Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Kalimantan Timur dan Utara
Kepemimpinan Dalam Perspektif Manajemen SDM

Kepemimpinan Dalam Perspektif Manajemen SDM

Sigit Luhur Pambudi
Kamis, 05 Maret 2026 |   67 kali

Perubahan lingkungan kerja dan karakter pegawai saat ini menuntut setiap kantor memiliki gaya kepemimpinan yang bervariasi dan adaptif.  Pada era ini, seorang pimpinan tidak cukup hanya mengandalkan otoritas, tetapi juga perlu membangun network yang supportif dan positif dengan para pegawai. Akan tetapi, dalam network yang positif dan suportif itu harus ada sebuah batas ketegasan yang membedakan otoriter dalam setiap pengambilan keputusan. Dengan kata lain, selain menjadi seorang yang mudah bergaul atau friendly dengan pegawai, seorang pemimpin juga harus tetap menunjukkan otoritas dalam hal tertentu.

Sikap friendly dari pemimpin dapat terlihat melalui komunikasi yang terbuka dan bersifat dua arah, sikap menghargai pendapat, serta kepedulian terhadap kondisi pegawai. Pendekatan seperti ini cenderung cocok membantu menciptakan rasa nyaman dan meningkatkan keterlibatan pegawai dalam pekerjaan dengan syarat tidak melampaui batasan akan hal yang bersifat pribadi. Namun, jika sifat terbuka dan friendly tersebut tidak diimbangi dengan ketegasan, hubungan kerja berpotensi kehilangan batas profesional dan melemahkan disiplin.

Di sisi lain, batasan otoriter ketegasan di sini adalah wujud kejelasan arah dan konsistensi kepemimpinan. Pemimpin yang tegas mampu menetapkan aturan, target, serta konsekuensi secara objektif dan adil. Dalam perspektif manajemen SDM, keseimbangan antara sikap humanis dan ketegasan menjadi fondasi penting untuk menjaga kinerja tim sekaligus keharmonisan lingkungan kerja.

Kepemimpinan Berawal dari sebuah Sikap

William James, pelopor psikologi modern, menulis bahwa manusia dapat mengubah hidup mereka dengan cara mengubah sikap berpikirnya. Sikap kita akan menentukan tindakan kita. Tindakan kita akan menentukan pencapaian-pencapaian kita. Prinsip ini dapat dikembangkan bahwa kita harus menata hati kita lebih dahulu sebelum kita menata hidup kita. Dari kedalaman hati manusia yang penuh dengan kejahatan akan muncul hal yang jahat, sedangkan dari kedalaman hati manusia yang penuh dengan kebaikan akan muncul hal yang baik. Jadi penentunya adalah apa yang ada di dalam batin manusia. Perubahan sejati terjadi dari dalam ke luar. (Maxwell, J. C., Buku Catatan 3, Million Leaders Mandate).

Para pemimpin dituntut untuk mengetahui unsur penting dalam diri pegawai berpotensi dengan dasar hal berikut.

  1. Kesediaannya (availability)
  2. Hal dapat menyesuaikan dirinya (adaptability)
  3. Kemampuannya (ability)
  4. Penampilannya (appearance)
  5. Sikapnya (attitude)

Selain itu pemimpin juga dituntut untuk mengevaluasi orang yang akan dipertimbangkan untuk dipromosikan dalam pekerjaannya, antara lain sebagai berikut.

  1. Ambisinya
  2. Sikap terhadap kebijakan
  3. Sikapnya terhadap rekan kerja
  4. Ketrampilan kepemimpinannya
  5. Sikapnya terhadap tekanan yang ada dalam pekerjaan

Pemimpin membutuhkan visi yang akan selalu memberi petunjuk saat melaksanakan pekerjaannya. Apabila banyak peristiwa yang menekan mulai muncul, jika tanpa visi, maka ia tidak akan lama menjadi pemimpin. Semua pemimpin yang efektif punya suatu visi tentang apa yang akan mereka capai. Visi menjadi energi di balik setiap usaha dan menjadi daya pendorong semangat yang menular yang dapat dirasakan di tengah orang banyak sampai orang-orang lain ikut bangkit dan mengikuti sang pemimpin.

Inti dari Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) adalah bagaimana menjembatani kebutuhan organisasi dan kebutuhan/minat SDM itu sendiri.  Untuk itu, keberhasilan manajemen SDM adalah menempatkan pegawai yang tepat pada posisi yang tepat dan waktu yang tepat pula. “The right man in the right place at the right time.

Manfaat Kepemimpinan Friendly dan Tegas  

·         Membangun Suasana Kerja yang Kondusif

·         Pendekatan ramah menciptakan rasa nyaman, sementara ketegasan memastikan tata tertib kerja tetap terjaga

·         Memperkuat Kepercayaan dan Komitmen Pegawai

·         Pegawai cenderung lebih percaya dan berkomitmen kepada pimpinan yang konsisten, adil, dan komunikatif

·         Menjaga Kedisiplinan dan Akuntabilitas

·         Ketegasan membantu memperjelas peran, tanggung jawab, serta standar kinerja yang harus dicapai. Sehingga, tidak ada ketimpangan dan eksploitasi dalam internal perusahaan. 

·         Meningkatkan Sinergi dan Produktivitas Tim

·         Kombinasi empati dan ketegasan mendorong kolaborasi yang sehat tanpa mengabaikan target kerja 

·         Mendukung Pembentukan Budaya Kerja Profesional

·         Gaya kepemimpinan ini berkontribusi dalam membangun budaya kerja yang seimbang antara manusiawi dan berorientasi hasil

 

Referensi:

Maxwell, J. C. 1982. Mengembangkan Kepemimpinan di Dalam Diri Anda. Jakarta: Equipp. Zenger, J. H. dan J. Folkman, 2004, The Handbook for Leaders. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, Kelompok Gramedia.

 

Penulis:
Aziz Kurniawan (Kepala Subbagian Umum)

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon