Ketika Kolaborasi, Integritas, dan Adaptasi Menjadi Sorotan: Mewujudkan Penilaian Perilaku yang Lebih Objektif
Yuniarti
Rabu, 30 September 2026 |
56 kali
"Saya bekerja keras dan
target selalu tercapai. Bukankah itu sudah cukup?"
Pertanyaan
seperti ini mungkin pernah terlintas dalam benak banyak pegawai. Selama
bertahun-tahun, ukuran keberhasilan sering kali identik dengan angka, target,
dan penyelesaian pekerjaan. Padahal dalam sebuah organisasi, terutama
organisasi sebesar Kementerian Keuangan, keberhasilan tidak hanya ditentukan
oleh apa yang berhasil dicapai, tetapi juga oleh bagaimana cara mencapainya.
Inilah
semangat yang diusung dalam KMK 127 Tahun 2026 tentang Manajemen Kinerja di
Lingkungan Kementerian Keuangan. Peraturan ini menempatkan perilaku kerja
sebagai salah satu pilar utama dalam penilaian kinerja pegawai. Bahkan,
perilaku kerja tidak lagi dipandang sebagai pelengkap dari hasil kerja,
melainkan sebagai faktor penting yang turut menentukan kualitas seorang pegawai.
Ketika Penilaian Tidak Lagi
Hanya Datang dari Atasan Langsung
Bayangkan
seorang pegawai yang selalu tampak profesional ketika berhadapan dengan
pimpinan. Pegawai tersebut hadir tepat waktu dalam rapat, memberikan laporan
dengan baik, dan aktif menyampaikan ide.
Namun bagaimana ketika bekerja
bersama tim?
Apakah ia mau berbagi
pengetahuan?
Apakah ia menghargai pendapat
rekan kerja?
Apakah ia membantu anggota tim
yang mengalami kesulitan?
Pertanyaan-pertanyaan
ini sering kali tidak sepenuhnya bisa dijawab hanya oleh atasan langsung.
Karena itulah sistem penilaian perilaku dalam KMK 127 Tahun 2026 menggunakan
pendekatan 360 derajat, yaitu penilaian yang melibatkan lebih dari satu
perspektif.
Melalui pendekatan ini,
perilaku seorang pegawai dapat dinilai oleh:
1. Atasan
Langsung
Atasan Langsung merupakan pihak yang melakukan supervisi langsung terhadap pekerjaan pegawai. Atasan Langsung menilai bagaimana pegawainya melaksanakan tugas, menunjukkan tanggung jawab, dan menjalankan perannya dalam organisasi.
2. Rekan
Kerja (Peers)
Rekan kerja adalah pegawai yang memiliki hubungan kerja dan interaksi sehari-hari dengan pegawai yang dinilai. Mereka melihat langsung bagaimana seseorang bekerja dalam tim, menyelesaikan permasalahan, berkomunikasi, dan berkolaborasi.
3. Bawahan
Khusus bagi pejabat yang memiliki bawahan, perspektif
bawahan menjadi sumber informasi yang sangat berharga. Mereka dapat menilai
apakah seorang pimpinan mampu memberikan arahan, menjadi teladan, dan menciptakan
lingkungan kerja yang sehat.
Bagi
pejabat struktural, komposisi evaluator secara umum terdiri dari atasan
langsung, dua rekan kerja, dan dua bawahan. Sedangkan bagi pelaksana dan
sebagian pejabat fungsional, penilaian dilakukan oleh atasan langsung dan rekan
kerja.
Pendekatan
ini membuat penilaian perilaku menjadi lebih objektif. Seseorang tidak dapat
memperoleh nilai tinggi hanya karena dekat dengan atasan langsung, tetapi juga
harus mampu menunjukkan perilaku positif kepada seluruh lingkungan kerjanya.
Bukan Soal Suka atau Tidak
Suka
Salah
satu kekhawatiran yang sering muncul ketika mendengar istilah penilaian 360
derajat adalah munculnya penilaian yang subjektif. Namun sistem ini tidak
dibangun berdasarkan perasaan suka atau tidak suka. Sebaliknya, Kementerian
Keuangan telah menetapkan serangkaian perilaku kunci (anchor behaviour)
yang menjadi pedoman bagi evaluator dalam memberikan penilaian. Dengan kata
lain, yang dinilai bukan kepribadian seseorang, melainkan perilaku nyata yang
ditunjukkan selama bekerja.
Berorientasi Pelayanan:
Melayani dengan Lebih Baik Setiap Hari
Perilaku
pertama yang menjadi perhatian adalah berorientasi pelayanan. Nilai ini tidak
hanya relevan bagi unit yang memberikan layanan kepada masyarakat, tetapi juga
dalam hubungan antarpegawai.
Pegawai
diharapkan mampu memberikan layanan yang tepat dan akurat, bersikap adil kepada
semua pihak, responsif terhadap kebutuhan pengguna layanan, serta terus
melakukan perbaikan dari waktu ke waktu.
Di era
transformasi birokrasi, pelayanan tidak lagi hanya tentang menyelesaikan
pekerjaan. Pelayanan adalah tentang menghadirkan pengalaman yang memudahkan,
membantu, dan memberikan nilai tambah.
Kompeten: Tidak Berhenti
Belajar
Dunia
kerja terus berubah. Teknologi berkembang cepat, proses bisnis semakin
kompleks, dan tuntutan stakeholders semakin tinggi. Karena itu, perilaku kompeten
menjadi salah satu nilai yang sangat penting. Pegawai tidak hanya diharapkan
mampu menyelesaikan tugasnya, tetapi juga terus belajar, meningkatkan
kompetensi, berbagi pengetahuan, dan mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki
untuk menghasilkan kinerja terbaik. Pegawai yang kompeten tidak merasa cukup
dengan pengetahuan hari ini. Mereka selalu berusaha menjadi lebih baik
dibandingkan kemarin.
Kolaboratif dan Harmonis:
Tidak Ada Keberhasilan yang Dicapai Sendiri
Banyak
pekerjaan di lingkungan Kementerian Keuangan melibatkan koordinasi lintas
bidang, lintas unit, bahkan lintas instansi. Dalam kondisi seperti ini,
kemampuan bekerja sama menjadi sangat penting.
Perilaku
kolaboratif dan harmonis tercermin melalui sikap kooperatif, terbuka terhadap
ide orang lain, menghargai perbedaan, memberikan dukungan kepada rekan kerja,
dan membangun hubungan yang sehat di lingkungan kerja.
Seseorang
mungkin sangat cerdas secara individu. Namun apabila sulit diajak bekerja sama,
hasil yang dicapai organisasi belum tentu optimal. Karena itulah kolaborasi
kini menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian perilaku.
Adaptif: Siap Menghadapi
Perubahan
Transformasi
digital telah mengubah hampir seluruh aspek pekerjaan. Cara kerja yang efektif
lima tahun lalu belum tentu masih relevan saat ini. Melalui aspek adaptif,
pegawai dinilai dari kemampuannya menerima perubahan, memperbarui pengetahuan,
mencari peluang perbaikan, dan berinisiatif menemukan solusi ketika menghadapi
tantangan. Perubahan bukan lagi sesuatu yang harus ditakuti. Sebaliknya,
perubahan menjadi kesempatan untuk berkembang dan menciptakan cara kerja yang
lebih baik.
Akuntabel dan Loyal: Fondasi
Integritas
Di
antara seluruh perilaku yang dinilai, aspek integritas menjadi salah satu yang
paling mendasar. Perilaku akuntabel dan loyal diwujudkan melalui keberanian
menyampaikan fakta, ketaatan terhadap aturan, kemampuan menjaga kerahasiaan
informasi, transparansi, dan tanggung jawab terhadap amanah yang diberikan.
Tidak
mengherankan jika pelanggaran disiplin dapat secara langsung mempengaruhi nilai
perilaku pegawai. Sebab pada akhirnya, organisasi yang dipercaya publik adalah
organisasi yang diisi oleh individu-individu yang berintegritas.
Kepemimpinan yang Dinilai dari
Tindakan
Khusus
bagi pejabat yang memimpin unit atau tim, aspek kepemimpinan juga menjadi
bagian dari penilaian perilaku. Yang dinilai bukan hanya kemampuan mengambil
keputusan, tetapi juga kemampuan membimbing, mendengarkan, mengembangkan
pegawai, memberikan apresiasi, dan menciptakan perubahan positif. Dengan kata
lain, seorang pemimpin tidak dinilai dari jabatannya, tetapi dari pengaruh
positif yang ia berikan kepada orang-orang di sekitarnya.
Karena Kinerja Bukan Hanya
Tentang Hasil
Sistem
penilaian perilaku dalam KMK 127 Tahun 2026 mengajarkan sebuah pesan sederhana
namun sangat penting : hasil kerja dan perilaku kerja tidak dapat dipisahkan.
Target yang tercapai memang penting. Tetapi organisasi juga membutuhkan pegawai
yang mampu bekerja sama, melayani dengan tulus, menjaga integritas, belajar
terus-menerus, dan menghadapi perubahan dengan sikap positif.
Karena
itu, ketika rekan kerja, bawahan, dan atasan langsung bersama-sama memberikan
penilaian, yang sebenarnya sedang diukur bukan sekadar perilaku sesaat. Yang
sedang diukur adalah reputasi positif yang kita bangun setiap hari melalui
tindakan nyata.
Referensi : Keputusan Menteri Keuangan Nomor 127 Tahun 2026 tentang Manajemen Kinerja di Lingkungan Kementerian Keuangan.
Penulis : Fitri Nurul Syahadah
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |