Dampak Kolapsnya Silicon Valley Bank terhadap Industri Perbankan Indonesia
Agus Rodani
Jum'at, 17 Maret 2023 |
29276 kali
Baru-baru
ini santer diberitakan bank terbesar keenam belas di Amerika Serikat kolaps.
Kebangkrutan Silicon Valley Bank (SVB) disinyalir disebabkan banyaknya
penarikan dana yang dilakukan oleh perusahaan start up untuk menjaga likuiditas keuangan perusahaannya. Selain
itu, dampak dari pandemik covid-19 yang melanda tiga tahun sebelumnya dan
memanasnya geo politik antara Rusia dan Ukraina sebagai penyebab naiknya harga
barang dan jasa.
Kenaikan
harga barang dan jasa karena kurangnya pasokan baik dari lokal dan luar negeri
mengakibatkan terjadinya inflasi. Guna mengatasi inflasi setiap negara memiliki
kebijakan. Kebijakan tersebut berupa menaikkan suku bunga dengan tujuan
mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat. Penetapan suku bunga yang
tinggi dapat mengurangi masyarakat untuk meminjam atau menghabiskan uang secara
berlebihan. Selain itu dapat mengurangi permintaan barang dan jasa sehingga
produsen cenderung untuk menurunkan harga.
Sedikit
informasi tentang SVB adalah bank yang khusus menyediakan layanan untuk
perusahaan teknologi rintisan start up.
Bank ini berkantor pusat di Santa Clara, California, Amerika Serikat. Berdiri
sekitar tahun 1980, yang pada awal berdiri memiliki usaha pembiayaan real estate. Dikarenakan usaha properti
mengalami anjlok pada tahun 1992, SVB beralih pembiayaan pada sektor perusahaan
start up pada tahun 2000 sampai
dengan kolapsnya SVB.
Berdasarkan
beberapa sumber yang penulis dapatkan, penyebab utama kolapsnya SVB adalah
kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat. Federal Reserve telah menaikkan suku
bunga dari rekor terendahnya sejak tahun 2022 dalam upayanya untuk menekan
inflasi. Hal ini menyebabkan para investor cederung takut mengambil risiko
dimana uang tunai yang tersedia menjadi mahal karena suku bunga yang tinggi.
Hal ini berdampak para investor pada perusahaan rintisan teknologi start up sebagai klien utama SVB memilih
untuk hengkang dalam upaya menghindari risiko.
Banyaknya
klien SVB menarik uang untuk memenuhi kebutuhan likuiditas mengakibatkan SVB
kesulitan untuk menyediakan dana penarikan tersebut. Upaya SVB untuk memenuhi
melalui penjualan sahamnya yang bernilai 2,25 miliar Dollar AS. Namun yang
terjadi saham tersebut turun nilainya sampai dengan 60% sehingga perusahaan
yang berniat membeli saham tersebut batal dan penjualan saham mengalami
kegagalan. Akhirnya SVB mencari alternatif pendanaan lain salah satunya dengan
penjualan perusahaan, akan tetapi Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) malahan
mengumumkan untuk menutup SVB.
Lalu
Bagaimana dampak kolapsnya SVB dengan industri perbankan Indonesia? Berdasarkan
pendapat dari beberapa Pakar Ekonomi Indonesia, Menteri Keuangan Republik Indonesia dan Kepala
Eksekutif Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penulis dapat simpulkan sebagai berikut
:
1. Sejak terjadinya krisis pada tahun
1998, industri perbankan Indonesia mengalami perombakan/ perbaikan
besar-besaran. Sistem perbankan di Indonesia menjadi kuat, resilien dan stabil.
Hal ini tercermin dari kinerja perbankan di Indonesia terjaga dengan baik dan
tumbuh positif di tengah tekanan ekonomi baik domestik maupun global;
2. Perbankan di Indonesia tidak memiliki
hubungan langsung sebagai pemegang investasi atau hubungan bisnis langsung
dengan SVB. Klien SVB sebagian besar adalah perusahaan rintisan teknologi start up.
3. Likuiditas rata-rata perbankan di
Indonesia sangat baik. Pada September 2022, rasio alat likuid terhadap dana
pihak ketiga (AL/DPK) masih tinggi mencapai 27,35 persen. Aset perbankan juga terjaga
pada komposisi yang proporsional dengan komposisi Dana Pihak Ketiga (DPK)
didominasi oleh current account and
saving account (CASA) atau dana murah yang semakin meningkat sehingga tidak
sensitif terhadap pergerakan suku bunga;
Hasil
pemantauan perkembangan indikator terkait kondisi perekonomian dan keuangan,
baik domestik, regional maupun global sesuai laporan Ekonomi dan Keuangan untuk
periode 6 sampai dengan 12 Februari 2023 yang dibuat Kepala Badan Kebijakan
Fiskal, Kementerian Keuangan dapat disampaikan indeks saham di Amerika Serikat,
Eropa dan Asia mayoritas bergerak melemah. Kekhawatiran terhadap resesi menjadi
sentimen utama di pasar saham global;
Indeks Dolar AS dan yield US Treasury menguat di tengah sinyal hawkish yang
disampaikan oleh the Fed; harga komoditas minyak mentah dan CPO menguat.
Sebaliknya, harga batu bara melemah dalam sepekan, di tengah masih lemahnya
permintaan dan prakiraan cuaca di Eropa yang lebih hangat;
Di
pasar keuangan domestic, IHSG melemah 0,45 persen, dengan yield SUN seri benchmark
bergerak naik antara 9 bps hingga 15 bps dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara
itu nilai tukar rupiah melemah sebesar 1,62 persen; Dari perekonomian global,
perkembangan pertumbuhan ekonomi tahun 2022 bervariasi di berbagai negara
dengan berbagai risiko yang masih harus diwaspadai. Dari dalam negeri,
perekonomian domestik melanjutkan tren penguatan yang tercermin dari sejumlah
indikator konsumsi masyarakat yang tetap positif. Selain itu, cadangan devisa
Indonesia periode Januari 2023 semakin meningkat.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas,
penulis memberikan pandangan penanganan dampak kolapsnya SVB terhadap ekonomi
atau industri perbankan Indonesia sebagai berikut: Indonesia tetap harus waspada dan hati-hati
terhadap dampak yang ditimbulkan dari kolapsnya SVB terhadap perekonomian dan
keuangan Indonesia. Secara umum belum akan mendorong pelemahan PDB Indonesia kecuali
apabila krisis perbankan ini menjadi trigger lanjutan dari krisis global seperti
tahun 2008. Pembuat kebijakan (regulator) harus segera bertindak cepat
memitigasi dampak dari risiko volatilitas akibat kolapsnya SVB.
Kolapsnya SVB dapat menyebabkan investor
akan cenderung lebih berhati-hati dan selektif untuk mendanai start up di tanah air. Akan terjadi
potensi penurunan dari sisi nilai pendanaan perusahaan start up di Indonesia
akibat sentimen negatif dari kejadian kebangkrutan SVB ini. Kabar baiknya regulator
AS akan menanggung dana deposan. Di mana rupiah cenderung bergerak menguat
hingga ke level Rp 15.300. Kasus SVB dapat menjadi pelajaran penting terkait concentrated risk serta risiko dari
kepemilikan obligasi di sektor perbankan, yang bila tidak dikelola dengan baik,
berpotensi mendorong krisis likuiditas perbankan. Apa yang terjadi pada SVB
setidaknya dapat menjadi studi kasus untuk para pengambil kebijakan moneter dan
keuangan di tanah air. Agar permodalan bank jangan terfokus pada sumber yang
berasal dari satu sektor saja. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) harus
terus memonitor perkembangan penanganan SVB, sekaligus mempersiapkan semua
alternatif respons atas semua kemungkinan yang bisa terjadi, guna meminimalkan
dampaknya ke pasar keuangan dan perekonomian Indonesia
Demikian yang dapat penulis sampaikan.
Harapan penulis semoga kejadian kolapsnya SVB bisa menjadi pelajaran yang
berguna dalam memitigasi risiko kemungkinan terjadinya krisis likuiditas
perbankan di Indonesia sehingga industri perbankan di Indonesia menjadi kuat
dan sehat sebagai motor pembiayaan kemajuan perekonomian Indonesia.
Penulis
: Agus Rodani
Pegawai pada Kanwil
DJKN Kalimantan Barat
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |