Deni Atif Hidayat | Kamis, 02 Mei 2024 | | 467 kali
Jakarta, 26 April 2024
A. Perkembangan Perekonomian sampai
dengan pertengahan bulan April 2024
·
Perbaikan aktivitas manufaktur global
belum merata (broad based). Indonesia, Filipin'a, Singapura, India, Tiongkok,
Amerika Serikat, Italia, Brazil, Meksiko, Rusia, dan Turki menunjukkan
penguatan dan berada di zona ekspansi. Sementara, Eropa, Jerman, Perancis,
Inggris, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Vietnam, Kanada, Afrika Selatan, dan
Australia masih dalam zona kontraksi.
·
Inflasi global melandai namun potensi
eskalasi konflik geopolitik memberikan tekanan pada harga komoditas. Secara
year-to-date (ytd) sampai dengan 24 April 2024, harga minyak bumi (Brent) naik
14,3persen dan harga CPO naik 6,0persen. Sementara harga gas alam dan batu bara
masih dalam tren menurun, masing-masing turun 34,2persen dan 11,9persen.
·
Prospek perekonomian global stabil
namun berjalan lambat. Faktor risiko bersumber dari masih tingginya potensi
eskalasi tensi geopolitik dan penundaan pemangkasan The Fed Rate yang memicu
lonjakan harga, gejolak pasar keuangan, dan disrupsi rantai pasok global.
·
Kinerja pasar keuangan domestik
terdampak gejolak global, di tengah tekanan risiko konflik geopolitik. Hingga
24 April 2024, Rupiah tercatat melemah sebesar 5,37persen (ytd), sejalan dengan
pelemahan nilai tukar negara lain. Yield SBN Rupiah meningkat 52 bps (ytd),
sementara itu capital outflow di pasar saham dan SBN domestik berlanjut, yaitu
masing-masing sebesar Rp13,08 T (mtd) dan Rp16,65 T (mtd).
·
Surplus neraca perdagangan Maret 2024
berlanjut ke angka USD4,47 miliar (surplus 47 bulan berturut-turut). Nilai
ekspor tercatat USD22,43 miliar, terkontraksi -4,2persen (yoy), sementara impor
sebesar USD17,96 miliar, terkontraksi -12,8persen (yoy).
·
Prospek perekonomian jangka pendek
tetap terjaga. Indeks Keyakinan Konsumen menunjukkan optimisme masyarakat tetap
terjaga tinggi di angka 123,8, Mandiri Spending Indeks menunjukkan konsumsi
terus tumbuh, di level 46,9persen (yoy), dan Indeks Penjualan Riil yang masih
tumbuh positif 3,5persen (yoy). Dari sisi produksi, PMI Manufaktur Indonesia
masih konsisten ekspansi selama 31 bulan berturut-turut, mencapai 54,2 pada
Maret 2024. Konsumsi listrik untuk bisnis tumbuh 7,5persen (yoy), namun
konsumsi listrik industri melemah 1,9persen (yoy) dan konsumsi semen
terkontraksi 1,9persen (yoy) di masa Ramadhan.
·
Inflasi domestik relatif terkendali
(bulan Maret 2024: 3,05persen yoy) dengan harga beras dalam tren menurun.
Inflasi pangan yang sempat meningkat diperkirakan akan turun sejalan dengan
tren penurunan harga beras dengan mulai masuknya musim panen.
·
Ekonomi Indonesia hingga Triwulan I
2024 diperkirakan tumbuh kuat (proyeksi Bloomberg 5,0persen, Nomura 5,3persen,
dan Kemenkeu 5,17persen), didorong kuatnya permintaan domestik yang antara lain
berasal dari belanja negara dan aktivitas terkait pemilu, kenaikan gaji ASN
serta pencairan THR.
B. Kinerja Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara Hingga 31 Maret 2024 Tetap On-Track
·
Kinerja APBN 2024 hingga Triwulan I
cukup baik dan masih mencatatkan surplus, didorong belanja dan pendapatan
negara yang terkendali, namun perlu diwaspadai perlambatan dan normalisasi ke
depannya.
·
Realisasi Belanja Negara mencapai
Rp611,9 triliun (18,4persen dari pagu APBN), atau tumbuh 18,0persen (yoy).
Komponen Belanja Pemerintah Pusat (BPP) terealisasi sebesar Rp427,6 triliun
(17,3persen dari pagu APBN). Belanja K/L terealisasi sebesar Rp222,2 triliun
(20,4persen dari pagu APBN) antara lain dipengaruhi oleh penyaluran bantuan
sosial dan pelaksanaan Pemilu. Belanja Non K/L terealisasi sebesar Rp205,4
triliun (14,9persen dari pagu APBN) antara lain dipengaruhi oleh realisasi
subsidi energi dan pembayaran manfaat pensiun.
·
Anggaran Prioritas tahun 2024 tetap
dijaga dalam rangka merespons dinamika ketahanan pangan dan kesehatan,
pendidikan, dan pembangunan infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan.
Realisasi belanja Kesehatan mencapai Rp31,0 triliun (16,5persen), Ketahanan
Pangan Rp10,6 triliun (9,3persen), Pendidikan Rp133,7 triliun (20,1persen), dan
infrastruktur Rp44,7 triliun (10,5persen).
·
Transfer ke Daerah (TKD) terealisasi
Rp184,3 triliun atau 21,5persen dari pagu, dan tumbuh 7,6persen (yoy). Dana
Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik, Dana Bagi Hasil (DBH),
Dana Desa, Dana Istimewa, dan Insentif Fiskal terealisasi masing-masing sebesar
Rp111,6 triliun, Rp31,2 triliun, Rp24,1 triliun, Rp16,9 triliun, Rp0,2 triliun,
dan Rp0,3 triliun. Sebagian dana TKD lainnya seperti Dana Otonomi Khusus, DAK
Fisik, dan Hibah belum disalurkan karena menunggu penyampaian syarat salur atau
belum masuk jadwal penyaluran.
·
Pembiayaan Investasi telah dicairkan
Rp22,9 triliun, yaitu untuk mendukung peran Indonesia dalam kerja sama
internasional melalui Lembaga Keuangan Internasional (Rp1,9 triliun),
menyediakan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui KPR FLPP
(Rp6 triliun), serta peningkatan akses masyarakat untuk pendidikan dan
keberlanjutan pengembangan pendidikan melalui LPDP (Rp15 triliun).
·
Realisasi Pendapatan Negara mencapai
Rp620,01 triliun (22,1persen dari target APBN) atau turun 4,1persen (yoy).
Penerimaan Pajak mencapai Rp393,91 triliun (19,81persen dari target). Mayoritas
jenis pajak utama tumbuh positif. Pertumbuhan pajak-pajak transaksional (non-PPh
Badan) menunjukkan resiliensi aktivitas ekonomi nasional. Begitu pula
berdasarkan sektornya, mayoritas sektor usaha tumbuh positif, menunjukkan
aktivitas sektoral yang terjaga, terutama dari sektor informasi dan komunikasi,
konstruksi dan real estat, jasa keuangan dan asuransi, serta perdagangan.
·
Penerimaan Kepabeanan dan Cukai
mencapai Rp69,0 triliun (21,5persen dari target APBN), sedikit terkontraksi
(4,5persen (yoy)) disebabkan oleh penurunan penerimaan cukai hasil tembakau.
Bea Masuk terealisasi sebesar Rp11,8 triliun, melambat disebabkan
penurunan rata-rata tarif efektif dan penurunan bea masuk dari komoditas utama.
Bea Keluar terealisasi sebesar Rp4,2 triliun, tumbuh didorong oleh kebijakan
relaksasi ekspor tembaga. Penerimaan Cukai terealisasi sebesar Rp53,0 triliun,
turun sejalan dengan kebijakan pengendalian konsumsi rokok.
·
Realisasi PNBP mencapai Rp156,7
triliun (31,8persen dari target APBN). PNBP tumbuh 10,0persen (yoy) didorong
setoran dividen BUMN Perbankan, meskipun PNBP SDA mengalami perlambatan.
Pendapatan KND tumbuh signifikan mencapai Rp42,9 triliun, sedangkan pendapatan
SDA migas dan nonmigas melambat masing-masing mencapai Rp25,7 triliun Rp27,8
trliliun. PNBP lainnya terealisasi Rp42,4 triliun, antara lain ditopang
kenaikan PNBP K/L yang berasal dari kenaikan pendapatan jasa transportasi
seperti kereta api dan pelabuhan serta pendapatan layanan administrasi dan
hukum. Pendapatan BLU mencapai Rp17,9 triliun, dengan pendapatan jasa layanan
pendidikan dan kesehatan yang mengalami peningkatan rata-rata 35,3persen.
·
APBN 2024 hingga 31 Maret 2024
mencatatkan surplus sebesar Rp8,1 triliun (0,04persen PDB), dengan keseimbangan
primer tercatat positif sebesar Rp122,1 triliun. Pembiayaan anggaran terukur
dan terkendali, mencapai Rp84,0 triliun dengan reallisasi pembiayaan utang
Rp104,7 triliun (turun 53,6persen yoy). Kebutuhan pembiayaan melalui utang
tetap manageable dengan strategi pembiayaan dilakukan secara fleksibel dan
oportunistik dalam aspek timing, tenor, currency, maupun instrumen untuk
mendapatkan pembiayaan yang paling efisien dan optimal.
·
Sebagai kesimpulan, kinerja APBN
sampai dengan akhir Triwulan I 2024 terjaga baik di tengah ketidakpastian
global. Peningkatan aktivitas ekonomi domestik terus berlanjut. Namun demikian,
dampak dari peningkatan tensi geopolitik dan volatilitas pasar keuangan global
perlu terus diwaspadai. APBN terus dioptimalkan sebagai shock absorber untuk
melindungi daya beli masyarakat, menjaga stabilitas ekonomi, dan mendukung
berbagai agenda pembangunan.
***
Deni Surjantoro
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan
Informasi Kementerian Keuangan