Kinerja APBN Terjaga, Mendukung Program Prioritas Nasional dan Menjadi Katalis Pertumbuhan
Novika Diah Anggraeni Selasa, 30 September 2025 |
175 kali
Perkembangan APBN hingga 31
Agustus 2025
Realisasi Pendapatan Negara mencapai
Rp1.638,7 triliun (57,2?ri outlook berdasarkan
Lapsem 2025). Penerimaan
Pajak mencapai Rp1.135,4 triliun (54,7?ri outlook). Penerimaan
Pajak bruto s.d. Agustus 2025
untuk jenis pajak PPh Orang Pribadi, PPh Badan dan PBB tumbuh seiring
aktivitas ekonomi yang terus membaik, dan ditopang kinerja sektor utama
seperti pertambangan, perdagangan, pertanian, industri, dan perbankan.
Penerimaan Kepabeanan dan Cukai
mencapai Rp194,9triliun (62,8?ri outlook), tumbuh 6,4% (yoy). Bea Keluar tumbuh didorong kenaikan
harga dan volume ekspor sawit, Cukai tumbuh sebagai dampak perubahan
kebijakan penundaan pelunasan pita cukai. Sementara itu,kinerja Bea Masuk dipengaruhi kebijakan perdagangan di bidang
pangan.
Realisasi PNBP mencapai Rp306,8 triliun (64,3?ri outlook). Kinerja PNBP SDA Migas dipengaruhi
fluktuasi harga minyak dan gas bumi, sementara realisasi PNBP SDA
Nonmigas mayoritas dipengaruhi Harga Batubara Acuan (HBA) dan volume
produksi Batubara. Realisasi PNBP BLU dipengaruhi penurunan pendapatan
penyediaan jasa dan layanan telekomunikasi dan perbankan. Sementara PNBP
lainnya disumbang kenaikan Pendapatan Minyak Mentah (DMO) dan pendapatan
layanan PNBP K/L.
Belanja Negara terealisasi sebesar
Rp1.960,3 triliun (55,6?ri outlook), tumbuh 1,5% (yoy). Belanja Pemerintah Pusat terealisasi sebesar
Rp1.388,8 triliun (52,1?ri outlook), tumbuh 1,5% (yoy). Realisasi Belanja K/L sebesar Rp686,0 triliun (53,8?ri outlook), antara
lain dipengaruhi oleh penyaluran Bansos (PBI JKN, PKH, kartu sembako,
PIP, dan KIP Kuliah) yang semakin tepat sasaran melalui validasi Data
Tunggal Ekonomi Nasional (DTSEN) serta pelaksanaan program prioritas
Pemerintah. Belanja Non-K/L terealisasi sebesar Rp702,8 triliun (50,6?ri outlook), antara
lain dipengaruhi oleh pembayaran manfaat pensiun dan subsidi yang dibayarkan sesuai jadwal.
Transfer ke Daerah (TKD) terealisasi
Rp571,5 triliun (66,1?ri outlook), tumbuh 1,7% yoy. Realisasi TKD lebih tinggi dari periode yang
sama tahun sebelumnya karena adanya perbaikan penyampaian dan pemenuhan
syarat salur oleh Pemda. Peningkatan penyaluran TKD belum dibarengi
kinerja belanja daerah. Optimalisasi pelaksanaan APBD perlu terus didorong
untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Berbagai program prioritas terus
berlanjut dan memberi manfaat kepada masyarakat di seluruh
Indonesia. Program
Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga 8 September 2025 telah terealisasi sebesar Rp13triliun dan menjangkau 22,7 juta penerima
manfaat. Sekolah Rakyat yang telah beroperasi mencapai 100 sekolah dan
memberikan akses pendidikan bagi 9.780 siswa aktif, sementara Program
Revitalisasi Sekolah telah terealisasi Rp9,6 triliun untuk 10.440 satuan
pendidikan dan 2.120 madrasah. Dukungan APBN untuk program prioritas akan
memperkuat kualitas SDM, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta
menjadi penopang pertumbuhan ekonomi jangka menengah-panjang.
APBN sampai dengan 31 Agustusmencatat defisit yang terjaga
sebesar Rp321,6 triliun (1,35% PDB), dengan keseimbangan primer positif
sebesar Rp22,0 triliun. Pembiayaan anggaran terealisasi Rp425,7 triliun.
Pemenuhan pembiayaan APBN dilakukan hati-hati dan terukur di tengah
dinamika pasar keuangan.
Perkembangan Perekonomian
PMI Manufaktur global bulan Agustus
2025 kembali ekspansif di level 50,9 (Juli 49,7). Eropa mengalami ekspansi pertama
kalinya sejak Juni 2022. Negara lain yang juga berada di zona ekspansi
antara lain India, Australia, AS, dan Indonesia. PMI Manufaktur Indonesia
bulan Agustus sebesar 51,5. Sementara Jepang, Turki, Brazil dan Inggris
masih berada di zona kontraksi.
Prospek ekonomi global membaik, namun
ketidakpastian dan risiko eksternal perlu tetap diantisipasi. Dampak rambatan terhadap perekonomian
domestik perlu terus dimitigasi dengan kebijakan yang tepat untuk menjaga
momentum pertumbuhan. APBN yang sehat dan prudent diperlukan
sebagai enabler untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi
ke depan.
Harga komoditas masih fluktuatif
akibat konflik geopolitik dan prospek ekonomi global yang dinamis. Per 19 September 2025, harga minyak
Brent naik 1,4% month over month (mom) namun turun
14,8% year over year (yoy), harga Batubara turun 7,0%
(mom) dan turun 21,1% (yoy). Harga tembaga naik 2,6%
(mom) dan 3,6% (yoy), nikel naik 1,8% (mom) namun turun 10,9% (yoy),
sementara harga CPO naik 1,3% (mom) dan 16,6% (yoy).
Kinerja perdagangan Indonesia
tetap kuat di tengah perang tarif. Perkiraan surplus Neraca Perdagangan
Agustus 2025 sebesar USD5,3 miliar (data internal Kemenkeu). Neraca
perdagangan Januari s.d. Agustus 2025 (kumulatif) diperkirakan tumbuh
52,3% (yoy), dipengaruhi
oleh meningkatnya surplus non migas seiring penguatan ekspor sektor industri
dan pertanian. Di tengah meningkatnya risiko perdagangan, pemerintah terus
memperluas kerja sama global untuk menjaga resiliensi sektor perdagangan
Indonesia.
Di tengah volatilitas pasar keuangan
global, kinerja instrumen keuangan domestik tetap positif, ditopang oleh
kepercayaan investor yang terus membaik. Risiko Indonesia terjaga dengan currency
risk yang turun dan country risk yang stabil.
Pada 19 September 2025, nilai tukar rupiah berada di level Rp16.498 per
USD atau melemah 3,0% (ytd). Yield SBN berdenominasi
rupiah turun dari 6,97% di awal 2025 menjadi 6,28%, sementara spread terhadap
UST menyempit dari 240 bps menjadi 216 bps, sebuah pencapaian yang baik
dan merefleksikan cepatnya pemulihan kepercayaan investor.
Stabilitas country risk tercermin dari yield SBN
USD tenor 10 tahun yang turun dari 5,45% menjadi 4,92%, dengan spread terhadap
UST juga menurun dari 88 bps menjadi 79 bps. Angka ini termasuk salah satu
level terendah secara historis, dan diperkirakan akan terus membaik
seiring perbaikan ekonomi ke depan. Dari sisi arus dana, pasar SBN
mencatat inflow sebesar Rp42,6 triliun (ytd), sementara SRBI dan Saham
masih mengalami outflow masing-masing sebesar Rp119,6 triliun (ytd) dan
Rp58,7 triliun (ytd).
Inflasi Agustus 2025 di level
2,31 (yoy), stabil menopang daya beli masyarakat. Inflasi volatile food terus
dikendalikan dengan kebijakan intervensi harga dan penguatan peran Bulog,
sementara inflasi administered price terjaga didukung
kebijakan harga energi nasional yang mendukung daya beli masyarakat.
Berbagai indikator dini perekonomian
domestik menunjukkan kinerja positif pada bulan Agustus 2025. Tingkat keyakinan konsumen terhadap
kondisi ekonomi terjaga di level 117,2.Pertumbuhan penjualan ritel mencapai 2,7%
(yoy), sedikit menurun dampak normalisasi pasca masa liburan, Dari sisi
produksi, aktivitas manufaktur kembali ke level ekspansi pada level 51,5,
didorong oleh pertumbuhan produksi dan permintaan. Konsumsi listrik tumbuh positif
(bisnis 4,7% yoy dan industri 4,1% yoy), mencerminkan aktivitas ekonomi
terjaga.
Pemerintah berkomitmen
mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi melalui optimalisasi peran
sektor keuangan. Salah
satu langkah konkret adalah penempatan kas negara sebesar Rp200 triliun
pada bank-bank BUMN untuk menambah likuditas pasar. Penempatan dana
pemerintah tersebut diharapkan memperluas ruang penyaluran kredit, dan
mempercepat transmisi penurunan suku bunga. Kebijakan ini selaras dengan
pemangkasan suku bunga BI sebesar 25 bps pada RDG 16-17 September.
Peningkatan likuiditas dan turunnya cost of fund diproyeksikan
dapat mendorong konsumsi dan investasi, sehingga multiplier effect terhadap
pertumbuhan ekonomi semakin kuat. Pemerintah juga terus mendorong iklim
usaha yang kondusif dan memperkuat peran Danantara sebagai katalis untuk
me-leverage investasi swasta utamanya pada sektor-sektor
strategis yang memiliki nilai tambah tinggi.
Pemerintah meluncurkan 8
Program Paket Ekonomi Semester II 2025 yangmencakup program
magang fresh graduate lulusan Perguruan Tinggi, perluasan
insentif PPh 21 DTP, bantuan pangan, diskon iuran Jaminan Kecelakaan Kerja
(JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) bagi Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU)
transportasi online (termasuk Ojek Pangkalan, Supir,
Kurir, dan Logistik), manfaat layanan tambahan perumahan BPJS
ketenagakerjaan, padat karya tunai, percepatan deregulasi (implementasi
PP28/2025) dan program peningkatan kualitas permukiman dan penyediaan
tempat untuk Gig Economy.
Meskipun telah menurun
dibandingkan periode semester I, ketidakpastian global akibat perang
dagang, volatilitas pasar keuangan dan harga komoditas, serta tensi
geopolitik perlu terus diantisipasi dan dimitigasi. Perekonomian Indonesia
masih resilien baik dari sisi sektor ekonomi, sisi permintaan, maupun
kontribusi masing-masing daerah dan akan terus diperkuat dengan berbagai
stimulus pemerintah. Kinerja APBN hingga Agustus 2025
tercatat on track, dan akan terus dioptimalkan untuk mendukung
program prioritas nasional dan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi.
Kualitas Belanja Negara terus ditingkatkan dan dipercepat realisasinya,
sementara produktivitas Kas Negara terus dioptimalkan. Kinerja Pendapatan Negara terus dijaga dan
diperbaiki sejalan perkembangan kondisi ekonomi.