Kemenkeu Satu Banten Peduli Baduy
Heri Asya
Jum'at, 27 September 2024 |
245 kali
Lebak, 26 September 2024, rintik gerimis kecil
menyambut kehadiran kami (perwakilan Kemenkeu Satu Banten) di Kawasan Terminal
Cijahe, Kabupaten Lebak. Rasa lelah + 1,5 jam perjalanan dari Rangkas
Bitung terbayarkan dengan sambutan hangat Masyarakat Baduy dalam dan Baduy
Luar. Kami bersama-sama menurunkan paket BAKSOS kebutuhan pokok hasil donasi
dari para pegawai Kemenkeu Satu Banten.
Sebagaimana tagline peringatan Hari
Oeang (HORI) ke-78 tahun ini “Tulus dalam pelayanan, Transformasi berkelanjutan”,
Kemenkeu Satu Banten tidak hanya fokus dalam pencapaian tugas pokok, namun juga
peduli dengan Masyarakat dan lingkungan sekitar.
Djanurindro Wibowo (Kakanwil DJKN Banten) bersama
Cucu Supriatna (Kakanwil DJP Banten), Rahmat Subagio (Kakanwil DJBC Banten) dan
Fitra Krisdianto (mewakili Kepala KPUBC Soekarno Hatta) secara simbolis
masing-masing menyerahkan paket kebutuhan pokok berupa beras, minyak goreng,
garam, mie instan, dan makanan ringan kepada Suku Baduy dalam di Terminal
Cijahe Kabupaten Lebak. Kurang/lebih sekitar 200-an paket diserahkan ke Suku
Baduy dalam maupun Baduy luar melalui perwakilan suku Baduy yang ada di
Terminal Cijahe dan Terminal Ciboleger.
Ditemani beberapa orang suku Baduy luar kamipun
sowan/silaturahmi ke rumah Jaro Desa Cikeusik. menyusuri bukit-bukit kecil naik
turun selama + 35 menit. Perlu diketahui bahwa Baduy atau Kanekes
merupakan salah satu desa di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Di dalamnya
terdapat suku Baduy atau urang Kanekes yang merupakan sekelompok masyarakat
yang memegang teguh kearifan lokal. Terbagi menjadi dua wilayah, yaitu Baduy
Luar dan Baduy Dalam. Perbatasan antara kedua wilayah tersebut ditandai dengan
sebuah gubuk terbuat dari bambu sebagai tempat menginap suku Baduy Dalam ketika
mereka berladang. Baduy Dalam terdiri dari tiga desa, yaitu Cikeusik,
Cikertawarna, dan Cibeo.
Baduy bukanlah suku terasing,
melainkan suku yang mengasingkan diri. Hidup dengan sedikit menghiraukan
kemajuan jaman, tetap tunduk dan setia pada tradisi leluhur, berpola hidup
sederhana dan mandiri, serta sangat memperhatikan kelestarian alam sebagai sumber
kehidupan mereka.
Jaro desa Cikeusik menerima kami
di rumahnya yang khas Baduy banget. Rumah panggung yang didominasi dengan kayu,
bambu dan atap ijuk atau rumbia. Jaro menceritakan seputar kehidupan masyarakat
Baduy dalam termasuk tentang rumahnya dan rumah suku Baduy lainnya. Tidak boleh
memakai paku atau besi. Sebagai gantinya, mereka menggunakan tali dari kulit, akar
pohon atau pasak dari kayu. Meskipun dari bahan-bahan sederhana, namun
rumah-rumah Baduy mampu bertahan hingga ratusan tahun.
Suara Jaro cukup lirih dan
terkesan berhati-hati dalam bertutur, namun pendapat dan sikapnya tegas,
mewakili Baduy Jero (Baduy Dalam) desa Cikeusik dia menolak setiap bantuan jika
ditunggangi unsur-unsur politik ataupun maksud-maksud tertentu. Cucu yang fasik
Bahasa Sundapun langsung menimpali bahwa Kemenkeu Satu Banten tulus berbagi dan
bersilaturahmi tanpa maksud tertentu. Sambil mengobrol kami disuguhi semangkuk
air putih dan beberapa bongkah gula aren yang sedikit manis tapi cukup
mengembalikan energi setelah kaki gemetar berjalan kaki dari Cijahe ke desa
Cikeusik.
Rumah-rumah Baduy dalam berjarak cukup rapat satu hingga dua meter dengan jalanan dari susunan batu kali. Di sudut desa ada satu rumah yang khusus untuk menumbuk padi dengan lesung sepanjang empat meter, saat panen tiba mereka menumbuk padi beramai-ramai.
Laki-laki Baduy dalam berpakaian
serba putih, mulai dari ikat kepala, baju, hingga kain bagian bawah (berfungsi
sebagai celana, hingga batas lutut); baik baju maupun kain bagian bawah
tersebut tidak dijahit. Selalu membawa golok pinggang
yang berfungsi sebagai pengaman diri disamping untuk keperluan di ladang. Selain
itu, mereka kemana-mana berjalan kaki tanpa alas kaki dan tidak boleh naik
kendaraan.
Meskipun mengisolasi diri, mereka
tetap menerima tamu atau pengunjung dari luar dengan beberapa batasan dan
memperbolehkan tamu menginap sehari semalam lebih dari itu pengunjung harus
keluar dari Baduy dalam dulu, baru boleh masuk Kembali ke desa Cikeusik. Setelah
puas berkeliling desa mengenal budaya Baduy dari dekat, kamipun memutuskan
pulang membawa cerita budaya dan vibes Baduy Dalam yang hanya ada dalam ingatan
tanpa ada foto Desa Cikeusik, karena merupakan salah satu pantangan atau
larangan bagi pengunjung untuk mengambil foto ataupun video di desa mereka. Pengunjung
hanya boleh menggambarkan suasana di dalamnya dengan sketsa.
Kebersamaan kami, kepedulian kami, menunjukkan kami Satu Kemenkeu Peduli. Selamat memperingati HORI ke-78.
Foto Terkait Kilas Peristiwa