Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Kalimantan Selatan dan Tengah
PUASA DAN HIDUP SEDERHANA: MEMBANGUN LINGKUNGAN ANTIKORUPSI

PUASA DAN HIDUP SEDERHANA: MEMBANGUN LINGKUNGAN ANTIKORUPSI

Nur Fitriana
Kamis, 28 Maret 2024 |   1161 kali

Sejak terungkapnya gaya hidup hedonis di kalangan ASN ataupun keluarganya di berbagai media sosial (medsos) pada beberapa periode yang lalu, kita seolah disadarkan untuk lebih berhati-hati ketika berbagi kehidupan pribadi kita ke ranah publik. Sekali kita memposting kehidupan pribadi yang bersifat hedon, maka seakan kita harus “bertanggung jawab” atas apa yang kita sharing.


Berita tentang hedonisme ASN mencuat ke permukaan, membuat keresahan publik. Euforia tentang hedonisme seakan menjadi topik utama saat itu. Seiring berjalan waktu, medsos kembali adem dan tenang dari berbagai postingan gaya hidup hedonis dari    para ASN atau keluarganya. Muncul pertanyaan apa itu hedonisme?

Hedonisme adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup.” [KBBI]. Sementara menurut Collins GEM (1993) pengertian hedonisme adalah “Sebuah doktrin yang menyatakan bahwa kesenangan                                     adalah hal yang paling penting dalam hidup.” Dengan kata lain, hedonisme adalah paham yang dianut oleh orang-orang yang mencari kesenangan hidup semata-mata. Banyak ahli lain yang mendefinisikan hedonisme ini yang intinya tidak berbeda jauh dari definisi di atas.

 

Faktor Penyebab Hedonisme

Secara garis besar, gaya hidup hedonisme dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor  internal dan eksternal. Faktor internal atau dari dalam diri sendiri, merupakan penyebab hedonisme yang paling utama. Setiap manusia sudah pasti memiliki sifat dasar yang ingin memiliki banyak kesenangan dan kebahagiaan. Ditambah lagi dengan sifat lain dari  manusia, yaitu rasa tidak pernah puas yang mereka miliki. Sifat-sifat inilah yang pada akhirnya mengantarkan seseorang pada perilaku dan gaya hidup yang hedonisme.


Penyebab lain seseorang memiliki paham hedonisme adalah faktor eksternal atau faktor dari luar. Faktor eksternal ini bisa berasal dari informasi atau juga globalisasi. Apalagi saat ini internet dan media sosial membuat kita bisa melihat bagaimana kehidupan orang lain. Kebiasaan-kebiasaan serta paham yang di dapat di dunia maya atau di lingkungannya, dianggap menjadi penyebab orang tertarik untuk mengadaptasi gaya hidup hedonisme.

 

Dampak Hedonisme

Perilaku dan gaya hidup hedonisme yang dianut juga akan memberikan dampak pada dirinya dan juga lingkungan sekitar. Sayangnya, dampak yang muncul dari perilaku hedonisme ini cenderung negatif seperti:

            1.    Konsumtif

                   Hedonisme adalah sifat yang cenderung menimbulkan perilaku konsumtif secara berlebihan, bahkan saat pemasukannya tak cukup untuk                    membiayai pengeluarannya. Sifat konsumtif yang berlebihan menyebabkan kita memaksakan keadaan diri sendiri untuk memenuhi gaya                    hidup.

            2.    Egois

                    Hedonisme cenderung ditemui pada orang yang memiliki sifat individualis dan mementingkan dirinya sendiri (egois) tanpa peduli dengan                     apa yang dirasakan orang lain. Orang yang egois cenderung tidak terasah rasa empatinya pada orang lain.

            3.    Boros

                    Gaya hidup hedonisme tentu saja melahirkan sikap pemborosan. Karena orang hedon  lebih mementingkan kesenangan untuk memenuhi                     keinginan semata dibanding kebutuhan dari barang yang dibelinya.

             4.    Tidak bertanggung jawab

                    Orang hedonis biasanya tidak bertanggung jawab. Ini dikarenakan orang tersebut hanya fokus pada diri dan kesenangan diri semata,                     sehingga menjadi orang yang memiliki sifat kurang bertanggung jawab.

            5.    Pemalas

                    Hedonisme adalah sifat yang berikaitan dengan rasa malas. Ini wajar, mengingat orang  dengan gaya hidup hedon kerap tidak menghargai                     waktu dan uangnya.

            6.    Korupsi

                    Dan terakhir, hedonisme adalah salah satu pangkal dari korupsi. Seorang dengan sifat  hedonisme yang kental maka akan selalu merasa                     kurang / tidak cukup dengan pemasukan / pendapatan yang diterima, Dan ketika ada perasaan yang tidak puas, besar kemungkinan                     terpaksa ia masuk lingkaran korupsi.

 

Puasa dan Hidup Sederhana

Puasa artinya menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang dapat membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari, namun ibadah puasa selayaknya dapat dipahami bukan hanya menahan lapar dan dahaga saja. Lebih dari itu, puasa semestinya dapat dijadikan sebagai momentum untuk melatih diri agar dapat hidup dalam kesederhanaan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW beserta para sahabat yang sekedar berbuka dengan kurma dan air putih. Nilai kesederhanaan inilah yang seharusnya menjadi keteladanan bagi kita untuk menjadikan sikap sederhana sebagai budaya kita sebagai ASN.


Momentum saat berbuka puasa ini merupakan titik krusial bagi orang yang berpuasa. Mengapa ? Karena di era modern dan serba digital ini, kita semakin dimudahkan dengan berbagai sistem yang ada disekitar kita. Sebagai contoh, mudahnya sistem pemesanan dan pengantaran berbagai menu buka puasa, bahkan saat ini di berbagai ruas jalan berbagai macam menu tersajikan dengan lengkap. Bersyukurnya kita dengan kondisi demikian. Namun demikian, kita harus tetap ingat bahwa makna puasa berarti kesederhanaan dan tidak berlebihan, bahkan Allah SWT telah melarang manusia untuk berlebih-lebihan sebagaimana kutipan yang tertulis dalam firmanNya: “,,,,dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berlebihan ” [QS.Al An’am:141].


Berpuasa sejatinya mampu mengasah dan menajamkan rasa kita. Menahan lapar dan dahaga sejak habis subuh hingga maghrib semestinya mampu menumbuhkan empati terhadap penderitaan saudara-saudara kita yang kurang beruntung dan pada akhirnya momentum berpuasa seharusnya mampu menjadi pagar kita dalam kehidupan sehari-hari agar tidak memunculkan sikap hedonis. Momentum berpuasa juga seharusnya membuat kita menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar, serta melatih kepedulian terhadap sesama manusia.


Allah SWT memerintahkan manusia agar dalam pemenuhan kebutuhannya dilakoni secara bersahaja, tengah-tengah, tidak boros dan tidak berlebihan dalam pengeluaran. Allah SWT berfirman : “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” [QS. Al-A’raf:31].


Begitu pentingnya kesederhanaan ini sehingga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK RI) juga telah menjadikan sederhana ini sebagai salah satu nilai integritas antikorupsi. Sederhana adalah bersahaja, tidak berlebih-lebihan, ikhlas, dan selalu bersyukur. Untuk meredam atau menghindarkan diri dari praktik korupsi, salah satunya adalah dengan hidup sederhana dengan mengendalikan diri agar tidak menjadi orang rakus.


Dalam Modul Integritas untuk umum yang diterbitkan KPK disebutkan beberapa hal tentang pengaplikasian hidup sederhana, antara lain:

            1.    Menjalani keseharian sesuai dengan kebutuhan (bukan keinginan) dan tidak berlebihan dalam menggunakan harta;

            2.    Menggunakan harta pribadi atas pertimbangan matang akan kebutuhan di masa mendatang dan tidak menghamburkan harta untuk                     sesuatu yang tidak mendesak;

            3.    Memiliki skala prioritas dalam memenuhi kebutuhan hidup (primer, sekunder, dan  tersier);

            4.    Menerapkan hidup yang secukupnya; sesuai dengan tingkat ekonomi yang dimiliki;

            5.    Tidak menjustifikasi keinginan sebagai kebutuhan;

            6.    Mampu mengelola keuangan dengan baik;


Mari kita jadikan momentum berpuasa ini sebagai pijakan untuk kembali meneladani apa yang telah Rasulullah SAW dan para sahabat contohkan yakni kesederhanaan. Marilah kita bangun integritas dengan kesederhanaan. Dengan kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari akan dapat menghindarkan diri dari gaya hidup hedonis yang juga dapat mendorong perilaku koruptif. Mulai dari diri kita, ajak keluarga dan lingkungan kita untuk selalu sederhana dan menghindari gaya hidup konsumtif yang akan berujung pada perilaku koruptif. Dengan perilaku sederhana, berpuasa akan semakin bermakna.



Penulis : Anas W. Jati

Kasubag TUTR Kanwil DJKN Kalselteng

Penyuluh Antikorupsi Muda

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon