Yuk, Kurangi Produksi Sampah dengan Konsep Zero Waste Lifestyle
Arum Ratna Dewi
Kamis, 18 Juli 2024 |
1533 kali
Sekitar 72 persen masyarakat Indonesia masih belum
peduli terhadap sampah plastik menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan (KLHK). Jika dilihat di lingkungan sekitar yang paling dekat dengan
kita masih banyak orang yang sembarangan membuang sampah plastik.
Kantong plastik dibuat dengan tujuan untuk dipakai
berulang kali, tetapi seiring berjalannya waktu orang-orang menggunakan kantong
plastik hanya sekali pakai. Padahal, plastik merupakan penyumbang terbesar
pencemaran lingkungan dan sulit terurai dalam tanah. Tulisan pengingat untuk
menyelamatkan bumi dan peduli lingkungan sudah disebar di mana-mana. Banyak
orang mengunggah tagar save the earth
di media sosial, tetapi masih banyak orang yang belum menerapkannya dikehidupan
sehari-hari, bahkan hanya sekadar untuk menghasilkan sampah seminimal mungkin
masih kurang.
Gerakan zero
waste lifestyle yang sudah mulai digalakkan merupakan solusi yang perlu
diketahui oleh semua orang untuk melindungi bumi dari pencemaran sampah. Zero waste lifestyle merupakan gaya
hidup sadar untuk mengurangi penggunaan produk sekali pakai agar meminimalkan
sampah yang kita hasilkan. Banyak orang mengira konsep zero waste lifestyle sama dengan menghasilkan nol sampah sehingga
sangat tidak mungkin untuk di terapkan. Tetapi pada dasarnya sangat mudah untuk
menerapkan zero waste lifestyle mulai
dari hal-hal kecil di sekitar kita.
1.
Menolak (Refuse)
Menolak
sesuatu yang tidak kita butuhkan, misalnya saat kita pergi ke restoran atau
kafe memilih untuk tidak menggunakan sedotan sekali pakai. Ketika kita
berbelanja di supermarket atau di toko-toko kecil di sekitar rumah kita bisa
menolak menggunakan kantong plastik dengan membawa tas yang bisa dipakai ulang.
Kita juga bisa untuk menolak membeli air mineral kemasan dengan membawa air
sendiri menggunakan botol minum, menolak membeli makanan yang menggunakan
kemasan plastik dan lebih memilih untuk memasak sendiri, mengurangi penggunaan
kertas jika masih bisa diganti dengan bentuk digital, dan lain-lain.
2.
Mengurangi (Reduce)
Konsep
gaya hidup zero waste sangat dekat
dengan gaya hidup minimalis yang sedang menjadi tren di Indonesia. Sama dengan
konsep minimalis, kita juga harus mengurangi pembelian sebuah barang. Dengan menekan pembelian benda atau barang,
tidak banyak sampah yang harus kita buang di kemudian hari. Misalnya, dengan
kesadaran untuk memiliki pakaian secukupnya saja akan mengurangi pembelian
pakaian secara berlebihan sehingga sampah tekstil yang kita hasilkan di
kemudian hari hanya sedikit.
Selain
itu, kita juga bisa mengurangi produk yang kita gunakan sehari-hari untuk
meminimalkan sampah, seperti mengurangi penggunaan tissue kalau bisa diganti dengan kain lap, mengurangi sampah
plastik untuk makanan dengan membawa botol minum dan tempat makan yang bisa
dipakai ulang, mengurangi pemakaian produk yang menggunakan kemasan plastik.
3.
Menggunakan
kembali (Reuse)
Menggunakan
kembali benda atau barang yang kita miliki sampai rusak dan tidak bisa
digunakan kembali. Kita menggunakan botol air minum, tempat makan, sedotan
stainless, tas yang bisa dipakai ulang untuk mengurangi sampah plastik, tetapi
apabila kita memiliki barang-barang tersebut secara berlebihan juga akan
menumpuk dan menjadi sampah. Sebaiknya, miliki barang tidak lebih dari dua
serta baru membeli yang baru jika barang yang lama sudah rusak.
4.
Mendaur Ulang (Recycle)
Jika
masih menghasilkan sampah, maka sampah-sampah tersebut sebaiknya dapat kita
kelola dengan baik dengan memilah-milah sampah. Sampah kering seperti kertas,
kemasang karton, botol-botol produk bodycare,
botol kaca, kantong plastik, dan lain-lain bisa dikumpulkan terlebih dahulu dan
membuangnya secara terpisah dengan sampah basah agar masih bisa di daur ulang.
Selain itu, sampah anorganik juga bisa dimanfaatkan untuk membuat kerajinan
atau diy yang dapat bermanfaat.
Untuk sampah
organik seperti sisa buah, sayur, daun kering, sisa makanan dapat kita
manfaatkan untuk membuat kompos. Jika tidak mau membuat kompos, sampah tersebut
dipisahkan dengan sampah anorganik sehingga dapat terurai di tanah dengan baik.
Jika dibandingkan dengan Jepang dan Korea Selatan,
Indonesia masih ketinggalan dalam mengelola sampah. Pemerintah Korea Selatan menerapkan
program membayar untuk membuang sampah-sampah yang dihasilkan. Oleh karena itu,
kita sebagai warga negara Indonesia harus memiliki kesadaran sendiri untuk
mengurangi sampah yang kita hasilkan. Menjalani zero waste lifestyle jangan dianggap sebagai beban, kita bisa
memulai dengan hal-hal kecil yang paling dekat dengan kehidupan kita kemudian
bisa mengajak orang-orang sekitar untuk melakukan hal yang sama. Apabila semua
orang menerapkan konsep zero waste
lifestyle maka kita juga akan membantu menjaga kelestarian lingkungan.
Penulis: Faranisa Haqi Rohmah – Bidang Pengelolaan Kekayaan
Negara
Sumber:
https://www.centerforecotechnology.org/zero-waste-lifestyle/
https://www.aetra.co.id/sahabat_aetra/detail/56/6-R-Reduce-Reuse-Recycle-Repair-Refuse-Rethink-
https://www.jaringanprima.co.id/id/kenali-minimalism-lifestyle-dengan-gerakan-zero-waste
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |