Talkshow TVRI Dalam Rangka Mengoptimalkan PLBN Aruk Untuk Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat
Aminah Nurmillah
Selasa, 09 Februari 2021 |
435 kali
Pontianak (09/02), Pos Lintas Batas
Negara (PLBN) Aruk merupakan salah satu wilayah perbatasan Negara
Indonesia-Malaysia yang diresmikan oleh Presiden Jokowi pada tanggal 17 Maret
2017 yang selain sebagai pintu gerbang Indonesia juga merupakan sentra
pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan. Untuk mendukung hal tersebut, dialog
interaktif Bincang 56 mengambil tema “Upaya Mendorong Percepatan Pertumbuhan
Ekonomi di Kawasan PLBN Aruk dengan Pemanfaatan Aset Negara”. Sebagai pembicara
dalam dialog yang disiarkan secara langsung oleh TVRI Kalimantan Barat menghadirkan Kepala
Kanwil DJKN Kalimantan Barat, Edward UP Nainggolan dan Kepala PLBN Aruk,
Purwoto serta dipandu oleh penyiar TVRI Kalbar, Nurul Fitriani.
Edward menjelaskan
bahwa PLBN Aruk merupakan barang milik Negara karena dibangun menggunakan dana
APBN melalui Kementerian PUPR dan telah diserahkan ke Badan Nasional Pengelola
Perbatasan dalam hal ini PLBN Aruk. Sebagai
pengelola BMN, Kanwil DJKN Kalimantan Barat berkomitmen untuk mendorong agar
BMN yang telah dibangun dimanfaatkan untuk sebesar besar kemakmuran rakyat. “Kanwil
DJKN Kalbar proaktif melakukan koordinasi dengan PLBN Aruk maupun Pemerintah
Kabupaten Sambas dalam rangka penyelesaian kendala yang ada maupun untuk
pengembangan kawasan PLBN Aruk” kata Edward.
Kendala yang utama menurut Purwoto adalah adanya perbedaan
kebijakan dari kedua Negara, Indonesia memperlakukan perdagangan dengan
Malaysia sebagai perdagangan ekspor – impor sedangkan Malaysia memperlakukan
sebagai perdagangan tradisional. Barang yang diekspor ke Malaysia tidak bisa
langsung dikirim ke Malaysia melainkan harus dibongkar dulu dan dipindahkan
menggunakan sarana transportasi dari Malaysia. Kondisi ini sangat mengganggu
karena butuh biaya tinggi dan waktu yang lebih lama. Perbedaan kebijakan ini
dapat diselesaikan melalui koordinasi pemerintah pusat dengan pemerintah
Malaysia.
“Dalam kondisi pandemi seperti saat ini lalu lintas barang maupun
orang terhenti karena adanya kebijakan untuk menutup wilayah perbatasan. Tentu
saja hal ini sangat mempengaruhi perekonomian di kawasan PLBN Aruk, banyak
aktifitas ekonomi yang terhenti” kata Purwoto.
Edward juga menyampaikan
bahwa Kabupaten Sambas mempunyai banyak potensi yang dapat dikembangkan baik
dari sektor pariwisata seperti Pantai Temajuk, sektor UMKM berupa batik sambas
dan sektor pertanian misalnya jeruk sambas dan kelapa. Di Kabupaten Sambas
produksi jeruk dan kelapa sangat melimpah, sehingga perlu dikelola dengan baik dengan membangun
pabrik pengolahan untuk mengolah barang mentah menjadi produk olahan yang tentu
saja nilainya lebih baik.
Sesuai dengan Nawacita
ketiga yaitu membangun Indonesia dari pinggiran maka diharapkan PLBN Aruk
selain memberikan pelayanan keimigrasian, kepabeanan, karantina, keamanan dan
administrasi pengelolaan, juga dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kawasan.
Hal ini dipertegas dengan keluarnya Inpres No. 1 tahun 2021 yang memerintahkan
kepada kementerian terkait untuk mempercepat pembangunan ekonomi di tiga daerah
perbatasan yang salah satu diantaranya adalah Aruk. Edward berharap dengan
adanya inpres ini maka pembangunan ekonomi di Aruk bisa lebih cepat terwujud.
“Pemerintah Kabupaten Sambas diharapkan berperan aktif dengan membina para
pelaku usaha di wilayah PLBN Aruk dan juga mengundang investor untuk berinvestasi
ke daerah perbatasan”, kata Edward.
Foto Terkait Berita