PUASA DAN HIDUP SEDERHANA: MEMBANGUN LINGKUNGAN ANTIKORUPSI
Nur Fitriana
Kamis, 28 Maret 2024 |
1161 kali
Sejak terungkapnya gaya hidup hedonis di kalangan ASN ataupun keluarganya di berbagai media sosial (medsos) pada beberapa periode yang lalu, kita seolah disadarkan untuk lebih berhati-hati ketika berbagi kehidupan pribadi kita ke ranah publik. Sekali kita memposting kehidupan pribadi yang bersifat hedon, maka seakan kita harus “bertanggung jawab” atas apa yang kita sharing.
Berita tentang hedonisme ASN mencuat ke permukaan, membuat keresahan publik. Euforia tentang hedonisme seakan menjadi topik utama saat itu. Seiring berjalan waktu, medsos kembali adem dan tenang dari berbagai postingan gaya hidup hedonis dari para ASN atau keluarganya. Muncul pertanyaan apa itu hedonisme?
“Hedonisme adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan
kenikmatan materi sebagai tujuan
utama dalam hidup.” [KBBI]. Sementara menurut Collins GEM (1993)
pengertian hedonisme
adalah “Sebuah doktrin yang menyatakan bahwa kesenangan adalah hal yang paling penting dalam
hidup.” Dengan kata lain, hedonisme adalah paham
yang dianut oleh orang-orang yang mencari kesenangan hidup semata-mata.
Banyak ahli lain yang mendefinisikan hedonisme
ini yang intinya
tidak berbeda jauh dari definisi
di atas.
Faktor Penyebab
Hedonisme
Secara garis besar, gaya hidup hedonisme dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal atau dari dalam diri sendiri, merupakan penyebab hedonisme yang paling utama. Setiap manusia sudah pasti memiliki sifat dasar yang ingin memiliki banyak kesenangan dan kebahagiaan. Ditambah lagi dengan sifat lain dari manusia, yaitu rasa tidak pernah puas yang mereka miliki. Sifat-sifat inilah yang pada akhirnya mengantarkan seseorang pada perilaku dan gaya hidup yang hedonisme.
Penyebab lain seseorang memiliki paham hedonisme adalah faktor eksternal atau faktor
dari luar. Faktor eksternal ini bisa berasal
dari informasi atau juga globalisasi. Apalagi saat ini
internet dan media sosial membuat kita bisa melihat bagaimana kehidupan orang lain. Kebiasaan-kebiasaan serta paham yang di dapat di dunia maya atau di lingkungannya, dianggap menjadi penyebab orang tertarik untuk mengadaptasi gaya hidup hedonisme.
Dampak Hedonisme
Perilaku dan gaya
hidup hedonisme yang dianut juga akan memberikan dampak pada dirinya dan juga lingkungan sekitar.
Sayangnya, dampak yang muncul dari perilaku hedonisme ini cenderung negatif seperti:
1. Konsumtif
Hedonisme adalah sifat yang cenderung menimbulkan perilaku konsumtif secara berlebihan, bahkan saat pemasukannya tak cukup untuk membiayai pengeluarannya. Sifat konsumtif yang berlebihan menyebabkan kita memaksakan keadaan diri sendiri untuk memenuhi gaya hidup.
2. Egois
Hedonisme cenderung ditemui pada orang yang memiliki sifat individualis dan mementingkan dirinya sendiri (egois) tanpa peduli dengan apa yang dirasakan orang lain. Orang yang egois cenderung tidak terasah rasa empatinya pada orang lain.
3. Boros
Gaya hidup hedonisme tentu saja melahirkan sikap pemborosan. Karena orang hedon lebih mementingkan kesenangan untuk memenuhi keinginan semata dibanding kebutuhan dari barang yang dibelinya.
4. Tidak bertanggung jawab
Orang hedonis biasanya tidak bertanggung jawab. Ini dikarenakan orang tersebut hanya fokus pada diri dan kesenangan diri semata, sehingga menjadi orang yang memiliki sifat kurang bertanggung jawab.
5. Pemalas
Hedonisme adalah sifat yang berikaitan dengan rasa malas. Ini wajar, mengingat orang dengan gaya hidup hedon kerap tidak menghargai waktu dan uangnya.
6. Korupsi
Dan terakhir, hedonisme adalah salah satu pangkal dari korupsi. Seorang dengan sifat hedonisme yang kental maka akan selalu merasa kurang / tidak cukup dengan pemasukan / pendapatan yang diterima, Dan ketika ada perasaan yang tidak puas, besar kemungkinan terpaksa ia masuk lingkaran korupsi.
Puasa artinya menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang dapat membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari, namun ibadah puasa selayaknya dapat dipahami bukan hanya menahan lapar dan dahaga saja. Lebih dari itu, puasa semestinya dapat dijadikan sebagai momentum untuk melatih diri agar dapat hidup dalam kesederhanaan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW beserta para sahabat yang sekedar berbuka dengan kurma dan air putih. Nilai kesederhanaan inilah yang seharusnya menjadi keteladanan bagi kita untuk menjadikan sikap sederhana sebagai budaya kita sebagai ASN.
Momentum saat berbuka puasa ini merupakan titik krusial bagi orang yang berpuasa. Mengapa ? Karena di era modern dan serba digital ini, kita semakin dimudahkan dengan berbagai sistem yang ada disekitar kita. Sebagai contoh, mudahnya sistem pemesanan dan pengantaran berbagai menu buka puasa, bahkan saat ini di berbagai ruas jalan berbagai macam menu tersajikan dengan lengkap. Bersyukurnya kita dengan kondisi demikian. Namun demikian, kita harus tetap ingat bahwa makna puasa berarti kesederhanaan dan tidak berlebihan, bahkan Allah SWT telah melarang manusia untuk berlebih-lebihan sebagaimana kutipan yang tertulis dalam firmanNya: “,,,,dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berlebihan ” [QS.Al An’am:141].
Berpuasa sejatinya mampu mengasah dan menajamkan rasa kita. Menahan lapar dan dahaga sejak habis subuh hingga maghrib semestinya mampu menumbuhkan empati terhadap penderitaan saudara-saudara kita yang kurang beruntung dan pada akhirnya momentum berpuasa seharusnya mampu menjadi pagar kita dalam kehidupan sehari-hari agar tidak memunculkan sikap hedonis. Momentum berpuasa juga seharusnya membuat kita menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar, serta melatih kepedulian terhadap sesama manusia.
Allah SWT memerintahkan manusia agar dalam pemenuhan kebutuhannya dilakoni secara bersahaja, tengah-tengah, tidak boros dan tidak berlebihan dalam pengeluaran. Allah SWT berfirman : “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” [QS. Al-A’raf:31].
Begitu pentingnya kesederhanaan ini sehingga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK RI) juga telah menjadikan sederhana ini sebagai salah satu nilai integritas antikorupsi. Sederhana adalah bersahaja, tidak berlebih-lebihan, ikhlas, dan selalu bersyukur. Untuk meredam atau menghindarkan diri dari praktik korupsi, salah satunya adalah dengan hidup sederhana dengan mengendalikan diri agar tidak menjadi orang rakus.
Dalam
Modul Integritas untuk umum yang diterbitkan KPK disebutkan beberapa
hal tentang pengaplikasian hidup sederhana, antara
lain:
1. Menjalani keseharian sesuai dengan kebutuhan
(bukan keinginan) dan tidak berlebihan dalam menggunakan harta;
2. Menggunakan harta pribadi atas pertimbangan matang akan kebutuhan di masa mendatang dan tidak menghamburkan harta untuk sesuatu yang tidak mendesak;
3. Memiliki skala prioritas dalam memenuhi kebutuhan hidup (primer, sekunder, dan tersier);
4.
Menerapkan hidup yang secukupnya; sesuai dengan tingkat
ekonomi yang dimiliki;
5. Tidak menjustifikasi keinginan sebagai kebutuhan;
6. Mampu mengelola keuangan dengan baik;
Mari kita jadikan momentum berpuasa ini sebagai pijakan untuk kembali meneladani apa yang telah Rasulullah SAW dan para sahabat contohkan yakni kesederhanaan. Marilah kita bangun integritas dengan kesederhanaan. Dengan kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari akan dapat menghindarkan diri dari gaya hidup hedonis yang juga dapat mendorong perilaku koruptif. Mulai dari diri kita, ajak keluarga dan lingkungan kita untuk selalu sederhana dan menghindari gaya hidup konsumtif yang akan berujung pada perilaku koruptif. Dengan perilaku sederhana, berpuasa akan semakin bermakna.
Penulis : Anas W. Jati
Kasubag TUTR Kanwil DJKN Kalselteng
Penyuluh
Antikorupsi Muda
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |