Hikmah Hari Raya Kurban : Tingkatkan Kepedulian Terhadap Masyarakat Sekitar
Agus Rodani
Kamis, 08 Juni 2023 |
1939 kali
Beberapa hari lagi kita akan
memasuki bulan Zulhijah pada kalender Hijriyah. Bulan Zulhijah dikenal sebagai
bulan haji atau kurban. Bulan di mana umat islam di dunia melaksanakan ibadah
haji di kota suci Mekkah. Rangkaian rukun haji harus dilalui dan dilaksanakan oleh
para jamaah sesuai syariah dalam rangka menunaikan rukun Islam yang kelima.
Demi lancarnya pelaksanaan
ibadah haji, calon jemaah sudah semestinya mempersiapkan diri baik fisik,
ruhiyah dan materi. Untuk fisik perlu menjaga kebugaran dengan melakukan olah
raga secara rutin. Peningkatan ruhiyah dengan lebih mendekatkan diri kepada
Allah melalui memperbanyak ibadah dan doa-doa. Dan mempersiapkan materi untuk
memenuhi biaya selama melaksanakan haji di kota suci Mekkah dan bekal untuk
pemenuhan kebutuhan keluarga yang ditinggalkan.
Istilah hari kurban tak
lepas dari peristiwa historis kenabian Ibrahim dan Ismail ‘alaihissalam yang
sangat monumental. Pernah suatu saat Rasulullah SAW ditanya oleh sahabatnya
mengenai makna penting dari ibadah penyembelihan kurban dalam Islam. Beliau
menjawab dengan tegas bahwa ibadah kurban ini adalah ajaran Bapak kalian, yakni
Nabi Ibrahim AS.
Hal penting dari Hari Raya
Idul Adha atau Idul Kurban bagi umat Islam yaitu untuk selalu berupaya
menghayati dan mengaktualisasikan makna esensi dan pesan-pesan luhur ibadah kurban
dalam Islam, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai Khalifatullah, baik
sebagai umat Islam maupun warga bangsa yang tidak terlepas dari misi agama
untuk menghadirkan kemaslahatan dan kesejahteraan bagi sesama.
Kegiatan penyembelihan hewan
kurban yang dilaksanakan hingga saat ini merupakan implementasi dari kepatuhan
Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Tuhan. Nabi
Ibrahim AS hidup pada abad 18 SM, suatu masa yang dikenal dalam sejarah manusia
sebagai era terjadinya persimpangan jalan pikiran tentang maraknya praktek kurban
manusia yang dipersembahkan kepada dewa-dewa atau tuhan-tuhan mereka. Sementara
perintah Allah SWT kepada kholilullah Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya,
Ismail lantaran diilhami dari suatu ru’yah (mimpi kenabian) yang diterima dari
Allah SWT.
Para ahli tafsir menyatakan,
perintah Allah kepada nabi Ibrahim AS agar menyembelih putranya sebagaimana
dikisahkan dalam Alqur’an Surat As-Shaaffat ayat 102. Dalam ayat tersebut
terkandung makna yang dalam untuk menyampaikan pesan dan pelajaran kepada
manusia, bahwa betapapun besarnya cinta seseorang kepada anak atau apapun yang
dimilikinya, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang berarti bila Allah telah menghendaki.
Pada hakikatnya apapun yang dimiliki dan dikuasai manusia sejatinya adalah
sekedar titipan dari Allah Azza wa Jalla. Karenanya ridla dan mahabbah Allah
yang sesungguhnya paling berarti dalam hidup dan kehidupan seorang muslim.
Disebutkan juga dalam akhir kisah tersebut, Allah SWT memberikan pengganti
seekor domba yang besar atas keberhasilan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam
melaksanakan perintah dan ujian yang amat sangat berat itu.
Peristiwa monumental ini
juga mengandung ‘ibrah (pelajaran), bahwa Allah SWT sangat sayang dan
menjunjung tinggi harkat, martabat dan jiwa manusia, sehingga Ia sama sekali
tidak memperkenankan manusia dijadikan kurban untuk penyembahan atau sebagai
tumbal untuk kepentingan apapun yang pada akhirnya mengakibatkan tercucurnya
darah atau lenyapnya nyawa manusia.
Dari uraian di atas, dapat
disimpulkan bahwa seorang muslim sejati adalah yang memiliki kecintaan dan
kepatuhan mutlak kepada Allah SWT melebihi kecintaannya kepada siapapun dan
apapun. Kecintaan manusia kepada siapa dan apa saja selalu didasari karena
kecintaannya kepada Allah SWT.
Perjuangan Nabi Ibrahim AS
dan putranya, Ismail AS hendaknya dapat dijadikan wahana introspeksi diri atas
ketaatan manusia dalam memegang teguh syariat Islam, untuk selanjutnya
ritualitas kurban diharapkan mampu membentuk pribadi muslim yang peduli
terhadap masyarakat dan lingkungan sekelilingnya. Sebagai manusia yang siap
berkorban dan mengulurkan tangan untuk membantu dan meringankan penderitaan
kepada sesama, terutama kepada umat yang lemah dan membutuhkan (kaum dlu’afa
dan masakin).
Di akhir tulisan ini,
penulis mengajak apabila kita memiliki kenikmatan, hendaknya berbagi kenikmatan
itu kepada yang membutuhkan. Apabila ada orang lain menderita, kita membantu
untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi penderitaannya. Bila ada saudara
kita sakit, hendaknya kita turut mengobati dan berempati kepadanya. Bila ibadah
puasa kita yang lalu mengajak kita merasakan lapar serta dahaga sebagaimana
orang-orang miskin sering merasakannya, maka ibadah kurban saat ini mengajak
saudara-saudara kita merasakan nikmatnya kenyang sebagamana kita sering
mengalaminya.
Penulis
: Agus Rodani
Pegawai
pada Kanwil DJKN Kalimantan Barat
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |