MAGNET DI TANJUNG PUTING
Evi Rahmawati
Kamis, 02 Oktober 2025 |
697 kali
Kanwil DJKN
Kalimantan Selatan dan Tengah, Direktorat Penilaian, KPKNL Pangkalan Bun, KPKNL
Palangkaraya, serta KPKNL Banjarmasin berkolaborasi melaksanakan kegiatan
penilaian Sumber Daya Alam (SDA) di Taman Nasional Tanjung Puting pada tanggal
18–26 September 2025. Penilaian SDA hayati pada kawasan hutan konservasi ini
merupakan salah satu inisiatif strategis (IS) Kementerian Keuangan sekaligus
proyek unggulan DJKN tahun 2025. Kegiatan ini bertujuan memperoleh gambaran
nilai ekonomi jasa ekosistem yang disediakan oleh hutan konservasi Taman
Nasional Tanjung Puting (TNTP).
Sekilas
tentang Taman Nasional Tanjung Puting
Taman Nasional
Tanjung Puting ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor
687/Kpts-II/1996 dengan total luas awal 415.040 hektar. Dalam perjalanannya,
dinamika pengukuhan kawasan berdampak pada perubahan batas dan luas, hingga
akhirnya menjadi 412.240,53 hektar dengan sistem zonasi pengelolaan tertentu.
Taman Nasional
Tanjung Puting memiliki 3 fungsi utama, yakni, perlindungan sistem penyangga
kehidupan, keragaman jenis tumbuhan, satwa dan pemanfaatan secara lestari
sumber daya alam hayati beserta eksosistemnya.
TNTP menyandang dua
pengakuan internasional penting sebagai Cagar Biosfer (1977) melalui program Man
and The Biosphere (MAB-UNESCO) yang mempromosikan konservasi keanekaragaman
hayati dan pembangunan berkelanjutan dan Ramsar Site (2013) yang
meningkatkan kredibilitas Indonesia dalam pengelolaan kawasan konservasi lahan
basah.
Selain status
internasional tersebut, TNTP juga menyimpan beragam daya tarik wisata, antara
lain : Susur Sungai Sekonyer,Jalur
Trekking, Feeding Site (Tanjung
Harapan, Pondok Tanggui, dan Camp Leakey), Pengamatan satwa liar,
Demplot anggrek dan Pusat informasi di Tanjung Harapan dan Camp Leakey.
Taman Nasional
Tanjung Puting (TNTP) merupakan pusat rehabilitasi orangutan pertama di
Indonesia. Kepala TNTP, Yuhan Hendratmoko, S.Hut., M.Si., menyampaikan,
“Berbicara tentang TNTP berarti berbicara mengenai wisata alam, bukan sekadar
wisata biasa. Ekosistem hutan di TNTP menghadirkan keunikan tersendiri, mulai
dari hutan dataran rendah, hutan gambut, hingga hutan kerangas. Pada siang
hari, panasnya cuaca membuat tanah berpasir terasa membara—itulah kondisi khas
hutan di Kalimantan. Penilaian sumber daya alam (SDA) di TNTP, khususnya
terkait nilai ekonomi dan jasa lingkungan lainnya, sangat bermanfaat bagi Balai
TNTP dalam proses penganggaran di Bappenas. Namun, posisi tawar (bargaining
position) masih belum termonetisasi secara optimal karena data yang
tersedia belum signifikan, sehingga nilai SDA yang tercatat masih terlihat
kecil.” ujarnya.
Yuhan menambahkan,
“Cerita-cerita seru yang dialami teman-teman di TNTP akan menjadi pengalaman
berharga serta kenangan indah yang layak dikenang. Bukan hanya sekali, kenangan
itu justru menjadi alasan untuk kembali berkunjung dan mengulang pengalaman di
TNTP.”
Sementara itu, Ketua
Tim Penilaian yang juga menjabat sebagai Penilai
Pemerintah Ahli Madya, Esap Mundi Hartono, menyampaikan
bahwa Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) berupaya memotret nilai
ekonomi yang dimiliki TNTP. Ia mengakui masih terdapat sejumlah keterbatasan
dalam persiapan di lapangan, namun dukungan penuh dari Balai TNTP sangat memudahkan
proses penilaian.
"Tim bekerja
dengan penuh semangat dan kehati-hatian, dengan harapan perjalanan seru kali
ini tidak hanya menghasilkan temuan berharga, tetapi juga memberi dampak
positif bagi upaya pelestarian hutan di tingkat nasional."
Apresiasi
Spesies Kunci: Orangutan
Salah satu fokus
utama penilaian adalah spesies kunci orangutan (Pongo pygmaeus). Tim
menggunakan pendekatan Contingent Valuation Method (CVM) dengan
menanyakan kesediaan masyarakat membayar (willingness to pay/WTP) iuran
sukarela untuk konservasi orangutan.
Survei dilakukan pada
desa/kelurahan penyangga TNTP, yaitu Kumai Hulu, Kumai Hilir, Candi, Sungai
Kapitan, dan Sungai Sekonyer, dengan populasi total 28.376 jiwa (BPS, 2023).
Jumlah sampel dihitung menggunakan rumus Slovin (margin of error 10%),
menghasilkan 100 responden, yang kemudian dibagi proporsional di tiap desa.
Teknik pengambilan sampel dilakukan secara insidental, yaitu siapa pun warga
yang ditemui saat survei lapangan. Sejumlah pelaku usaha menaruh harapan besar
agar keberadaan Taman Nasional Tanjung Puting benar-benar memberi manfaat nyata
bagi keberlangsungan perekonomian di masa depan. Hasil survei sementara—yang
saat ini masih berlangsung secara online—menunjukkan bahwa masyarakat bersedia
berperan aktif dalam menjaga kelestarian populasi satwa sekaligus mendukung
kegiatan konservasi hutan di kawasan ini. Meski kondisi saat ini masih jauh
dari ideal, para pelaku usaha berharap pemerintah dapat menyiapkan sarana yang
lebih memadai guna menunjang aktivitas wisatawan dan memperkuat keberlanjutan
pariwisata berbasis konservasi.
Penerimaan
Negara Bukan Pajak pada Balai TNTP
Tren kunjungan
wisatawan ke Taman Nasional Tanjung Puting menunjukkan perkembangan yang sangat
signifikan. Jika pada tahun 2013 jumlah pengunjung baru mencapai 13.355 orang,
maka pada 2018 angka ini melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 29.283
orang. Pandemi Covid-19 sempat menekan jumlah kunjungan hingga titik terendah
pada 2021 dengan hanya 1.292 pengunjung. Namun, pemulihan berlangsung cepat, dan
pada 2024 Tanjung Puting mencatat rekor tertinggi dengan 79.665 wisatawan.
Angka ini menjadi bukti nyata bahwa pesona TNTP tetap menjadi magnet wisata
dunia, bahkan setelah guncangan pandemi.
Berdasarkan data
Balai TNTP, jumlah pengunjung Taman Nasional Tanjung Puting selama periode
2013–2024 menunjukkan tren meningkat, meski sempat menurun drastis saat pandemi
Covid-19.
Peningkatan ini
membuktikan bahwa TNTP tetap menjadi magnet wisata dunia, dengan pengunjung
terbanyak datang dari Spanyol, Italia, Prancis, Amerika, Inggris dan berbagai
negara Eropa lainnya. Pesona orangutan, bekantan, monyet ekor panjang, penyu,
dan keanekaragaman hayati lainnya membuat kawasan ini begitu diminati.
Perjalanan
ke Desa Sei Sekonyer
Tim Penilaian yang
berjumlah 13 orang bergerak menuju desa-desa penyangga di sekitar TNTP, salah
satunya Desa Sei Sekonyer. Desa ini hanya berjarak sekitar 45 menit perjalanan
dari Pelabuhan Kumai menggunakan speed boat. Tim sempat bermalam di penginapan milik Pak Bana, warga
lokal yang sebelumnya bekerja di perkebunan sawit. Menurut beliau, kehadiran
tamu menjadi penggerak kembali roda ekonomi rumah tangganya. Pengalaman bermalam yang disuguhi vibes luar
biasa, sore saat kami sedang duduk santai di pelataran penginapan yang terbuat
dari kayu ulin yang kokoh, tiga ekor bekantan melintas diatas pohon-pohon
disamping kanan kiri penginapan. Berisik dan membuat kami melongo
sejenak.
Kami melakukan survei pada tiga ekosistem hutan:
hutan dataran rendah, hutan gambut, dan hutan kerangas. Pengukuran dilakukan
dengan klasifikasi vegetasi: semai (tanaman muda <1,5 m), pancang (anakan
tinggi ≥1,5 m, diameter <10 cm), tiang (diameter 10–20 cm), dan pohon
(diameter >20 cm). Hasil pengamatan menunjukkan regenerasi vegetasi di
kawasan hutan masih berlangsung dengan baik.
Meski harus
menghadapi nyamuk hutan, semut, dan medan yang sulit, tim berhasil
menyelesaikan lima plot pengamatan. Keanekaragaman vegetasi yang ditemukan
membuktikan ekosistem TNTP tetap terjaga dengan baik.
Selain metode CVM,
tim juga menggunakan Travel Cost Method untuk menghitung nilai ekonomi
wisata alam, berdasarkan biaya perjalanan wisatawan. Metode ini memberi
gambaran manfaat wisata secara riil terhadap perekonomian lokal.
Sejalan dengan
meningkatnya minat wisatawan, pemerintah menetapkan penyesuaian tarif tiket
masuk TNTP melalui PP No. 36 Tahun 2024. Wisatawan mancanegara dikenakan tarif
Rp250.000 per orang, wisatawan nusantara Rp50.000, sementara rombongan
pelajar/mahasiswa nusantara (minimal lima orang) hanya Rp25.000 per orang. Pada
hari libur besar, tarif diberlakukan 150?ri harga normal. Penyesuaian tarif
ini bukan sekadar kebijakan fiskal, melainkan juga langkah strategis untuk
memastikan keberlanjutan pengelolaan kawasan konservasi.
Catatan penerimaan
negara bukan pajak (PNBP) dari TNTP terus menunjukkan tren positif. Hingga
akhir September 2025,
penerimaan mengalami peningkatan signifikan. Hal ini menegaskan bahwa
keberadaan TNTP tidak hanya berperan dalam konservasi, tetapi juga memberikan
kontribusi nyata bagi perekonomian negara. Dengan semakin baiknya tata kelola
wisata dan dukungan masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan, potensi
peningkatan PNBP di masa mendatang terbuka semakin lebar.
Tanjung Puting bukan
sekadar destinasi wisata; ia adalah magnet kehidupan yang menyatukan alam,
manusia, dan peradaban. Di balik rimbunnya hutan hujan tropis, setiap helai
daun, setiap aliran sungai, hingga tatapan mata orangutan menjadi saksi betapa
berharganya keseimbangan ekosistem ini. Pesonanya tidak hanya memikat
wisatawan, tetapi juga menyadarkan kita bahwa kekayaan sejati bangsa adalah
ketika kita mampu merawat warisan alamnya.
Magnet Tanjung Puting
juga bekerja pada dimensi ekonomi dan sosial. Ia menggerakkan roda usaha
masyarakat lokal, membuka peluang kerja, sekaligus menghadirkan kebanggaan
kolektif sebagai tuan rumah kawasan konservasi kelas dunia. Pelaku usaha
pariwisata—mulai dari pemilik tour travel, pemandu wisata yang bekerja secara
lepas maupun tergabung dalam paket tur, pemilik klotok, juru masak, hingga
penjual bahan bakar klotok—semuanya merasakan denyut hidup dari arus wisata
yang masuk ke Tanjung Puting. Klotok sebagai satu-satunya moda transportasi
utama justru menjadi daya tarik tersendiri; ia memikat wisatawan mancanegara
untuk sengaja menghabiskan liburan selama tiga hari dua malam di kawasan ini.
Saat berbincang
dengan beberapa pelaku usaha, terselip pengakuan menarik: banyak wisatawan
asing sebenarnya ingin berlama-lama tinggal di kota sekitar TNTP. Namun,
ketersediaan destinasi wisata tambahan, seperti city tour, masih terbatas
sehingga pengalaman wisata belum bisa sepenuhnya diperkaya.
Penutup
Pada akhirnya, nilai
ekonomi dari jasa ekosistem Tanjung Puting bukan hanya sekadar deretan angka,
melainkan gambaran nyata betapa erat hubungan antara kelestarian hutan dengan
kesejahteraan masyarakat. Magnet ini bukan hanya menarik wisatawan, tetapi juga
menghidupi harapan akan masa depan yang lebih seimbang antara alam dan manusia.
Pada akhirnya, magnet
di Tanjung Puting adalah ajakan untuk peduli. Peduli terhadap orangutan yang
semakin langka, peduli pada hutan tropis yang menyimpan karbon bagi masa depan
bumi, dan peduli pada generasi mendatang yang berhak menikmati keindahan ini.
Semakin banyak yang tertarik, semakin kuat pula energi magnet ini untuk menjaga
harmoni. Tanjung Puting bukan hanya milik Kalimantan atau Indonesia, melainkan
anugerah dunia yang pantas terus dirayakan dan dilestarikan.
Upaya konservasi orangutan dan pelestarian ekosistem hutan tidak hanya menjaga warisan alam, tetapi juga membuka jalan bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Hasil penilaian SDA ini diharapkan menjadi pijakan penting bagi kebijakan ke depan dalam mewujudkan keseimbangan antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat. (Evi Rahmawati)
Sumber data:
Balai TNTP
(2024), BPS (2023), Perdirjen No.5 Tahun 2021, dan PP No. 36 Tahun 2024
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |
Foto Terkait Artikel