka di Bumi. Hal ini menjadikan sangat
sedikit hewan dan tumbuhan yang dapat tumbuh di lingkungan tersebut.
Namun, ada fenomena unik yang terjadi pada Lembah Kematian. Bunga-bunga
indah bermekaran di seluruh lembah setelah hujan lebat turun! (Super Bloom)*
---
Di negeri ini, kita memiliki Ki Hajar Dewantara, pahlawan
pendidikan Indonesia dengan nasihatnya yang masyhur:
Ing Ngarso Sung Tulodo,
Ing Madya Mangun Karsa,
Tut Wuri Handayani,
Di depan menjadi panutan,
Di tengah menciptakan ide,
Di belakang memberikan dorongan.
Pemimpin yang menjiwai filosofi ing madya mangun karsa
berada di tengah-tengah timnya untuk memberikan ide kreatif agar tim tetap
bersemangat mencapai tujuan bersama organisasi. Selain itu, juga sebagai
pendengar yang baik dalam mendengarkan keluhan bawahan kemudian memberikan
solusi.
Dalam sebuah organisasi, dibutuhkan dorongan,
semangat, dan penghargaan terhadap hasil kinerja demi terwujudnya hubungan yang
harmonis antara pimpinan dan bawahan. Di saat tim mengalami demotivasi dan
kejenuhan, pimpinan bergerak dengan dengan menerapkan prinsip tut wuri
handayani. Dengan begitu anggota akan semangat bekerja lagi dan mulai berpikir
ke arah hasil kerja lagi.
---
Seperti Lembah Kematian yang dalam tandusnya ternyata
menyimpan jutaan benih yang menanti untuk tumbuh dan mekar di saat terpenuhi faktor-faktor
yang tepat, begitu pula manusia dengan segala potensi baik dalam dirinya. Tidak
ada anak yang bodoh, tidak ada individu yang tidak kreatif, semua orang
terlahir jenius dengan wujud kejeniusannya sendiri-sendiri. Seperti ucapan
Albert Einstein, “Jika Anda mengukur kehebatan seekor ikan melalui kemampuannya
memanjat pohon, maka ia akan menjalani seluruh hidupnya berpikir bahwa ia
bodoh.” Jika diberi cukup ruang dan diamati dengan jeli, setiap orang memiliki
keunggulan tersendiri. Jika potensi itu diberi ruang, disirami secara telaten,
diberi arah dan dorongan maka ia akan bersemi.
Dari segi pekerjaan, dengan diterapkannya filosofi Ki Hadjar
Dewantara, seorang pimpinan yang dapat menemukan/ menumbuhkan potensi terbaik
dari anggotanya, menurut hemat saya, dapat dikatakan pahlawan. Pahlawan dalam
artian untuk anggota yang setelah bertemu dengan mentor yang tepat merasa
menemukan semangat dan tujuan baru serta (mungkin) kemampuan baru yang sebelumnya
tidak disadari.
Pahlawan berasal dari bahasa Sansekerta ‘phala’ yang berarti
hasil atau buah. Pemimpin yang menumbuhkan harapan baru, bukankah telah
berhasil?
*Fenomena Super Bloom dapat Anda saksikan di sini: https://www.youtube.com/watch?v=w8-6u8KCRrw

(Hanifah Muslimah, Seksi Informasi Kanwil DJKN Lamkulu)
Sumber:
https://watersevenidn.wordpress.com/2018/06/01/tiga-filosofi-kepemimpinan-dan-pendidikan/
https://www.smithsonianmag.com/smart-news/death-valley-bursts-life-rare-super-bloom-180958194/
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |