Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Kalimantan Timur dan Utara
Yuk, Kurangi Produksi Sampah dengan Konsep Zero Waste Lifestyle

Yuk, Kurangi Produksi Sampah dengan Konsep Zero Waste Lifestyle

Arum Ratna Dewi
Kamis, 18 Juli 2024 |   1533 kali

Sekitar 72 persen masyarakat Indonesia masih belum peduli terhadap sampah plastik menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Jika dilihat di lingkungan sekitar yang paling dekat dengan kita masih banyak orang yang sembarangan membuang sampah plastik.

Kantong plastik dibuat dengan tujuan untuk dipakai berulang kali, tetapi seiring berjalannya waktu orang-orang menggunakan kantong plastik hanya sekali pakai. Padahal, plastik merupakan penyumbang terbesar pencemaran lingkungan dan sulit terurai dalam tanah. Tulisan pengingat untuk menyelamatkan bumi dan peduli lingkungan sudah disebar di mana-mana. Banyak orang mengunggah tagar save the earth di media sosial, tetapi masih banyak orang yang belum menerapkannya dikehidupan sehari-hari, bahkan hanya sekadar untuk menghasilkan sampah seminimal mungkin masih kurang.

Gerakan zero waste lifestyle yang sudah mulai digalakkan merupakan solusi yang perlu diketahui oleh semua orang untuk melindungi bumi dari pencemaran sampah. Zero waste lifestyle merupakan gaya hidup sadar untuk mengurangi penggunaan produk sekali pakai agar meminimalkan sampah yang kita hasilkan. Banyak orang mengira konsep zero waste lifestyle sama dengan menghasilkan nol sampah sehingga sangat tidak mungkin untuk di terapkan. Tetapi pada dasarnya sangat mudah untuk menerapkan zero waste lifestyle mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita.

1.      Menolak (Refuse)

Menolak sesuatu yang tidak kita butuhkan, misalnya saat kita pergi ke restoran atau kafe memilih untuk tidak menggunakan sedotan sekali pakai. Ketika kita berbelanja di supermarket atau di toko-toko kecil di sekitar rumah kita bisa menolak menggunakan kantong plastik dengan membawa tas yang bisa dipakai ulang. Kita juga bisa untuk menolak membeli air mineral kemasan dengan membawa air sendiri menggunakan botol minum, menolak membeli makanan yang menggunakan kemasan plastik dan lebih memilih untuk memasak sendiri, mengurangi penggunaan kertas jika masih bisa diganti dengan bentuk digital, dan lain-lain.

2.      Mengurangi (Reduce)

Konsep gaya hidup zero waste sangat dekat dengan gaya hidup minimalis yang sedang menjadi tren di Indonesia. Sama dengan konsep minimalis, kita juga harus mengurangi pembelian sebuah barang.  Dengan menekan pembelian benda atau barang, tidak banyak sampah yang harus kita buang di kemudian hari. Misalnya, dengan kesadaran untuk memiliki pakaian secukupnya saja akan mengurangi pembelian pakaian secara berlebihan sehingga sampah tekstil yang kita hasilkan di kemudian hari hanya sedikit.

Selain itu, kita juga bisa mengurangi produk yang kita gunakan sehari-hari untuk meminimalkan sampah, seperti mengurangi penggunaan tissue kalau bisa diganti dengan kain lap, mengurangi sampah plastik untuk makanan dengan membawa botol minum dan tempat makan yang bisa dipakai ulang, mengurangi pemakaian produk yang menggunakan kemasan plastik.

3.      Menggunakan kembali (Reuse)

Menggunakan kembali benda atau barang yang kita miliki sampai rusak dan tidak bisa digunakan kembali. Kita menggunakan botol air minum, tempat makan, sedotan stainless, tas yang bisa dipakai ulang untuk mengurangi sampah plastik, tetapi apabila kita memiliki barang-barang tersebut secara berlebihan juga akan menumpuk dan menjadi sampah. Sebaiknya, miliki barang tidak lebih dari dua serta baru membeli yang baru jika barang yang lama sudah rusak.

4.      Mendaur Ulang (Recycle)

Jika masih menghasilkan sampah, maka sampah-sampah tersebut sebaiknya dapat kita kelola dengan baik dengan memilah-milah sampah. Sampah kering seperti kertas, kemasang karton, botol-botol produk bodycare, botol kaca, kantong plastik, dan lain-lain bisa dikumpulkan terlebih dahulu dan membuangnya secara terpisah dengan sampah basah agar masih bisa di daur ulang. Selain itu, sampah anorganik juga bisa dimanfaatkan untuk membuat kerajinan atau diy yang dapat bermanfaat.

Untuk sampah organik seperti sisa buah, sayur, daun kering, sisa makanan dapat kita manfaatkan untuk membuat kompos. Jika tidak mau membuat kompos, sampah tersebut dipisahkan dengan sampah anorganik sehingga dapat terurai di tanah dengan baik.

Jika dibandingkan dengan Jepang dan Korea Selatan, Indonesia masih ketinggalan dalam mengelola sampah. Pemerintah Korea Selatan menerapkan program membayar untuk membuang sampah-sampah yang dihasilkan. Oleh karena itu, kita sebagai warga negara Indonesia harus memiliki kesadaran sendiri untuk mengurangi sampah yang kita hasilkan. Menjalani zero waste lifestyle jangan dianggap sebagai beban, kita bisa memulai dengan hal-hal kecil yang paling dekat dengan kehidupan kita kemudian bisa mengajak orang-orang sekitar untuk melakukan hal yang sama. Apabila semua orang menerapkan konsep zero waste lifestyle maka kita juga akan membantu menjaga kelestarian lingkungan. 

 

Penulis: Faranisa Haqi Rohmah – Bidang Pengelolaan Kekayaan Negara

 

Sumber:

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190821164641-199-423470/klhk-72-persen-masyarakat-tak-peduli-dengan-sampah-plastik

https://www.kompas.com/skola/read/2020/05/03/123000269/kantong-plastik-awalnya-dibuat-untuk-selamatkan-bumi?page=all#:~:text=Dilansir BBC, kantong plasik pertama,Penemuannya dipatenkan pada 1965.&text=Pada awalnya dibuat untuk menyelamatkan,proses produksinya mengancam keberlanjutan alam.

https://www.centerforecotechnology.org/zero-waste-lifestyle/

https://www.aetra.co.id/sahabat_aetra/detail/56/6-R-Reduce-Reuse-Recycle-Repair-Refuse-Rethink-

https://www.jaringanprima.co.id/id/kenali-minimalism-lifestyle-dengan-gerakan-zero-waste

https://finoo.id/blog/zero-waste-lifestyle-adalah/

https://medium.com/mallsampah/selain-k-pop-pengelolaan-sampah-korea-selatan-juga-patut-diacungi-jempol-e0142dbe493#:~:text=Pemerintah Korea Selatan mengeluarkan program,sebuah alat pengolahan sampah khusus.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon