Mengenal Krisis Keuangan Global Pada Tahun 2008
Samba Dewangga Suharto
Senin, 02 Juni 2025 |
32005 kali
Krisis ekonomi global merupakan suatu kondisi ketika perekonomian dunia mengalami tren penurunan besar dan berdampak terhadap seluruh negara di dunia. Sepanjang sejarah, telah terjadi beberapa krisis ekonomi global, salah satunya adalah krisis keuangan global pada pertengahan tahun 2007 sampai dengan awal tahun 2009. Pada periode ini, kemunduran pasar perumahan Amerika Serikat menjadi katalisator krisis keuangan yang menyebar dari Amerika Serikat ke hampir seluruh negara di dunia.
Latar Belakang Terjadinya Krisis Keuangan Global
Pada tahun-tahun sebelum terjadinya krisis keuangan global, kondisi ekonomi sebagian besar negara di dunia cukup baik. Pertumbuhan ekonomi stabil, tingkat inflasi, angka pengangguran, dan suku bunga relatif rendah. Dalam kondisi ekonomi ini harga properti berupa tanah dan rumah tumbuh dengan pesat. Masyarakat beranggapan bahwa harga properti rumah akan terus naik, sehingga masyarakat, khususnya di Amerika Serikat, ingin segera membeli rumah dengan cara mengajukan pinjaman hipotek (kredit kepemilikan rumah) kepada bank dengan cara yang tidak bijaksana. Selain itu, para pengembang properti juga meminjam uang kepada bank secara berlebihan. Banyak pinjaman hipotek diberikan dengan jumlah yang mendekati atau bahkan di atas harga pembelian rumah.
Pada kondisi ekonomi seperti itu, banyak aset berisiko dan produk keuangan inovatif diciptakan dan ditawarkan dalam berbagai produk derivatif yang menarik, salah satunya produk yang bersumber dari pinjaman hipotek yang diberikan kepada masyarakat dengan riwayat kredit yang buruk atau kurang memenuhi syarat (subprime mortgage) yang dikemas menjadi beberapa jenis surat berharga yang dijamin dengan beberapa pinjaman hipotek ((mortgage-backed securities (MBS) atau collateralized mortgage obligation (CMO)).
Sebelumnya, bank sangat berhati-hati dalam menyalurkan pinjaman hipotek karena bersifat jangka panjang dan berisiko gagal bayar. Masyarakat yang tidak memiliki penghasilan tetap menyebabkan mereka sangat sulit mendapatkan pinjaman hipotek. Namun, karena adanya pihak ketiga yang bersedia memborong kredit bank tersebut, menyebabkan perbankan tidak lagi berhati- hati dalam memberikan pinjaman hipotek. Para pekerja serabutan dan masyarakat yang tidak memiliki penghasilan tetap, menjadi mudah memperoleh pinjaman hipotek.
Untuk membuat MBS atau CMO ini menarik di mata investor dan dapat dijual di harga tinggi, pihak ketiga menyewa perusahaan pemeringkat seperti S&P, Fitch, dan Moody’s untuk memberikan penilaian yang baik. Parahnya, lembaga pemeringkat mau menuruti keinginan para pihak ketiga itu. Dengan penilaian investment grade yang baik, para investor institusi seperti bank, dana pensiun, perusahaan asuransi, aset manajemen, dan hedge fund pun tidak ragu membeli MBS atau CMO untuk portofolio mereka.
Terjadinya Krisis Keuangan Global
Tekanan dalam sistem keuangan pertama kali muncul dengan jelas sekitar pertengahan tahun 2007. Beberapa pemberi pinjaman dan investor mulai mengalami kerugian besar karena setelah peminjam gagal bayar pinjaman hipotek, banyak rumah yang disita hanya dapat dijual dengan harga di bawah saldo pinjaman. Terkait dengan itu, investor menjadi kurang bersedia untuk membeli produk MBS dan secara aktif mencoba menjual kepemilikan MBS atau CMO mereka. Akibatnya, nilai MBS atau CMO turun, sehingga menyebabkan penurunan nilai kekayaan investor.
Tekanan keuangan mencapai puncaknya pada saat kegagalan perusahaan keuangan Amerika Serikat, Lehman Brothers, pada bulan September 2008. Gagalnya sejumlah perusahaan keuangan lain turut memicu kepanikan di pasar keuangan secara global. Investor mulai menarik uang mereka dari bank dan dana investasi di seluruh dunia. Akibatnya, pasar keuangan menjadi tidak berfungsi karena semua orang mencoba menjual investasi mereka pada saat yang sama dan banyak lembaga yang menginginkan pembiayaan baru tidak dapat memperoleh pinjaman. Pada masa itu, investasi dalam bisnis menjadi lesu dan belanja rumah tangga mengalami penurunan. Akibatnya, Amerika Serikat dan beberapa negara lain jatuh ke dalam resesi.
Respon Kebijakan atas Krisis Keuangan Global
Bank Sentral Amerika Serikat menurunkan suku bunga dengan cepat ke tingkat yang sangat rendah, bahkan mendekati nol. Bank Sentral Amerika Serikat juga meminjamkan sejumlah uang ke bank dan lembaga lain yang tidak dapat meminjam di pasar keuangan; dan membeli sejumlah besar surat berharga keuangan untuk mendukung pasar keuangan serta merangsang aktivitas ekonomi.
Selain itu, pemerintah Amerika Serikat meningkatkan pengeluaran mereka untuk merangsang permintaan dan mendukung lapangan kerja di seluruh perekonomian. Pemerintah Amerika Serikat juga menjamin simpanan dan obligasi bank untuk menopang kepercayaan masyarakat dan investor pada perusahaan keuangan; serta membeli saham kepemilikan di beberapa bank dan perusahaan keuangan untuk mencegah kebangkrutan yang dapat memperburuk kepanikan di pasar keuangan.
Respons kebijakan yang dilakukan oleh Bank Sentral Amerika Serikat dan Pemerintah Amerika Serikat dapat mencegah terjadinya depresi global. Meskipun demikian, jutaan orang kehilangan pekerjaan, rumah, dan sejumlah besar kekayaan mereka.
Dampak Adanya Krisis Keuangan Global
Sebagai respons terhadap krisis, regulator keuangan perlu memperkuat pengawasan terhadap bank dan lembaga keuangan lainnya. Salah satu penguatan kebijakan salah satunya adalah adanya kebijakan bank untuk menilai risiko pinjaman yang mereka berikan dengan lebih cermat dan menggunakan sumber pendanaan yang lebih tangguh. Misalnya, bank kini harus beroperasi dengan leverage yang lebih rendah dan tidak dapat menggunakan banyak pinjaman jangka pendek untuk mendanai pinjaman yang mereka berikan kepada nasabah.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |