Implementasi Semangat Hari Pahlawan Bagi Generasi Milenial
Agus Rodani
Jum'at, 04 November 2022 |
3629 kali
Indonesia
telah memproklamasikan kemerdekaan melalui tokoh proklamator pada tanggal 17
Agustus 1945, namun para penjajah belum mengakui dan enggan melepaskan belenggu
penjajahan di bumi pertiwi. Segala upaya tentara Belanda dan tentara sekutu melalui
kekuatan militer menekan bangsa Indonesia untuk tunduk dibawah penguasaan penjajah.
Sebagaimana
yang terjadi di kota Surabaya, rakyat melakukan perlawanan terhadap penguasaan
tentara Inggris yang ingin kembali menguasai Indonesia. Perlu kami sampaikan kronologi
terjadinya peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Pertempuran bermula
setelah penandatanganan gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak
tentara Inggris pada 29 Oktober 1945. Kala itu, keadaan berangsur-angsur
mereda. Meski begitu, bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara
Inggris di Surabaya masih tetap terjadi.
Puncak
bentrokan disebabkan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby (Pimpinan Tentara
Inggris untuk Jawa Timur) pada tanggal 30 Oktober 1945. Kematian Jendral
Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia. Hal itu
menyebabkan dikeluarkannya Ultimatum 10 November 1945 oleh pengganti Mallaby
yakni Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh.
Pihak
Inggris mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 yang berisikan perintah kepada pihak
Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara
AFNEI dan administrasi NICA serta ancaman akan menggempur kota Surabaya dari
darat, laut, dan udara apabila orang-orang Indonesia tidak menaati perintah
Inggris.
Mereka
juga mengeluarkan instruksi yang isinya bahwa semua pimpinan bangsa Indonesia
dan para pemuda di Surabaya harus datang selambat-lambatnya pada tanggal 10
November 1945, pukul 06.00 pagi di tempat yang telah ditentukan. Namun,
ultimatum itu tidak diindahkan oleh rakyat Surabaya, sehingga terjadilah
pertempuran Surabaya yang amat hebat pada tanggal 10 November 1945, selama
lebih kurang tiga minggu lamanya.
Pertempuran
10 November di Surabaya telah mengakibatkan sekitar 20 ribu rakyat Surabaya
menjadi korban, sebagian besar adalah warga sipil. Selain itu, diperkirakan 150
ribu orang terpaksa meninggalkan kota Surabaya dan tercatat sekitar 1.600 orang
prajurit Inggris tewas, hilang dan luka-luka serta puluhan alat perang rusak
dan hancur. Beberapa Pahlawan
Nasional yang juga memiliki andil dalam Pertempuran 10 November 1945 di
Surabaya, di antaranya adalah KH. Hasyim Asy'ari, Gubernur Surjo, Bung Tomo dan
Moestopo.
Dalam rangka memperingati perjuangan
rakyat Indonesia yang gugur dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya
dijadikan pengingat kenapa 10 November dijadikan Hari Pahlawan.
Lalu,
apa makna pahlawan menurut persepsi generasi milenial saat ini? Sebagaimana
kita pahami, makna pahlawan adalah orang secara langsung maupun tidak langsung
berjasa bagi bangsa negara ini, dengan berkontribusi membebaskan negara ini
dari belenggu penjajah menggapai kemerdekaan.
Namun,
makna pahlawan sekarang ini mulai bergeser bukan saja yang berjasa dalam
perjuangan kemerdekaan tetapi juga seseorang yang berjasa di semua bidang yang bermanfaat
bagi banyak orang.
Bagi
generasi milenial, pahlawan mungkin dapat dipersepsikan sebagai mereka yang
dapat memberi perubahan ke arah lebih baik di masyarakat atau mereka yang dapat
membawa pengaruh positif bahkan menciptakan inovasi-inovasi untuk kehidupan.
Berdasarkan
jajak pendapat yang dilakukan oleh Litbang Kompas pada tahun 2019, ada beberapa
aspek penilaian yang menjadi batu pijakan untuk melihat bagaimana kaum milenial
memandang pahlawan. Untuk memahami bagaimana milenial memandang makna pahlawan,
ada 3 latar belakang yang perlu dilihat terlebih dahulu, yaitu: Pertama,
Persoalan bangsa yang paling membutuhkan sikap kepahlawanan. Ada
berbagai persoalan bangsa yang sangat membutuhkan hadirnya pahlawan di
Indonesia. Kaum milenial menganggap penegakan hukum sebanyak 36,2 persen sebagai
persoalan terbesar. Persoalan berikutnya adalah pluralisme dan toleransi sebanyak
24,4 persen, pemberantasan korupsi sebanyak 23,2 persen, kedaulatan ekonomi
sebanyak 5,2 persen, dan penanggulangan narkoba sebanyak 3,7 persen.
Kedua,
Kriteria paling tepat untuk mengukur kepahlawanan di masa kini. Sebanyak 26,6 persen milenial
mengaku bahwa kriteria untuk mengukur kepahlawanan adalah kemampuan dalam
mempertahankan kesatuan bangsa. Di bawahnya secara berturut-turut dijawab
dengan adanya keberanian dalam menegakan keadilan dan kebenaran sebanyak 24,9
persen, berprestasi dan berguna bagi banyak orang 21 persen, dan berani berkorban
untuk kepentingan umum sebanyak 18,1 persen.
Ketiga,
Sosok yang paling tepat untuk menggambarkan pahlawan masa kini. Bagi Milenial, sosok yang paling
tepat untuk menggambarkan pahlawan adalah sosok yang kreatif dan inovatif di
bidang teknologi informasi sebanyak 32,8 persen, entrepreneur yang
menciptakan banyak lapangan pekerjaan sebanyak 11,5 persen, ilmuwan sebanyak 11,5 persen, pekerja seni dan budaya
yang mengharumkan nama bangsa sebanyak 11,3 persen, tokoh agama atau spiritual sebanyak
7,6 persen, dan para atlet yang mengharumkan nama bangsa di panggung
internasional sebanyak 59 persen.
Setelah
melihat hasil dari jajak pendapat Litbang Kompas di atas, kita dapat menarik
kesimpulan bahwa pahlawan dalam perspektif milenial adalah orang-orang yang
rela berjuang dalam penegakan hukum, orang-orang yang menguasai teknologi
digital, para inovator yang menelurkan gagasan dan produk berkualitas demi
Indonesia, serta para tokoh masyarakat, atlet dan pengusaha yang memiliki
kemampuan dalam menjaga kesatuan bangsa, mengharumkan nama bangsa, serta mampu
mendorong peningkatan ekonomi masyarakat.
Berdasarkan
pendapat pribadi penulis, untuk menjadi pahlawan kita dapat memulai dari diri
sendiri, keluarga, kemudian pada masyarakat. Menjadi pahlawan tidak perlu
menunggu menjadi kaya, mempunyai jabatan tinggi atau selebritis terlebih
dahulu. Kita dapat memaksimalkan potensi yang kita miliki untuk bekerja
memberikan manfaat yang terbaik buat orang lain. Masing-masing manusia bisa
memberikan manfaat sesuai dengan keahlian di bidangnya. Apakah itu ilmu
pengetahuan teknologi, harta kekayaan, tenaga, pemikiran, dan keahlian lainnya.
Bisa melalui sektor ekonomi, olah raga, seni, politik, sosial budaya,
pertahanan dan keamanan.
Demikian
yang dapat penulis paparkan. Harapan penulis, semoga generasi milenial
Indonesia bisa menghargai dan meneruskan semangat para pahlawan. Menjadi
pahlawan sesuai dengan bidang dan keahlian yang dimiliki. Generasi yang
mengharumkan nama Indonesia dengan prestasi di tingkat regional maupun
internasional.
Penulis
: Agus Rodani
Pegawai
pada Kanwil DJKN Kalimantan Barat
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |