Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global
Thaus Sugihilmi Arya Putra
Rabu, 20 Juli 2022 |
20910 kali
Tahun 2022,
perekonomian dunia mengalami ketidakpastian. Di samping masih menghadapi pandemi
Covid-19, perang Rusia-Ukraina memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap
perekonomian global karena kedua negara merupakan produsen utama beberapa
komoditas yang dibutuhkan dunia. Rusia merupakan eksportir utama energi (BBM,
batu bara dan gas alam cair) dan gandum. Rusia memiliki cadangan gas alam
terbesar di dunia dan termurah. Eropa sangat tergantung kepada pasokan gas
Rusia. Sementara itu, Ukraina adalah eksportir utama seed oil,
jagung dan gandum.
Perang
Rusia-Ukraina menyebabkan pasokan energi ke Eropa terhambat dan terganggunya supply
chain beberapa komoditas yang dibutuhkan industri. Hal ini akan
mempengaruhi kinerja industri dan tumah tangga, meningkatnya harga bahan
makanan dan komoditas termasuk BBM. Kondisi ini memicu inflasi yang tinggi, sehingga
berpotensi menyebabkan resesi ekonomi pada beberapa negara dan menekan
pertumbuhan ekonomi global. OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun
2022 adalah sebesar 3 persen, turun dari perkiraan 4,5 persen. Negara-negara
dengan size ekonomi besar (Amerika Serikat, China, Jepang, India dan
negara Eropa) akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Melihat
kondisi di atas, tentu perekonomian Indonesia akan terdampak, namun pemerintah
bersama dengan otoritas moneter dan keuangan telah mengantisipasi hal tersebut.
Perekonomian Indonesia sampai semester II 2022 masih menunjukkan kinerja yang
positif. Beberapa indikatornya adalah:
-
Tingkat inflasi yang masih
rendah sebesar 3,19 persen pada semester I 2022. Inflasi ini mempengaruhi
kenaikan harga barang/jasa dan mempengaruhi daya beli masyarakat. Pemerintah
dan otoritas lainnya berusaha menekan kenaikan harga barang. Pemerintah
melakukan subsidi untuk komoditas yang memberikan multiplier effect dan
berdampak pada masyarakat berpenghasilan rendah (misalnya subsidi BBM, listrik,
pupuk) dan menyediakan barang termasuk kebutuhan pokok.
-
Surplus neraca perdagangan
mencapai USD 7,56 miliar per April 2022. Nilai ekspor bulan April tumbuh 47,76
persen, sementara impor tumbuh sebesar 21,97 persen. Surplus tersebut juga
merupakan sinyal positif terhadap ketahanan eksternal ekonomi Indonesia. Dari
suplus tersebut juga tergambar struktur ekonomi Indonesia yang semakin baik
dimana manufaktur memberikan kontribusi pertumbuhan ekspor sebesar 27 persen.
Oleh sebab itu, kebijakan pemerintah untuk melakukan hilirisasi produk harus
terus dilaksanakan. Hal ini akan memberikan nilai tambah yang tinggi untuk
perekonomian nasional dan menciptakan lapangan kerja.
-
Pertumbuhan Ekonomi pada Quartal
I yang mencapai 5,01 persen menggambarkan aktivitas ekonomi bertumbuh. Beberapa
sektor penyumbang pertumbuhan ekonomi tersebut adalah industri pengolahan,
farmasi dan obat-obatan, perdagangan, pertambangan, transportasi, konsumsi
masyarakat, dan investasi. Bank Dunia melalui Laporan Indonesia Economic
Prospect bulan Juni 2022, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar
5,1 persen tahun 2022.
-
Pendapatan perpajakan
semester I 2022, telah mencapai Rp 868,3 triliun atau 58,5 persen dari target tahun
2022 senilai Rp 1.485 triliun. Adapun penyumbang utamanya antara lain kenaikan
harga komoditas, berhasilnya pemulihan ekonomi dan tumbuhnya usaha di beberapa
sektor termasuk industri pengolahan. Penerimaan pajak juga ditopang oleh tumbuhnya
konsumsi rumah tangga, meningkatnya investasi dan peningkatan ekspor yang
signifikan.
-
Utang Indonesia per akhir
Mei 2022 adalah sebesar Rp7.002,24 triliun. Utang tersebut merupakan instrumen
pembangunan untuk sektor-sektor yang memberikan multiplier effect
misalnya infrastruktur di sektor perhubungan, pertanian, dan sektor energi.
Infrastruktur tersebut memperlancar arus manusia dan barang, menciptakan sentra
pertumbuhan ekonomi baru, meningkatkan daya saing ekonomi dan meningkatkan
produktivitas sektor pertanian, perkebunan, industri pengelolahan dan
pariwisata.
Jumlah utang tersebut berada pada
posisi yang aman dengan pertimbangan,
1) jumlah utang sebesar 38,88 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB)
Indonesia, jauh di bawah rasio utang yang diamanatkan UU Keuangan Negara, yakni
sebesar 60 persen dari PDB. 2) Porsi utang didominasi
Surat Berharga Negara sebesar 88,2 persen yang menggambarkan kemandirian
pembiayaan, peran masyarakat dalam pembangunan serta resiko yang minimal. 3) Utang didominasi
Rupiah sebesar 70,68 persen,
sehingga mengurangi resiko
terhadap fluktuasi nilai tukar dan mengoptimalkan sumber daya domestik. 4)
porsi utang jangka panjang lebih dari 90 persen dari total Utang, sehingga
Pemerintah mempunyai kesempatan dan keleluasaan untuk mengambil kebijakan
pembayaran utang yang lebih baik.
Melihat kondisi di
atas, ekonomi Indonesia optimis akan berkinerja positif di tengah ketidakpastian
ekonomi global namun tetap waspada. Kenaikan inflasi yang sangat tinggi dan
ancaman resesi di beberapa negara membuat negara-negara terkait akan mengambil
kebijakan misalnya menaikkan suku bunga, yang mempengaruhi ekonomi Indonesia. Untuk
itu, Pemerintah senantiasa melakukan antisipasi dengan mengambil kebijakan
fiskal, moneter yang tepat dan memperkuat sistem keuangan sehingga dampak
ekonomi global terhadap perekonomian nasional dapat diminimalkan.
Edward UP Nainggolan
Kakanwil Ditjen Kekayaan
Negara Kalimantan Barat
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |