Tahun Baru, Semangat Baru Jadikan Setiap Perubahan Sebagai Peluang
Agus Budianta
Selasa, 21 Januari 2020 |
4047 kali
Tahun 2020 kita sambut
dengan semangat baru demi tercapainya tujuan individu maupun organisasi. Perjalanan
dan indikator kinerja kita ke depan tentu akan lebih menantang. Pada saat ini, perubahan
berjalan dengan begitu cepat dan bertubi-tubi serta fundamental sehingga
layanan atau produk yang dulu dibangga-banggakan bisa jadi sekarang sudah
dianggap usang atau sudah ketinggalan zaman. Dunia telah berubah dimana
aktivitas ekonomi telah memasuki ekonomi digital dan semua aktivitas dilakukan
dengan memanfaatkan teknologi digital. Kita bisa melihat perkembangan Gojek, Bukalapak,
Tokopedia dan lain-lain dengan berbagai layanannya. Teknologi telah menggeser banyak hal dalam penyelenggaran
pelayanan dan kehidupan.
Perubahan seharusnya merupakan hal yang biasa bagi setiap manusia maupun organisasi. Salah satu temuan yang paling
banyak tercatat di dalam berbagai kajian terhadap perilaku individual dan
organisasi adalah seringkali organisasi dan
para anggotanya menentang perubahan (resisten terhadap perubahan).
Sumber-sumber individual dari resistensi ada dalam
karakteristik dasar manusia seperti persepsi, kepribadian, dan kebutuhan.
Sumber organisasional terletak di dalam struktur organisasi itu sendiri
(manajemen). Saat ini semakin banyak bermunculan non tradisional
company atau yang sering dikenal dengan sebutan startup yang melakukan inovasi
terhadap layanan dengan memanfaatkan teknologi digital yang men-disrupsi
organisasi-organisasi atau cara-cara tradisional.
Para
pimpinan yang ada di struktur organisasi
merupakan agen utama perubahan.
Dengan keputusan yang mereka buat dan perilaku mereka menjadi role model dan membentuk
kultur perubahan dalam organisasi. Keputusan, kebijakan dan praktik-praktik
manajemen akan menentukan sampai mana organisasi belajar dan beradaptasi dengan
faktor lingkungan yang senantiasa berubah bahkan secara drastis
perubahannya. Oleh karena itu, ahli-ahli manajemen
menyatakan bahwa seharusnya perubahan terbaik dilakukan pada saat organisasi
sedang mengalami masa “senang-senang” yaitu pada saat layanan berjalan dengan baik dan
semua orang bangga terhadap organisasi. Akan tetapi pada masa ini orang-orang
cenderung tidak tertarik untuk berubah dan mengatakan “Kalau tidak ada yang
rusak, mengapa harus berubah.”. Manajemen sebagai agen perubahan harus mampu
mengatakan “kalau tidak segera diperbaiki, ini akan rusak.” sehingga akan
muncul semangat perubahan bagi kemajuan organisasi.
Kita bisa
berkaca dari kasus perusahaan ponsel Nokia yang kalah dalam persaingan. Pada
saat konferensi pers untuk mengumumkan pembelian Nokia oleh Microsoft, CEO
Nokia Stephen Elop mengakhiri pembicaraannya dengan berkata “Kami tidak membuat
kesalahan, tetapi bagaimana kami bisa kalah”. Nokia merupakan perusahaan ponsel
terbesar dan mereka tidak membuat kesalahan dalam bisnisnya, tetapi mereka
kalah dalam persaingan karena siklus
bisnis dunia yang berubah sangat cepat, serta persaingan yang kuat mengalahkan
mereka. Nokia terlalu nyaman menikmati masa senang-senang dengan penjualan
ponselnya sehingga mereka lupa untuk
berubah seiring dengan tren masa kini. Di saat perusahaan produsen ponsel lain
sedang sibuk mengeluarkan ponsel Android yang baru, Nokia masih nyaman dengan
ponsel-ponsel Symbian mereka. Dan akhirnya mereka kalah bersaing dengan ponsel
android yang berkembang sangat cepat. Pelajaran yang dapat diambil dari kasus
nokia tersebut adalah jika kita tidak berubah seiring dengan perkembangan
waktu, maka kita akan keluar dari kompetisi atau persaingan.
Hal ini
sering disebut paradoks of change
yaitu “Pada saat perubahan harus dilakukan, orang-orang merasa tidak ada
kebutuhan sama sekali, sebaliknya, pada saat dituntut untuk berubah, organisasi
sudah tidak mempunyai daya sama sekali”. Karena itu, kuncinya ada pada
manajemen sebagai agen utama perubahan. Perubahan memerlukan langkah-langkah
strategis dan perubahan tidak akan mungkin dilakukan hanya merubah sistem
organisasi tanpa memperhatikan kesiapan sumber daya manusianya. Penulis
berkeyakinan bahwa sumber daya manusia sesungguhnya bukan enggan
berubah, melainkan perlu menyadari perubahan itu justru menjadi tuntutan bagi
dirinya.
Sumber daya manusia memiliki suatu sifat yang unik yang diharapkan mampu melahirkan kompetensi inti (core competence) bagi organisasi. Dengan kompetensi inti yang unik dan tidak mudak ditiru diharapkan akan mampu menciptakan keunggulan bersaing yang langgeng bagi organisasi. Pendorong semua perubahan yang ada di organisasi adalah sumber daya manusianya dengan menciptakan teknologi yang menunjang mobilitas dan performance pegawai dalam merespon perubahan tiada henti. Teknologi senantiasa berkembang dan akan mengantarkan kita ke kehidupan yang baru. Sebagian besar orang berpandangan bahwa manusia pada dasarnya enggan untuk berubah (resist to change) dan cenderung menyalahkan keadaan. Akan tetapi sesungguhnya, manusia itu mau dan bisa berubah namun enggan atau bahkan tidak mau “dirubah”. Karena itu, perubahan memerlukan manajemen dan tidak dapat digulirkan dengan sendirinya. Hal ini menunjukkan manajemen memiliki peran dominan dalam perubahan organisasi. Menurut para ahli manajemen, untuk menciptakan perubahan dibutuhkan perasaan-perasaan tidak puas terhadap kondisi yang ada saat ini.
Pimpinan yang efektif mampu mengelola
baik diri mereka sendiri maupun orang yang bekerja dengan mereka sehingga organisasi dan orang-orang itu
diuntungkan oleh kehadirannya. Oleh karena itu, diharapkan para pimpinan organisasi mampu memberikan rasa nyaman sehingga
para pegawai merasa yakin dengan diri mereka sendiri dan akan banyak pekerjaan yang
dapat diselesaikannya serta melakukan inovasi. Produk atau jasa yang kita bangga-banggakan di
masa lalu untuk mendukung organisasi bisa jadi sudah menjadi usang dan
ketinggalan zaman. Data dan informasi menjadi aset penting organisasi dalam
merespon perubahan sehingga mampu bersaing di tengahlingkungan dan perilaku masyarakat. Perubahan
fundamental terjadi karena adanya orang-orang inovatif yang mengeksplorasi masa
depan dan membawanya di kehidupan hari ini dengan teknologi. Sikap tanggap dan
responsive atas perubahan yang sangat cepat terjadi (era disrupsi) akan
mendukung organisasi.
Perubahan
sudah ada di sini, di tengah kita. Kita tidak bisa menolak atau menghindarinya
begitu saja. Kita justru harus masuk ke dalamnya dan ikut bermain bersama,
menjadikan setiap tantangan dan perubahan itu sebagai peluang. Terus senantiasa
belajar, kreatif, gigih, dan memunculkan keunikan (defferensiasi) yang
akan menciptakan nilai bagi keberlanjutan sebagai individu maupun organisasi. “Tidak
menjadi hal yang penting apa yang terjadi padamu, namun yang penting adalah
bagaimana kamu menyikapinya” kata bijak yang menarik untuk kita renungkan. Penulis
terkesan dengan pesan Bapak Dirjen Kekayaan Negara pada saat berkunjung ke
Kalimantan Barat yang dapat menggambarkan bagaimana kita menyikapi perubahan
yang ada pada DJKN yaitu “Teruslah berkarya dan berkinerja prima untuk
memajukan pengelolaan kekayaan negara. Teruslah berkreasi dan berinovasi.
Tetapkan target yang “gila” sekalipun untuk membuat kita semakin waras”.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |