Generasi Muda dan Aset Negara: Dari Pengetahuan Menuju Rasa Kepemilikan
Novika Diah Anggraeni
Senin, 01 Desember 2025 |
135 kali
Berbicara tentang Barang Milik Negara (BMN), sepertinya
sebagian besar narasi publik masih berpusat pada administrasi: kapan
dianggarkan, bagaimana dicatat, dan siapa yang mengelola. Narasi yang penting,
tetapi barangkali belum cukup menjangkau generasi muda yang hidup di era
digital, bergerak dalam pola konten yang serba cepat, visual, interaktif, dan
berorientasi pada dampak sosial. Padahal, generasi muda bukan hanya pengguna
terbesar fasilitas publik hari ini tapi dalam satu dekade mendatang mereka akan
menjadi penentu masa depan pengelolaan dan optimalisasi aset
negara.
BMN adalah aset yang diperoleh dari anggaran
negara, termasuk yang bersumber dari APBN maupun perolehan hukum lainnya
seperti hibah, sita, dan kerja sama pemanfaatan. Ia mencakup spektrum luas,
mulai dari tanah dan bangunan, kendaraan operasional, hingga sistem digital
yang memfasilitasi tata kelola aset. Karakter utamanya bukan terletak pada
label kepemilikan, tetapi pada mandat fungsinya sebagai pendukung layanan
publik. Dengan demikian, ketika BMN menjadi idle atau rusak, yang hilang bukan hanya
barangnya, tetapi peluang masyarakat untuk menerima manfaatnya.
DJKN telah melakukan digitalisasi penatausahaan aset, di antaranya dengan Sistem Informasi Manajemen
Aset Negara (SIMAN V2) yang memungkinkan integrasi data dan monitoring
real-time. Modernisasi ini merupakan lompatan strategis dalam transparansi dan
akuntabilitas informasi publik. Tantangan berikutnya bukan hanya
bagaimana data aset tersedia, melainkan bagaimana data itu membangun pengalaman
dan rasa terhubung generasi muda dengan aset negara. Di era engagement
economy, narasi yang berhasil bukan hanya yang dibaca, tetapi yang dirasakan
relevansinya.
Generasi muda memiliki kedekatan natural dengan
ruang publik, sekolah, kampus, layanan terpadu, jalan, taman kota, dan
fasilitas kesehatan. Semua ekosistem ini berjalan di atas aset yang
direncanakan, dianggarkan, diadakan, dan dipelihara melalui anggaran negara
yang berasal dari kontribusi publik. Artinya, BMN bukan sekadar pendukung kinerja
pemerintahan, ia adalah jaringan infrastruktur yang menopang kehidupan generasi
muda sendiri. Pemahaman ini perlu dibangun sejak dini sehingga mendukung keberlanjutan narasi
kepemilikan publik dan budaya pengawasan sosial atas aset negara.
Yang diperlukan bukan lagi sekadar kampanye “ayo
jaga aset”, melainkan pendekatan edukasi yang mengubah persepsi menjadi rasa kepemilikan
yang menjadi aksi kepedulian yang konstruktif. Anak muda tidak tertarik pada
aset karena istilahnya, tetapi karena pertanyaan besar: “Apa dampaknya buat
kita?” dan “Apa yang bisa kita lakukan biar aset ini lebih optimal?”. Maka, pesan
kunci untuk generasi muda tidak lagi “jaga dan gunakan sebaik-baiknya, jangan dirusak”,
tetapi “optimalkan jangan disia-siakan.” Ini adalah transisi narasi dari
kepatuhan administratif menuju kepedulian partisipatif.
Agar edukasi aset negara dapat viral dan relevan di
kelompok generasi muda, dapat dikembangkan komunikasi:
1. Storytelling Dampak, Bukan
Sekadar Definisi
Mulai dari konsekuensi, bukan dari konsep. Menjelaskan
bagaimana layanan publik dapat terganggu ketika aset negara rusak, dan
bagaimana keterlibatan publik bisa mengubah aset menjadi nilai sosial yang
nyata. Generasi muda ingin melihat urgensi lewat impact, bukan lewat
istilah.
2. “Ruang Kolaborasi” sebagai
Unit Pesan
Pemanfaatan aset perlu dinarasikan sebagai peluang
kolektif, bukan sekadar pekerjaan teknis. Aksi seperti pemanfaatan ruang publik
untuk kegiatan sosial-ekonomi komunitas, aktivasi kreatif, dan pemakaian
berkelanjutan harus disampaikan sebagai bukti bahwa aset negara bisa menjadi ruang
tumbuh bersama.
3. Edukasi Lapangan Berbasis
Experience
Bukan lewat kompetisi yang sekali selesai, tetapi
lewat co-creation experience berupa pelibatan komunitas muda dalam aksi
aktivasi sosial, narasi visual, dan dokumentasi perubahan value aset di
daerahnya. Anak muda tidak hanya ingin mendengar “aset ini penting”, mereka
ingin bisa menjadi bagian dari cerita perubahannya.
4. Seruan Kepemilikan dengan
Framing “You’ll Manage This One Day”
Narasi paling powerful bagi generasi muda adalah
pengingat bahwa mereka bukan hanya target pesan, tapi target masa depan
pengelolaan. Ketika mereka merasa “nanti gue juga yang ngurus”,
pemahaman berubah dari informasi menjadi kepemilikan mental.
Keberhasilan komunikasi yang sebelumnya terletak pada keterbukaan informasi dan transparansi kebijakan, berikutnya dapat bergeser pada pembentukan rasa kepemilikan dan pengalaman partisipatif, khususnya kepada generasi penerus. Ketika eduksi BMN dikemas sebagai narasi impact, peluang, dan ruang aksi bersama, generasi muda tidak hanya akan memahami aset negara, mereka akan merasa menjadi bagian dari keberlanjutannya. Menjaga aset negara bukan hanya tentang merawat barang hari ini, tetapi merawat peluang manfaat yang nanti akan dikelola sendiri oleh anak muda. Karena bukan sekadar benda, BMN adalah fondasi masa depan layanan publik Indonesia. (Tim Humas)
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |