Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Kalimantan Barat
Lelang di Kalimantan Barat yang Terus Bergerak dan Cerita di Balik Angka-Angkanya

Lelang di Kalimantan Barat yang Terus Bergerak dan Cerita di Balik Angka-Angkanya

Samba Dewangga Suharto
Rabu, 15 April 2026 |   39 kali

Jika melihat angka-angka pelaksanaan lelang di lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kalimantan Barat pada tahun 2025, kesan pertamanya yang timbul adalah bahwa lelang naik cukup tinggi dengan menembus Rp1,1 triliun. Angka ini jelas meningkat apabila dibanding tahun 2023 yang masih berada di kisaran Rp448 miliar, atau 2024 yang sekitar Rp900 miliar. Tapi menariknya, kinerja lelang dapat dilihat bukan hanya dari besarnya angka-angka itu saja. 

Capaian Lelang DJKN Kalbar 2025

Di tengah target tahunan yang terus naik tiap tahunnya, tahun 2023 realisasi lelang mencapai sekitar 131% target, realisasi tahun 2024 terdapat sedikit penurunan di 127%, dan diikuti realisasi 2025 yang berada di kisaran 119%. Sekilas memang terlihat tren realisasi semakin menurun. Namun, di balik itu sebenarnya penurunan ini menunjukkan ”baseline” target yang semakin tinggi dan menantang.

Dari sisi pelaksanaan, kontribusi terbesar justru datang dari Pejabat Lelang Kelas II yang menyumbang sekitar 72% total nilai lelang. Sementara Pejabat Lelang Kelas I berada di kisaran 15%. Ini bukan soal siapa lebih besar atau kecil, tapi lebih ke gambaran bahwa aktivitas lelang sekarang semakin tersebar. Tidak lagi terpusat dilakukan oleh aparatur negara saja, tapi lebih kolektif dengan melibatkan para pihak di luar pemerintah.

Untuk Pejabat Lelang Kelas I sendiri, capaian tahun 2025 berada di sekitar Rp169 miliar, sedikit turun dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp197 miliar. Namun, di saat yang sama, jumlah frekuensi lelang tetap tinggi. Artinya, aktivitas tetap berjalan, hanya saja mungkin jenis barang, karakteristik objek, atau dinamika pasarnya yang berbeda.

Warna Asli Proses Lelang

Dari seluruh pelaksanaan lelang, tingkat keterlakuan berada di kisaran 39%. Angka ini seringkali dianggap rendah apabila dilihat secara sekilas. Tapi di sisi lain, ini juga mencerminkan realitas pasar yang tidak selalu instan. Tidak semua barang langsung menemukan pembelinya dalam sekali pelaksanaan lelang. Bahkan, jika dipisahkan berdasarkan jenis barang, ceritanya akan menjadi lebih jelas. Barang bergerak, seperti kendaraan atau inventaris, memiliki tingkat keterlakuan yang tinggi, sekitar 82%. Sementara barang tidak bergerak, seperti tanah dan bangunan, masih di kisaran 12%.

Perbedaan ini sebenarnya cukup wajar. Membeli kendaraan lewat lelang mungkin keputusan yang relatif cepat. Tapi untuk tanah atau bangunan, orang butuh waktu lebih panjang, seperti untuk survei lokasi, untuk mempertimbangkan nilai investasi, bahkan untuk sekadar “merasa cocok”. Karena itu, tidak heran kalau sebagian objek baru laku di lelang kedua atau ketiga. Dan itu bukan selalu hal buruk. Kadang, justru di situ proses menemukan harga terbaik terjadi.

Di sisi lain, digitalisasi mulai terasa dampaknya. Melalui platform lelang.go.id, partisipasi dari luar Kalimantan Barat sudah mencapai lebih dari 20%. Ini cukup menarik, karena artinya pasar lelang tidak lagi lokal. Ada orang dari luar daerah yang ikut melihat, menilai, bahkan membeli. Ditambah lagi dengan adanya Aplikasi Lelang Indonesia yang baru diluncurkan dan dapat diunduh melalui Appstore ataupun Playstore, tentunya akan semakin meningkatkan partisipasi peserta lelang dari luar Kalimantan Barat.

Gerak Lelang ke Depannya

Memang, perjalanan ini belum sepenuhnya mulus. Masih ada ruang untuk membuat informasi lelang lebih menarik, lebih mudah dipahami, atau lebih “mengundang” minat pasar.

Yang juga patut dicatat, frekuensi lelang sendiri cukup tinggi. Artinya, sistemnya hidup. Ada aktivitas yang konsisten, ada ritme yang terus berjalan. Dan dalam sistem seperti ini, perbaikan biasanya datang bukan dari satu lompatan besar, tapi dari penyesuaian kecil yang terus-menerus.

Kalau ditarik sedikit lebih jauh, lelang hari ini sebenarnya sedang bergerak ke peran yang lebih besar. Bukan sekadar menjual barang, tapi menjadi bagian dari bagaimana aset negara dikelola dengan lebih terbuka dan produktif. Mungkin ke depan, tantangannya bukan lagi sekadar menaikkan angka Rp1,1 triliun menjadi lebih tinggi. Tapi bagaimana membuat lebih banyak objek yang langsung terserap pasar. Bagaimana membuat orang lebih tertarik untuk ikut lelang. Dan bagaimana setiap prosesnya terasa lebih dekat dengan masyarakat.

Karena pada akhirnya, lelang bukan hanya soal transaksi. Ia juga soal kepercayaan, soal transparansi, dan soal bagaimana negara hadir dengan cara yang semakin relevan. Ukuran keberhasilan lelang bukan hanya pada besarnya angka yang dicapai, melainkan pada seberapa efektif aset dapat berpindah tangan dan memberi nilai tambah yang nyata.


(Ditulis oleh: Samba Dewangga Suharto / Kepala Seksi Informasi Kanwil DJKN Kalimantan Barat)
Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon