Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Kalimantan Timur dan Utara
Generasi Muda dan Aset Negara: Dari Pengetahuan Menuju Rasa Kepemilikan

Generasi Muda dan Aset Negara: Dari Pengetahuan Menuju Rasa Kepemilikan

Novika Diah Anggraeni
Senin, 01 Desember 2025 |   135 kali

Berbicara tentang Barang Milik Negara (BMN), sepertinya sebagian besar narasi publik masih berpusat pada administrasi: kapan dianggarkan, bagaimana dicatat, dan siapa yang mengelola. Narasi yang penting, tetapi barangkali belum cukup menjangkau generasi muda yang hidup di era digital, bergerak dalam pola konten yang serba cepat, visual, interaktif, dan berorientasi pada dampak sosial. Padahal, generasi muda bukan hanya pengguna terbesar fasilitas publik hari ini tapi dalam satu dekade mendatang mereka akan menjadi penentu masa depan pengelolaan dan optimalisasi aset negara.

BMN adalah aset yang diperoleh dari anggaran negara, termasuk yang bersumber dari APBN maupun perolehan hukum lainnya seperti hibah, sita, dan kerja sama pemanfaatan. Ia mencakup spektrum luas, mulai dari tanah dan bangunan, kendaraan operasional, hingga sistem digital yang memfasilitasi tata kelola aset. Karakter utamanya bukan terletak pada label kepemilikan, tetapi pada mandat fungsinya sebagai pendukung layanan publik. Dengan demikian, ketika BMN menjadi idle atau rusak, yang hilang bukan hanya barangnya, tetapi peluang masyarakat untuk menerima manfaatnya.

DJKN telah melakukan digitalisasi penatausahaan aset, di antaranya dengan Sistem Informasi Manajemen Aset Negara (SIMAN V2) yang memungkinkan integrasi data dan monitoring real-time. Modernisasi ini merupakan lompatan strategis dalam transparansi dan akuntabilitas informasi publik. Tantangan berikutnya bukan hanya bagaimana data aset tersedia, melainkan bagaimana data itu membangun pengalaman dan rasa terhubung generasi muda dengan aset negara. Di era engagement economy, narasi yang berhasil bukan hanya yang dibaca, tetapi yang dirasakan relevansinya.

Generasi muda memiliki kedekatan natural dengan ruang publik, sekolah, kampus, layanan terpadu, jalan, taman kota, dan fasilitas kesehatan. Semua ekosistem ini berjalan di atas aset yang direncanakan, dianggarkan, diadakan, dan dipelihara melalui anggaran negara yang berasal dari kontribusi publik. Artinya, BMN bukan sekadar pendukung kinerja pemerintahan, ia adalah jaringan infrastruktur yang menopang kehidupan generasi muda sendiri. Pemahaman ini perlu dibangun sejak dini sehingga mendukung keberlanjutan narasi kepemilikan publik dan budaya pengawasan sosial atas aset negara.

Yang diperlukan bukan lagi sekadar kampanye “ayo jaga aset”, melainkan pendekatan edukasi yang mengubah persepsi menjadi rasa kepemilikan yang menjadi aksi kepedulian yang konstruktif. Anak muda tidak tertarik pada aset karena istilahnya, tetapi karena pertanyaan besar: “Apa dampaknya buat kita?” dan “Apa yang bisa kita lakukan biar aset ini lebih optimal?”. Maka, pesan kunci untuk generasi muda tidak lagi “jaga dan gunakan sebaik-baiknya, jangan dirusak”, tetapi “optimalkan jangan disia-siakan.” Ini adalah transisi narasi dari kepatuhan administratif menuju kepedulian partisipatif.

Agar edukasi aset negara dapat viral dan relevan di kelompok generasi muda, dapat dikembangkan komunikasi:

1. Storytelling Dampak, Bukan Sekadar Definisi

Mulai dari konsekuensi, bukan dari konsep. Menjelaskan bagaimana layanan publik dapat terganggu ketika aset negara rusak, dan bagaimana keterlibatan publik bisa mengubah aset menjadi nilai sosial yang nyata. Generasi muda ingin melihat urgensi lewat impact, bukan lewat istilah.

2. “Ruang Kolaborasi” sebagai Unit Pesan

Pemanfaatan aset perlu dinarasikan sebagai peluang kolektif, bukan sekadar pekerjaan teknis. Aksi seperti pemanfaatan ruang publik untuk kegiatan sosial-ekonomi komunitas, aktivasi kreatif, dan pemakaian berkelanjutan harus disampaikan sebagai bukti bahwa aset negara bisa menjadi ruang tumbuh bersama.

3. Edukasi Lapangan Berbasis Experience

Bukan lewat kompetisi yang sekali selesai, tetapi lewat co-creation experience berupa pelibatan komunitas muda dalam aksi aktivasi sosial, narasi visual, dan dokumentasi perubahan value aset di daerahnya. Anak muda tidak hanya ingin mendengar “aset ini penting”, mereka ingin bisa menjadi bagian dari cerita perubahannya.

4. Seruan Kepemilikan dengan Framing “You’ll Manage This One Day”

Narasi paling powerful bagi generasi muda adalah pengingat bahwa mereka bukan hanya target pesan, tapi target masa depan pengelolaan. Ketika mereka merasa “nanti gue juga yang ngurus”, pemahaman berubah dari informasi menjadi kepemilikan mental.

Keberhasilan komunikasi yang sebelumnya terletak pada keterbukaan informasi dan transparansi kebijakan, berikutnya dapat bergeser pada pembentukan rasa kepemilikan dan pengalaman partisipatif, khususnya kepada generasi penerus. Ketika eduksi BMN dikemas sebagai narasi impact, peluang, dan ruang aksi bersama, generasi muda tidak hanya akan memahami aset negara, mereka akan merasa menjadi bagian dari keberlanjutannya. Menjaga aset negara bukan hanya tentang merawat barang hari ini, tetapi merawat peluang manfaat yang nanti akan dikelola sendiri oleh anak muda. Karena bukan sekadar benda, BMN adalah fondasi masa depan layanan publik Indonesia. (Tim Humas)

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon