Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Kalimantan Barat
Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global

Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global

Thaus Sugihilmi Arya Putra
Rabu, 20 Juli 2022 |   20910 kali

Tahun 2022, perekonomian dunia mengalami ketidakpastian. Di samping masih menghadapi pandemi Covid-19, perang Rusia-Ukraina memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap perekonomian global karena kedua negara merupakan produsen utama beberapa komoditas yang dibutuhkan dunia. Rusia merupakan eksportir utama energi (BBM, batu bara dan gas alam cair) dan gandum. Rusia memiliki cadangan gas alam terbesar di dunia dan termurah. Eropa sangat tergantung kepada pasokan gas Rusia. Sementara itu, Ukraina adalah eksportir utama seed oil, jagung dan gandum.

            Perang Rusia-Ukraina menyebabkan pasokan energi ke Eropa terhambat dan terganggunya supply chain beberapa komoditas yang dibutuhkan industri. Hal ini akan mempengaruhi kinerja industri dan tumah tangga, meningkatnya harga bahan makanan dan komoditas termasuk BBM. Kondisi ini memicu inflasi yang tinggi, sehingga berpotensi menyebabkan resesi ekonomi pada beberapa negara dan menekan pertumbuhan ekonomi global. OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun 2022 adalah sebesar 3 persen, turun dari perkiraan 4,5 persen. Negara-negara dengan size ekonomi besar (Amerika Serikat, China, Jepang, India dan negara Eropa) akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi.

            Melihat kondisi di atas, tentu perekonomian Indonesia akan terdampak, namun pemerintah bersama dengan otoritas moneter dan keuangan telah mengantisipasi hal tersebut. Perekonomian Indonesia sampai semester II 2022 masih menunjukkan kinerja yang positif. Beberapa indikatornya adalah:

-        Tingkat inflasi yang masih rendah sebesar 3,19 persen pada semester I 2022. Inflasi ini mempengaruhi kenaikan harga barang/jasa dan mempengaruhi daya beli masyarakat. Pemerintah dan otoritas lainnya berusaha menekan kenaikan harga barang. Pemerintah melakukan subsidi untuk komoditas yang memberikan multiplier effect dan berdampak pada masyarakat berpenghasilan rendah (misalnya subsidi BBM, listrik, pupuk) dan menyediakan barang termasuk kebutuhan pokok.

-        Surplus neraca perdagangan mencapai USD 7,56 miliar per April 2022. Nilai ekspor bulan April tumbuh 47,76 persen, sementara impor tumbuh sebesar 21,97 persen. Surplus tersebut juga merupakan sinyal positif terhadap ketahanan eksternal ekonomi Indonesia. Dari suplus tersebut juga tergambar struktur ekonomi Indonesia yang semakin baik dimana manufaktur memberikan kontribusi pertumbuhan ekspor sebesar 27 persen. Oleh sebab itu, kebijakan pemerintah untuk melakukan hilirisasi produk harus terus dilaksanakan. Hal ini akan memberikan nilai tambah yang tinggi untuk perekonomian nasional dan menciptakan lapangan kerja.

-        Pertumbuhan Ekonomi pada Quartal I yang mencapai 5,01 persen menggambarkan aktivitas ekonomi bertumbuh. Beberapa sektor penyumbang pertumbuhan ekonomi tersebut adalah industri pengolahan, farmasi dan obat-obatan, perdagangan, pertambangan, transportasi, konsumsi masyarakat, dan investasi. Bank Dunia melalui Laporan Indonesia Economic Prospect bulan Juni 2022, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,1 persen tahun 2022. 

-        Pendapatan perpajakan semester I 2022, telah mencapai Rp 868,3 triliun atau 58,5 persen dari target tahun 2022 senilai Rp 1.485 triliun. Adapun penyumbang utamanya antara lain kenaikan harga komoditas, berhasilnya pemulihan ekonomi dan tumbuhnya usaha di beberapa sektor termasuk industri pengolahan. Penerimaan pajak juga ditopang oleh tumbuhnya konsumsi rumah tangga, meningkatnya investasi dan peningkatan ekspor yang signifikan. 

-        Utang Indonesia per akhir Mei 2022 adalah sebesar Rp7.002,24 triliun. Utang tersebut merupakan instrumen pembangunan untuk sektor-sektor yang memberikan multiplier effect misalnya infrastruktur di sektor perhubungan, pertanian, dan sektor energi. Infrastruktur tersebut memperlancar arus manusia dan barang, menciptakan sentra pertumbuhan ekonomi baru, meningkatkan daya saing ekonomi dan meningkatkan produktivitas sektor pertanian, perkebunan, industri pengelolahan dan pariwisata.

Jumlah  utang  tersebut  berada  pada  posisi  yang  aman  dengan  pertimbangan,

1) jumlah utang sebesar 38,88 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, jauh di bawah rasio utang yang diamanatkan UU Keuangan Negara, yakni sebesar 60 persen dari PDB. 2) Porsi utang didominasi Surat Berharga Negara sebesar 88,2 persen yang menggambarkan kemandirian pembiayaan, peran masyarakat dalam pembangunan serta resiko yang minimal. 3) Utang didominasi Rupiah sebesar 70,68 persen, sehingga mengurangi resiko terhadap fluktuasi nilai tukar dan mengoptimalkan sumber daya domestik. 4) porsi utang jangka panjang lebih dari 90 persen dari total Utang, sehingga Pemerintah mempunyai kesempatan dan keleluasaan untuk mengambil kebijakan pembayaran utang yang lebih baik.

 

Melihat kondisi di atas, ekonomi Indonesia optimis akan berkinerja positif di tengah ketidakpastian ekonomi global namun tetap waspada. Kenaikan inflasi yang sangat tinggi dan ancaman resesi di beberapa negara membuat negara-negara terkait akan mengambil kebijakan misalnya menaikkan suku bunga, yang mempengaruhi ekonomi Indonesia. Untuk itu, Pemerintah senantiasa melakukan antisipasi dengan mengambil kebijakan fiskal, moneter yang tepat dan memperkuat sistem keuangan sehingga dampak ekonomi global terhadap perekonomian nasional dapat diminimalkan.

 

Edward UP Nainggolan

Kakanwil Ditjen Kekayaan Negara Kalimantan Barat

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon