Dengan Sinergi Kebijakan Fiskal dan Moneter Yang Baik, Menjaga Pertumbuhan Ekonomi Nasional Tetap Tumbuh Positif
Thaus Sugihilmi Arya Putra
Jum'at, 17 November 2023 |
3495 kali
Tak
terasa kita sudah memasuki penghujung triwulan IV tahun 2023. Di tahun
sebelumnya, pernah diprediksi bahwa dunia akan mengalami penurunan ekonomi yang
massif. Beberapa faktor dominan yang diduga sebagai sumber penyebab menurunnya
angka pertumbuhan ekonomi global pun telah diutarakan baik oleh pakar ekonomi
maupun pajabat publik. Alhamdulillah, penuh rasa syukur, kondisi perekonomian
Indonesia tetap terjaga positif.
Pertumbuhan
perekonomian Indonesia pada triwulan III-2023 tumbuh positif dan tetap terjaga
sebesar 4,9 persen (yoy). Lebih lanjut, secara tahunan, pertumbuhan
ekonomi tahun 2023 diprakirakan berada di atas 5 persen. Optimisme tersebut
didukung oleh kuatnya konsumsi masyarakat, percepatan belanja Pemerintah, dan
pemilihan umum yang diperkirakan mendorong sisi konsumsi. Laju inflasi di
Indonesia juga relatif terkendali. Pada bulan Oktober 2023, laju inflasi berada
pada level 2,56 persen (yoy), atau masih berada dalam kisaran sasaran
Bank Indonesia.
Berdasarkan
pengamatan penulis terhadap data perekonomian secara global dan nasional, dapat
disimpulkan bahwa perekonomian di beberapa negara menunjukan pertumbuhan
ekonomi yang berbeda. Namun sebagian besar menunjukkan pelemahan. Pelemahan
perekonomian ini diakibatkan beberapa faktor, yaitu : Satu, Kenaikan harga pangan yang disebabkan berkurangnya produksi
pangan di beberapa dunia akibat El Nino; Dua.
Harga energi meningkat dan terjadinya krisis energi di beberapa negara.
Penyebabnya masih berlangsungnya perang antara Rusia dan Ukraina dan memanasnya
geopolitik di Timur Tengah; Tiga, Berdasarkan
data dari Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan periode minggu terakhir
bulan Oktober 2023, beberapa Bank Sentral di dunia menjaga suku bunga tetap
tinggi misalkan di The Fed kembali menahan kenaikan suku bunga di tingkat 5,50
persen dan Bank sentral Inggris (BoE) menahan kenaikan suku bunga di tingkat
5,25 persen.
Keputusan
menaikan suku bunga diambil berdasarkan kondisi resilien pada pertumbuhan
ekonomi dan pasar tenaga kerja di negara tersebut. Hal ini berdampak pada
turunnya kurs mata uang negara-negara terhadap mata uang dollar Amerika. Tak
terkecuali rupiah juga mengalami tekanan; Keempat,
Inflasi meningkat akibat krisis energi dan berkurangnya suplai kebutuhan pangan;
Kelima, Pengetatan moneter di negara
maju diperkirakan akan berlangsung lama, hal ini menyebabkan negara maju mengurangi
impor komoditi dari negara lain khususnya negara berkembang;
Lalu
bagaimana dampak keadaan tersebut dengan perekonomian di Indonesia? Berdasarkan
data yang penulis peroleh dari BKF Kementerian Keuangan, laju inflasi di
Indonesia relatif terkendali. Pada bulan Oktober 2023, laju inflasi berada pada
level 2,56 persen (yoy), atau masih berada dalam kisaran sasaran Bank
Indonesia. Angka tersebut didukung oleh inflasi inti dan kelompok administered
prices yang terjaga dengan baik. Berhasilnya Indonesia menjaga inflasi
dalam level sasaran tak terlepas dari sinergi kebijakan fiskal dan moneter.
Melalui koordinasi yang baik antara Tim
Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID),
laju inflasi diprakirakan akan berada pada kisaran 3,0±1 persen pada tahun 2023
dan 2,5±1 persen pada tahun 2024.
Terjaganya
angka inflasi karena solidnya kinerja ekonomi Indonesia yang didukung kebijakan
fiskal. Peran APBN sebagai shock absorber berhasil menjaga perekonomian
domestik dari berbagai faktor risiko. Kinerja APBN yang solid juga didukung
oleh kebijakan moneter yang kredibel. Bank Indonesia (BI) terus melakukan
langkah-langkah antisipatif dan responsif di tengah tingginya risiko
perekonomian global. Salah satu contohnya, pada akhir Oktober 2023, BI
menaikkan BI7DRR sebesar 25 bps menjadi 6,00 persen, suku bunga Deposit
Facility sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen, dan suku bunga Lending
Facility sebesar 25 bps menjadi 6,75 persen sebagai respon terhadap
kebijakan higher for longer di berbagai kawasan. Respon kebijakan yang
sinergi juga diambil oleh Otoritas Jasa Keuangan dan Lembaga Penjamin Simpanan.
Berbagai langkah kebijakan di sektor industri jasa keuangan dilakukan untuk
menjaga stabilitas sistem keuangan dalam negeri.
Perekonomian
Indonesia yang positif dapat terlihat dari data Badan Pusat Statistik periode
sampai dengan bulan Agustus 2023 dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Perekonomian
Indonesia hingga pertengahan kuartal III terpantau tetap terjaga, didukung oleh
capaian positif dari berbagai indikator perekonomian. Hingga akhir bulan Agustus 2023,
neraca perdagangan Indonesia masih menunjukkan surplus yang berlanjut hingga
memasuki bulan ke-40 serta mengalami peningkatan dari bulan sebelumnya. Nilai
ekspor pada bulan Agustus tercatat sebesar USD22,00 miliar, meningkat secara
bulanan sebesar 5,47 persen (mtm) namun menurun signifikan sebesar 21,21 persen
(yoy). Peningkatan nilai ekspor dipengaruhi oleh tumbuhnya seluruh sektor,
tertinggi dialami oleh sektor pertambangan lainnya sebesar 15,37 persen (mtm).
Di
sisi lain, nilai impor pada bulan Agustus 2023 tercatat sebesar USD18,88
miliar, terpantau menurun secara bulanan dan tahunan dengan capaian
masing-masing sebesar 3,53 persen (mtm) dan 14,77 persen (yoy). Penurunan nilai
impor disebabkan oleh turunnya impor minyak mentah sebesar 46,46 persen (mtm). Dengan
perkembangan tersebut, neraca perdagangan Indonesia pada bulan Agustus 2023
tercatat mengalami surplus USD3,12 miliar atau secara keseluruhan mencatat
surplus USD24,34 miliar. Surplus tersebut diperkirakan berkontribusi positif
dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.
Berdasarkan
hal-hal yang diuraikan di atas, penulis hanya menganalisis alasan Bank
Indonesia menaikan suku bunga acuan BI7DRR sebesar 25 bps menjadi 6,00 persen
yang bertujuan menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terganggu, yaitu: Pertama, menjaga kurs mata uang rupiah dalam tekanan di tengah pengetatan moneter AS
dan meningkatnya risiko geopolitik yang terus menguat. Penguatan dolar Amerika
Serikat yang menyebabkan tekanan pelemahan berbagai mata uang negara, termasuk
nilai tukar Rupiah. Sebagai contoh Yen Jepang melemah 12,44 persen, dolar
Australia 6,61 persen, dan Euro 1,4 persen; Kedua, agar para investor di Indonesia tidak membawa keluar
investasinya. Para investor menghindari risiko dan lebih memilih investasi aman
di tengah pengetatan moneter di negara-negara maju dan ketegangan di Timur
Tengah; Ketiga, membantu mengecilkan
selisih bunga atau imbal hasil dari surat utang Amerika Serikat dan aset keuangan lainnya.
Namun
kebijakan tersebut juga menimbulkan dampak negatif terhadap perekonomian
Indonesia, yaitu: Satu, menaikkan
suku bunga kredit untuk menanggung beban cost of fund yang terlalu tinggi; Dua, menurunnya minat masyarakat untuk
melakukan pinjaman kredit di bank; Tiga,
Menggerus daya beli masyarakat sehingga menyebabkan beban bisnis bertambah.
Dari
dampak negatif yang kemungkinan timbul akibat kebijakan Bank Indonesia yang
menaikan suku bunga acuan, maka penulis memberikan pendapat sebagai berikut: satu, kenaikan suku bunga tersebut
dapat mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia melemah. Karena itu, diminta pemerintah mendorong neraca perdagangan
Indonesia atau ekspor Indonesia tidak menurun dengan membuat kebijakan pemberian
stimulus dan kemudahan para pengusaha dalam melaksanakan ekspor produknya; kedua, suku bunga yang tinggi
mengakibatkan turunnya angka penjualan properti. Hal ini disebabkan masyarakat
enggan untuk mengambil kredit properti dengan suku bunga yang tinggi. Sebaiknya
pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa subsidi rumah rakyat agar harganya
terjangkau. Subsidi yang mengikuti kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia; ketiga, laju kredit perbankan juga bisa
mengalami penurunan karena kenaikan suku bunga. Hal ini dapat berakibat pada
penurunan belanja masyarakat yang juga dapat berdampak pada ekonomi. Untuk itu,
pemerintah agar mendorong belanja masyarakat dan belanja pemerintah tetap
tinggi sehingga pertumbuhan ekonomi tetap tumbuh positif yang berkisar pada angka
4,5 persen hingga 5,3 persen pada 2023.
Demikian
yang dapat penulis sampaikan. Semoga Bank Indonesia (BI) terus melakukan
langkah-langkah antisipatif dan responsif di tengah tingginya risiko
perekonomian global. Dan berharap para pembuat kebijakan fiskal dan moneter
bisa bersinergi secara baik untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi
Indonesia yang tetap tumbuh positif.
(Ditulis
oleh : Agus Rodani/ Pegawai pada Kanwil DJKN Kalimantan Barat)
(Direview
oleh: Arya Putra/ Tim Bidang KIHI Kanwil DJKN Kalbar)
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |