Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Kalimantan Barat
Awal Perjuangan Tercetaknya Selembar Kertas yang Menjadi Tonggak Ekonomi Indonesia

Awal Perjuangan Tercetaknya Selembar Kertas yang Menjadi Tonggak Ekonomi Indonesia

Fransiska Eka Febriati
Kamis, 29 Oktober 2026 |   15 kali

Mungkin kebiasaan bertransaksi menggunakan mata uang Rupiah adalah hal yang biasa bagi kita saat ini. Namun, pernahkah Anda membayangkan betapa kacaunya kondisi keuangan Indonesia di masa-masa awal kemerdekaan?

Saat kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia tidak langsung memiliki mata uang sendiri. Di tengah situasi revolusi dan ancaman agresi militer, perjuangan mempertahankan kedaulatan negara juga dilakukan di medan ekonomi melalui penerbitan Oeang Republik Indonesia (ORI).

Bagaimana kilas balik perjuangan heroik di balik lahirnya mata uang resmi pertama Indonesia? Berikut adalah jejak sejarah dari ORI hingga menjadi Rupiah yang kita kenal hari ini.

1. Kekacauan Mata Uang di Awal Kemerdekaan
Setelah proklamasi dikumandangkan, Indonesia menghadapi "perang mata uang". Saat itu, berbagai jenis uang asing yang beredar bebas dan sah dipakai di wilayah Indonesia, mulai dari uang peninggalan Hindia Belanda, uang keluaran pendudukan Jepang (De Japansche Regeering & Dai Nippon), hingga uang NICA yang dibawa oleh tentara Sekutu/Belanda yang kembali membonceng untuk merebut kekuasaan.

Kondisi ini sangat membahayakan kedaulatan negara. Namun, pemerintah Indonesia tidak tinggal diam dan bergerak cepat. Pada tanggal 2 Oktober 1945, pemerintah secara tegas menyatakan bahwa uang NICA tidak berlaku di wilayah Republik Indonesia.

Langkah pengamanan keuangan pertama diambil oleh Menteri Keuangan saat itu, A.A. Maramis, melalui dekrit 29 September 1945 yang melarang pejabat tentara Jepang mengeluarkan perintah bayar negara dan menertibkan fungsi kas negara agar sepenuhnya berada di tangan bangsa Indonesia.

2. Proses Panjang di Balik Pencetakan ORI

Pemerintah menyadari bahwa sebuah negara merdeka mutlak memerlukan mata uang sendiri sebagai simbol kedaulatan sekaligus alat pengendali ekonomi. Oleh karena itu, dibentuklah “Panitia Penyelenggara Pencetakan Uang Kertas Republik Indonesia” pada 7 November 1945.

Proses pencetakan ORI berjalan dengan penuh tantangan dan semangat juang tinggi. Sejak Januari 1946, pencetakan dilakukan setiap hari dari pukul 07.00 hingga 22.00 di Jakarta. Namun, pada Mei 1946, situasi keamanan semakin memanas akibat teror tentara Sekutu dan NICA.

Akibatnya, alat cetak dan proses pembuatan uang terpaksa dipindahkan ke berbagai daerah secara diam-diam, seperti Yogyakarta, Surakarta, Malang, dan Ponorogo. Karena proses cetak yang berpindah-pindah dan memakan waktu lama, pada saat ORI pertama kali diedarkan, nama yang tercantum sebagai penandatangan di atas uang tersebut tetap A.A. Maramis, meskipun jabatan Menteri Keuangan saat itu telah diemban oleh Sjafruddin Prawiranegara.

3. Tanggal Bersejarah: Lahirnya ORI (30 Oktober 1946)

Perjuangan panjang tersebut akhirnya berbuah manis. Tepat pada 30 Oktober 1946, Oeang Republik Indonesia (ORI) secara resmi beredar untuk pertama kalinya di tengah masyarakat.

Tanggal 30 Oktober kemudian diabadikan dan diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Keuangan Nasional. Kehadiran ORI bukan sekadar alat tukar, melainkan penyemangat jiwa nasionalisme rakyat Indonesia bahwa negara kita benar-benar berdaulat secara ekonomi.

Selain ORI pusat, di berbagai daerah juga sempat beredar ORIDA (Oeang Republik Indonesia Daerah) guna memenuhi kebutuhan transaksi lokal di tengah terputusnya jalur komunikasi dan transportasi antarwilayah akibat perang.

4. Dinamika Menuju Rupiah dan Lahirnya Bank Indonesia

Perjalanan ekonomi Indonesia pasca-penerbitan ORI terus bergerak melalui beberapa fase penting:

  • Masa RIS (1949–1950): Indonesia sempat menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS) dan menerbitkan uang kertas RIS sebagai dampak dari Konferensi Meja Bundar (KMB), sebelum akhirnya kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 17 Agustus 1950.
  • Gunting Sjafruddin (1951–1952): Pemerintah mengambil kebijakan drastis dengan menggunting uang kertas menjadi dua bagian guna mengatasi inflasi tinggi akibat terlalu banyaknya uang yang beredar, sekaligus menyuntik dana kas negara.
  • Lahirnya Bank Indonesia (1953): Melalui nasionalisasi De Javasche Bank, Bank Indonesia (BI) resmi berdiri pada 1 Juli 1953 sebagai bank sentral yang bertugas mengelola peredaran uang secara nasional.


Apa Pelajaran yang Bisa Kita Petik?

Sejarah ORI mengajarkan kepada kita bahwa kedaulatan Rupiah yang kita pegang hari ini dibayar dengan keringat, kerja keras di tengah ancaman bahaya, dan semangat pantang menyerah dari para pahlawan ekonomi masa lalu.

Mata uang bukan sekadar alat untuk berbelanja, melainkan identitas dan lambang kedaulatan negara. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita mencintai, merawat, dan bangga menggunakan Rupiah sebagai wujud penghormatan atas perjuangan para pendahulu bangsa!




Sumber:
Kementerian Keuangan. Sejarah Oeang Republik Indonesia (ORI). Visual Kemenkeu. https://visual.kemenkeu.go.id/sejarah-oeang/

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon