Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Kalimantan Timur dan Utara
Saat Air Mengajar Kita Lebih Peduli

Saat Air Mengajar Kita Lebih Peduli

Novika Diah Anggraeni
Kamis, 22 Mei 2025 |   200 kali


Pada dini hari Senin, 12 Mei 2025, langit Samarinda membuka tirainya dengan hujan deras yang turun tanpa ragu, terus-menerus, seolah bumi dipeluk langit dengan kasih sayang yang begitu intens. Dari Samarinda Kota hingga Samarinda Seberang, setiap sudut kota merasakan kehadiran air yang tak sekadar membasahi, tapi juga menggugah mata, hati dan nurani kita. Hujan deras yang bertepatan dengan Hari Raya Waisak, hari perenungan bagi umat Buddha yang menjelma menjadi panggung bagi introspeksi kolektif sebuah kota.

Data dari BMKG Samarinda mencatat bahwa empat kawasan mencatat curah hujan tertinggi di Kalimantan Timur: Lempake (153 mm/hari), Samarinda Utara (122 mm/hari), Samarinda Ulu (71 mm/hari), dan Sungai Kujang (66,3 mm/hari). Bukan sekadar angka, ini adalah suara langit yang berbicara dengan bahasa air, mengetuk kesadaran kita yang sering tertidur oleh rutinitas. Sayangnya, sebagian dari kita masih belum terbangun.Ketika sungai meluap, waduk melimpah, dan jalanan terendam, bukan hanya rumah yang diuji, tetapi juga karakter warga kota. Di balik genangan dan lumpur, Samarinda kembali menunjukkan ketangguhannya. Warga bahu membahu, saling bantu, menunjukkan bahwa solidaritas bukan hanya teori, tetapi denyut nadi kehidupan sehari-hari. Ada yang membuka rumah untuk tetangga, ada yang membagikan makanan, ada yang menenangkan anak-anak yang ketakutan. Bahkan di tengah duka, cahaya kemanusiaan tetap menyala.

Selain banjir, longsor juga terjadi di Jalan Delima dan Gunung Lingai, pohon-pohon tumbang di tanjakan Lubuk Sawah. Tapi kisah ini bukan hanya tentang kehilangan, melainkan juga tentang harapan. Bahwa tanah yang runtuh pun bisa menjadi pondasi bagi kebijakan yang lebih bijak, dan air mata bisa menjadi benih kesadaran baru.

Samarinda yang dilalui oleh banyak sungai-sungai kecil yang bermuara ke Sungai Mahakam, dengan panjang 920 km, kedalaman 30 meter, dan lebar mencapai 500 meter merupakan salah satu anugerah geografis yang luar biasa. Kota ini punya semua yang dibutuhkan untuk menjadi panutan pengelolaan air di Indonesia. Kota Samarinda telah berupaya memanfaatkan dengan baik potensi dari Sungai Mahakam itu diantaranya sebagai moda transportasi kapal- kapal tongkang yang menggendong berpuluhan ton bahkan ratusan ton hasil tambang batubara, lalulintas perdagangan barang dan jasa, kapal wisata, pelabuhan, dermaga, taman-taman dipinggiran sungai menambah suasana sejuk, nyaman, indah dan tempat healing yang menentramkan.

Warga Samarinda punya semangat gotong royong, kedekatan sosial, dan warisan budaya yang bisa menyatukan langkah. Langkah kecil bisa dimulai dari diri kita hari ini dengan tidak membuang sampah sembarangan, menjaga drainase tetap bersih, membangun rumah yang ramah lingkungan, menyediakan ruang resapan air dan mendukung langkah-langkah dan kebijakan pemerintah yang berpihak pada keberlanjutan. Pemerintah pun perlu menatap jauh ke depan membuat masterplan tata air, mengatur perizinan bangunan dengan tegas, dan mengajak investor ikut berkontribusi dalam pelestarian lingkungan.

Hujan tak bisa kita cegah, tapi dampak kerusakannya bisa kita minimalisir dan hindari. Banjir tak harus jadi bencana, ia bisa menjadi momentum untuk menyusun ulang hubungan kita dengan alam, mengevaluasi kebijakan dan tindakan yang selama ini dilakukan. Karena sejatinya, air datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk menyadarkan, bahwa masih ada yang perlu dievaluasi dan dibenahi. Ia adalah guru yang sabar, meski sering kita abaikan. Bencana tidak bisa dilawan namun kita masih bisa berusaha untuk meminimalisir dampak dan belajar untuk lebih peduli pada lingkungan dan memperbaiki hubungan dengan lingkungan/alam sekitar.

Kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya dari warga, tapi segenap masyarakat termasuk oganisasi dan kantor-kantor baik swasta maupun pemerintah. Kini saatnya kita menjauhkan kata-kata “langganan banjir,” dan tanamkan dalam benak kita kata-kata, “Samarinda adalah laboratorium peradaban yang sedang bangkit.” Karena kota yang hebat bukan yang kering dari tantangan, tapi yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang untuk tumbuh.

Kanwil DJKN Kalimantan Timur dan Utara yang berada di Jalan Juanda 6 Gunung Keloa, Kota Samarinda dengan kondisi geografis di area rendah yang rawan genangan banjir, merupakan salah satu instansi pemerintah yang telah menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan sekitar termasuk telah akrab dan siap merespon kondisi yang ada. Untuk memastikan keberlangsungan layanan saat terjadi bencana/kondisi darurat, Kanwil DJKN Kaltimtara juga telah menerapkan manajemen keberlangsungan bisnis untuk memberikan respon penanganan yang cepat saat terjadi bencana/kondisi darurat.

Bila terjadi bencana alam atau darurat, layanan terbaik tetap diberikan dengan tuntas. Adapun layanan tersebut seperti layanan online melalui portal lelang DJKN yaitu lelang.go.id, https://s.id/apt_kaltimtara, email kanwildjkn13@kemenkeu.go.id, sambungan telepon (0541) 4113344, WhatsApp 082153383008 atau layanan langsung di kantor dengan petugas yang selalu siap memberikan layanan dengan salam, senyum dan sapa.

Penulis : Edi Haryono, Pegawai Seksi Hukum pada Bidang KIHI, Kantor Wilayah DJKN Kalimantan Timur dan Utara



Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon