Menyongsong Hari Raya Qurban dengan Meneladani Nabi Ibrahim AS Melalui Totalitas Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN)
Thaus Sugihilmi Arya Putra
Senin, 04 Juli 2022 |
21835 kali
Pemerintah RI melalui sidang isbat yang diadakan
Kementerian Agama RI telah menetapkan 1 Zulhijah 1443 H jatuh pada hari Jumat
tanggal 1 Juli 2022 sehingga Hari Raya Idul Adha jatuh pada hari Ahad/Minggu
tanggal 10 Juli 2022. Walaupun beberapa ormas keagamaan ada yang menetapkan
Hari Raya Idul Adha jatuh pada hari Sabtu tanggal 9 Juli 2022. Perbedaan waktu
ini hendaknya tidak menjadikan perpecahan di masyarakat dan diharapkan untuk
saling menghormati adanya perbedaan ini. Sebab adanya perbedaan ini justeru
menjadikan ujian sebagai sebuah bangsa yang besar untuk tidak berpecah belah.
Idul Adha adalah sebuah hari raya
dalam agama Islam untuk memperingati
peristiwa kurban, yaitu
ketika Nabi Ibrahim Alaihissalam
(AS) bersedia mengorbankan putranya Ismail sebagai
wujud kepatuhan terhadap Allah SWT. Sebelum
Nabi Ibrahim AS mengorbankan putranya, Allah SWT menggantikan Ismail dengan
domba. Untuk memperingati kejadian ini, hewan ternak disembelih sebagai kurban
setiap tahun. Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Zulhijah pada penanggalan
kalender Hijriah. Pada hari Idul Adha,
umat Islam berkumpul
pada pagi hari dan melakukan salat Id bersama-sama di
tanah lapang atau di masjid. Setelah salat, penyembelihan hewan kurban dilaksanakan.
Sepertiga daging hewan dikonsumsi oleh keluarga yang berkurban, sementara
sisanya disedekahkan atau dibagikan kepada orang lain.
Esensi dari Idul Adha dalam pekerjaan
sangat sarat makna, dan ada dalam keseharian kita sebagai Aparatur Sipil Negara
(ASN).
1.
Totalitas dalam Loyalitas
Kita memahami bahwa, Idul Adha disebut pula sebagai Idul kurban atau Lebaran
Haji yang ditandai oleh
para jamaah haji dari seluruh dunia dengan berkumpul melaksanakan wukuf di
padang Arafah. Salah satu ujian utama dalam hidup Nabi Ibrahim AS adalah menerima
perintah Allah SWT untuk mengorbankan putra kesayangannya. Perintah ini
diterima Nabi Ibrahim AS melalui mimpi yang terus berulang. Nabi Ibrahim AS tahu
bahwa ini adalah perintah dari Allah SWT dan dia memberi tahu putranya, seperti
yang dinyatakan dalam Al-Qur'an. Dalam QS As Saffat ayat
102 Allah SWT berfirman “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup
berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku
bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia
(Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah)
kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”.
Selama masa persiapan, setan menggoda Ibrahim dan keluarganya
dengan mencoba menghalangi mereka untuk melaksanakan perintah Allah SWT.
Ibrahim kemudian mengusir setan dengan melemparkan kerikil ke arahnya. Untuk
memperingati penolakan mereka terhadap setan, batu-batu dilemparkan dalam
lontar jumrah dalam ibadah haji. Ketika melaksanakan penyembelihan, pisau
Ibrahim tidak dapat melukai Ismail. Allah SWT kemudian mengganti Ismail dengan
seekor hewan sembelihan. Hal ini telah diabadikan dalam QS As Saffat ayat
103-107 yang berbunyi “Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia
(Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (untuk melaksanakan perintah
Allah). Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah
membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada
orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang
nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.
Apa yang bisa diteladani dari Nabi
Ibrahim AS sesungguhnya patut diterapkan dalam bekerja sebagai ASN, karena
totalitas beliau dalam melaksanakan perintah Nya berdasar keyakinan dan niat
terbaik untuk memberikan yang terbaik. Dalam kehidupan sehari-hari, loyalitas
ditunjukkan dengan melaksanakan Amanah dengan baik sehingga juga menjadi suri
tauladan di lingkungan unit kerja.
Kisah
keteladan lainnya dari Nabi Ibrahim, yaitu ketika Beliau diperintahkan oleh
Allah SWT untuk menempatkan istrinya, Siti Hajar bersama Nabi Ismail AS putranya,
yang saat itu masih menyusu. Mereka ditempatkan di suatu lembah yang tandus,
gersang, tidak tumbuh sebatang pohon pun. Lembah itu demikian sunyi dan sepi
tidak ada penghuni seorangpun. Sementara Nabi Ibrahim sendiri tidak tahu, apa
maksud sebenarnya dari wahyu Allah yang menyuruh menempatkan istri dan putranya
yang masih bayi itu di suatu tempat paling asing. Yaitu di sebelah utara kurang
lebih 1600 KM dari negaranya sendiri Palestina. Tapi baik Nabi Ibrahim, maupun
istrinya Siti Hajar, menerima perintah itu dengan ikhlas dan penuh tawakkal.
Keikhlasan dalam menjalani ujian yang ditunjukkan Nabi
Ibrahim AS dan isterinya, Siti Hajar, mencerminkan perilaku ikhlas seorang ASN
saat siap ditempatkan di mana saja dengan berbekal keyakinan bahwa ujian yang
dirasakan tidak akan pernah melewati takaran kekuatan manusia. Keyakinan
tersebut merupakan perwujudan dari totalitas dalam loyalitas.
2. Totalitas dalam Integritas
Idul
Adha dinamai juga “Idul Nahr” artinya hari raya penyembelihan. Hal ini untuk
memperingati ujian paling berat yang menimpa Nabi Ibrahim. Akibat dari
kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan,
Allah memberinya sebuah anugerah, sebuah kehormatan “Khalilullah” (kekasih
Allah). Setelah gelar Al-khalil disandangnya, Malaikat bertanya kepada Allah:
“Ya Tuhanku, mengapa Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasihmu. Padahal ia
disibukkan oleh urusan kekayaannya dan keluarganya?” Allah berfirman: “Jangan menilai
hambaku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriyah, tengoklah isi hatinya dan amal
baktinya!”. Dalam kitab “Misykatul Anwar” disebutkan bahwa konon, Nabi Ibrahim
memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Sementara
dalam Riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai 12.000 ekor
ternak. Suatu jumlah yang menurut orang di zamannya adalah tergolong milliuner.
Ketika pada suatu hari, Ibrahim ditanya oleh seseorang “Milik siapa ternak
sebanyak ini?” maka dijawabnya: “Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku.
Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma
ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku Ismail, niscaya akan aku serahkan
juga.”
Menurut
hemat penulis, apa yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS merupakan bentuk
totalitas hamba-Nya dengan melaksanakan perintah Allah SWT sebagai bukti
ketaatan dan kepatuhan terhadap Allah SWT. Nilai-nilai spiritualitas yang
terkandung pada ketaatan dan kepatuhan Nabi Ibrahim AS pada perintah Allah SWT
bisa diambil ibroh atau hikmahnya
oleh para Aparatur Sipil Negara (ASN). Sebagai ASN yang merupakan aset
pemerintah sudah seharusnya terus
meningkatkan kualitas pelayanan di masing-masing instansi pemerintah.
Fungsi dan peran ASN sebagai pelayan masyarakat harus terus ditingkatkan. Kesadaran ASN untuk bekerja total
dan ikhlas perlu ditanamkan sejak dini mulai dari diri sendiri. Kesadaran
bekerja total serta ikhlas sesuai dengan tujuan revolusi mental ASN perlu terus
ditumbuhkembangkan. Sebab kerja ASN erat kaitannya dengan kepentingan publik yang lebih luas.
Dengan sifat profesionalisme, kemauan belajar, memperbaiki diri, dan
meningkatkan kapasitas keilmuannya, maka para ASN akan mampu memberikan yang
terbaik kepada masyarakat yang dilayaninya.
Apa yang bisa diteladani dari Nabi Ibrahim AS dari hal di
atas? Nabi Ibrahim AS betul-betul melaksanakan perintah Allah SWT dalam rangka
ketaatan kepada Allah SWT bukan karena hitung-hitungan untung rugi secara duniawi
misalnya karena gaji dan bonus. Hal demikian diharapkan dimiliki seorang ASN yaitu agar bekerja dengan ikhlas. Di sini lah
perlunya seorang ASN memiliki totalitas pengabdian sebagai bagian dari nilai
spiritualitas. Melalui nilai-nilai spiritualitas maka pengawasan paling efektif
bagi ASN berasal dari diri masing-masing. Dalam hal ini sebagai umat
beragama, ‘Waskat’ yang selama ini
dipahami sebagai pengawasan melekat dari pimpinan/atasan ASN hendaknya dipahami
sebagai pengawasan malaikat. Akan percuma saja usaha-usaha pemerintah melalui
Kemenpan-RB dengan program-programnya guna mereformasi pegawainya secara
struktural maupun kultural, jika para ASN tidak dengan kesadaran sendiri
melakukan revolusi mental. Sebab perubahan secara struktural itu mudah, tinggal
dibuat aturan struktur. Namun yang lebih sulit adalah mengubah mindset
dan itu pendekatannya dengan cara mengubah nilai-nilai. Antara lain dengan
menanamkan nilai-nilai spiritualitas. Diharapkan akan timbul kesadaran bahwa
apa yang dilakukan ada yang mengawasi. Lalu memberi makna yang lebih dalam
bahwa dalam setiap pekerjaan mempunyai kaitan lebih tinggi yang penting sekali
bukan sekedar gaji, bonus, tunjangan kinerja yang diharapkan melainkan adalah
cara beribadah kepada Sang Khalik. Sehingga akan timbul kebiasaan bersikap
jujur di kalangan ASN. Dengan jujur, kerentanan terjadinya korupsi akan bisa diminimalkan. Bekerja dengan totalitas dalam
integritas, di mana kuat dalam menghadapi godaan, baik dalam bentuk materi,
berkata, berperilaku, dan berlaku jujur.
Totalitas,
adalah tekad yang perlu dimiliki seorang ASN yang nantinya menguatkan
profesionalismenya dengan cara mempertahankan prinsip netralitas. ASN harus
menjunjung tinggi prinsip netralitas dalam menyelenggarakan tugas Negara sesuai
dengan kode etik yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004
tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik. Jika prinsip ini dipedomani maka
akan menjadi basis idealis pengabdiannya pada pelayanan publik yang prima dalam
mewujudkan tanggungjawab, moralitas, dan disiplin ASN dalam mengemban amanah
Negara.
Netralitas
berasal dari kata “netral” yang berarti tidak membantu atau tidak mengikuti
salah satu pihak. Netralitas adalah suatu keadaan dan sikap yang tidak
memihak/bebas terhadap kubu, sebab ASN harus memiliki sikap yang tidak memihak
dan tidak berpihak terhadap salah satu kelompok/golongan, termasuk tidak
diskriminatif dan steril dari
kepentingan kelompok sosial dan kepentingan partai politik sebagaimana
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian pasal 2 (dua)
“Pegawai negeri harus netral dari pengaruh semua golongan dan
partai serta tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat”.
Nilai-nilai
spiritualitas ini sangat diharapkan melekat pada diri ASN sehingga muncul sifat-sifat
akuntabilitas, mau dikritik, memperbaiki diri, transparan. Harapannya
adalah agar ASN menjadi paripurna dan memiliki totalitas pengabdian bagi bangsa,
negara, dan masyarakat sebagai bagian
dari pengabdiannya kepada Sang Khalik. Setinggi apapun amanah atau jenjang jabatan yang diemban, setiap
individu ASN bekerja dengan mengingat sebab tujuan penciptaan manusia yang utama yaitu untuk senantiasa beribadah serta bertakwa hanya kepada Allah SWT.
Hal ini termaktub dalam firman Allah yang diabadikan dalam QS Al-Dzariyat ayat
56 yang berbunyi: "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku".
Penciptaan manusia di bumi oleh Allah SWT yaitu untuk menjadi khalifah sesuai dengan firman
Allah SWT pada QS Al Baqarah ayat 30 yang berbunyi "Ingatlah ketika
Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Tentunya
tugas sebagai khalifah di bumi ini sangat berat sehingga setiap manusia harus
memiliki kemampuan mengelola alam semesta
sesuai amanat yang diemban sebab kelak akan dimintai pertanggungjawaban di
hadapan Allah SWT. Dan dengan totalitas kita
sebagai ASN, tanggung jawab itu sebaiknya disadari sejak kita menjalani Amanah
dalam bekerja, mewujudkan nilai spiritualitas dan mencontoh teladan Nabi Ibrahim
AS di masanya. (Ditulis oleh Thaus Sugihilmi Arya Putra dan Agus Rodani/ Kepala Seksi Informasi dan Staf Pelaksana pada Kanwil DJKN Kalbar)
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |