Wamenkeu Juda : Realisasi Pembiayaan APBN 2026 Terkendali
Yuniarti
Kamis, 12 Maret 2026 |
56 kali
Jakarta, 11/03/2026 Kemenkeu - Realisasi
pembiayaan APBN tahun 2026 masih terjaga dengan baik dan berada dalam batas
yang terkendali. Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu)
Juda Agung dalam Konferensi Pers APBN Kita di Jakarta pada Rabu (11/03).
“Strategi pembiayaan dilakukan secara antisipatif,
yaitu untuk memastikan ketersediaan kas tetap memadai, sekaligus menjaga
fleksibilitas pembiayaan untuk merespons dinamika pasar yang sedang terjadi,”
ungkap Wamenkeu Juda.
Hingga 28 Februari 2026, realisasi pembiayaan
anggaran sebesar Rp164,2 triliun atau sekitar 23,5 persen dari target yang
ditetapkan dalam APBN. Besaran realisasi tersebut terdiri atas pembiayaan utang
sebesar Rp185,3 triliun dan pembiayaan non utang negatif Rp21,1 triliun.
Sebagian besar pembiayaan utang masih ditopang
oleh pendanaan dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dengan minat investor
yang tetap tinggi. Hal ini tercermin dari bid to cover ratio untuk Surat Utang
Negara (SUN) yang tetap terjaga di atas dua kali. Sementara itu, untuk Surat
Berharga Syariah Negara (SBSN) rasio tersebut bahkan mencapai 3,1 kali. Capaian
ini juga tercatat lebih baik dibandingkan periode yang sama pada tahun
sebelumnya.
“Ini juga menunjukkan bahwa minat dan kepercayaan
investor terhadap fundamental perekonomian kita masih terjaga di tengah
dinamika pasar keuangan global yang sangat penuh dengan ketidakpastian,” jelas
Wamenkeu Juda.
Minat investor asing terhadap SBN juga tetap
terjaga. Bid to cover ratio investor asing untuk SUN tercatat sebesar 2,4 kali,
sedangkan untuk SBSN mencapai 2,8 kali. Angka ini menunjukkan peningkatan
dibandingkan tahun lalu. Pemerintah juga melakukan penerbitan SBN di pasar
global pada Februari lalu melalui penerbitan obligasi dalam dua mata uang,
yaitu renminbi (CNH) dan euro.
Di sisi lain, perkembangan pasar SBN masih
dipengaruhi oleh dinamika global yang cukup volatile. Secara year-to-date,
imbal hasil SBN tercatat meningkat sekitar 55 basis poin, yang turut mendorong
pelebaran spread yield SBN terhadap US Treasury. Per 6 Maret 2026, spread SBN
tenor 10 tahun terhadap US Treasury tercatat sekitar 243 basis poin sebagai
bagian dari penyesuaian terhadap kondisi pasar global.
“Posisi spread Indonesia masih berada pada
level yang kompetitif. Pemerintah bersama BI, OJK, dan pihak terkait akan terus
memantau perkembangan tersebut untuk memastikan stabilitas pasar keuangan
domestik,” pungkas Wamenkeu Juda. (dj/al)
Foto Terkait Berita