Siaran Pers Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Banten APBN Kita Regional Banten Per Juni 2023
Wisnu Herjuna
Kamis, 24 Agustus 2023 |
350 kali
Pertumbuhan ekonomi Banten pada Triwulan I Tahun 2023
berbalik arah dari sebelumnya melambat pada Q4 2022 di angka 4.03% menjadi
menguat tajam di angka 4,68%. Pertumbuhan ekonomi Banten Q1 2023 masih lebih
rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional dan pertumbuhan
ekonomi beberapa provinsi lain di Pulau Jawa. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi
Banten Q1 2023 menguat lebih tajam jika dibandingkan provinsi lain.
Share terbesar PDRB Banten sampai dengan Q1 2023 masih tetap
dari sektor Industri Pengolahan sebesar 30,22%. Pertumbuhan pada Q1 2023 ini
memasuki fase ekspansi setelah sebelumnya mengalami perlambatan. Pertumbuhan
ini didorong oleh mulai meningkatnya permintaan domestik, permintaan ekspor dan
perbaikan iklim usaha serta investasi di sektor ini.
Pertumbuhan ekonomi Banten didorong oleh peningkatan
aktivitas di berbagai sektor utama, terutama sektor Transportasi dan
Pergudangan yang tumbuh sebesar 19,42 persen (y-on-y), tertinggi di antara
semua sektor . Sektor ini mendapat dorongan dari peningkatan mobilitas
masyarakat dan barang seiring dengan pelonggaran pembatasan sosial dan
perbaikan kondisi pandemi.
Dari sisi pengeluaran, komponen yang memberikan
kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Banten adalah Total Net Ekspor
yang tumbuh sebesar 19,19 persen (y-on-y). Komponen ini mencerminkan
peningkatan kinerja perdagangan luar negeri Banten yang didukung oleh
permintaan global yang pulih dan daya saing produk lokal. Selain itu, komponen
Konsumsi Rumah Tangga juga tumbuh positif sebesar 1,83 persen, menunjukkan
adanya peningkatan kepercayaan konsumen dan daya beli masyarakat.
Inflasi di Provinsi Banten pada bulan Juni 2023
terkendali di angka 3,15 persen secara tahun ke tahun, atau lebih rendah dari
inflasi nasional yang mencapai 3,5 persen . Inflasi bulanan di Banten sebesar
0,15 persen dipicu oleh kenaikan harga beberapa komoditas barang dan jasa yang
dikonsumsi rumah tangga, seperti bensin, cabai merah, ketimun, dan daging ayam
ras . Meskipun demikian, Banten masih termasuk provinsi dengan inflasi terendah
di Pulau Jawa.
Indikator Kesejahteraan sosial di Banten berdasarkan data terakhir
menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya, Hal tersebut ditunjukkan
dengan penurunan persentase penduduk miskin, tingkat ketimpangan pengeluaran
penduduk, dan tingkat pengangguran terbuka dibandingkan dengan periode
sebelumnya. Persentase penduduk miskin di Banten pada Bulan Maret 2023 sebesar
6,17 persen, menurun 0,07 persen poin dibandingkan September 2022. Jumlah
penduduk miskin sebanyak 826,13 ribu orang, menurun 3,53 ribu orang
dibandingkan September 2022. Tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk di Banten
yang diukur oleh Gini Ratio adalah sebesar 0,368, menurun 0,009 poin
dibandingkan September 2022. Gini Ratio di daerah perkotaan turun sebesar 0,009
poin menjadi 0,372, sementara Gini Ratio di daerah perdesaan naik sebesar 0,005
poin menjadi 0,356. Tingkat pengangguran terbuka di Banten pada Februari 2023
sebesar 7,97 persen, turun sebesar 0,56 persen poin dibandingkan Februari 2022.
Jumlah pengangguran sebanyak 486,35 ribu orang, turun sebanyak 17,9 ribu orang
dibandingkan Februari 2022. Tingkat Pengangguran Terbuka Banten pada Bulan
Februari 2023 menempati peringkat pertama secara nasional, namun demikian angka
TPT Banten menunjukkan tren yang selalu menurun sejak Agustus 2020.
Nilai Tukar Petani (NTP) di Banten pada Juni 2023 mengalami kenaikan
sebesar 0,85 persen dibandingkan Mei 2023, menjadi 103,55. Kenaikan NTP
disebabkan oleh naiknya Indeks Harga Terima Petani (It) dan Indeks Harga Bayar
Petani (Ib), yang menunjukkan adanya peningkatan pendapatan petani dari hasil
penjualan produk pertanian mereka. Komoditas yang menjadi pemicu kenaikan It
antara lain gabah, pisang, dan daging ayam ras, sedangkan komoditas yang
menjadi pemicu kenaikan Ib antara lain ketimun, cabai rawit, dan daging ayam
ras. Sementara itu Nilai Tukar Nelayan di banten pada Bulan Juni 2023 meningkat
menjadi 98,27 walau masih di bawah angka 100.
Selanjutnya data pergerakan transportasi di Banten sebagian besar
menunjukkan peningkatan. Terutama pada lalu lintas tol antara Merak dan Cikupa
meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Demikian pula dengan jumlah penumpang pesawat
di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang Banten meningkat dibandingkan bulan Mei
2023 maupun Bulan Juni 2022. Peningkatan signifikan penumpang pesawat di
Bandara Soekarno Hatta sangat terlihat jika dilihat jumlah penumpang pesawat
Internasionalnya. Sementara itu lalu lintas penyeberangan di Pelabuhan Merak
menurun tajam pada bulan Juni 2023. Peningkatan lalu lintas tol dan penumpang
pesawat menunjukkan peningkatan aktivitas pergerakan masyarakat di masa liburan
sekolah.
Berikutnya data penggunaan energi masyarakat Banten baik energi listrik
maupun bahan bakar minyak menunjukkan grafil yang relatif stabil antar
bulannya. Pemakaian listrik pada Tahun 2023 secara umum relatif meningkat jika
dibandingkan tahun 2021 dan 2022. Sementara itu dengan penggunaan BBM baik
Bensin dan Solar relatif stabil.
Data realisasi APBN untuk lingkup wilayah Banten menunjukkan surplus
sebesar Rp29,08 Triliun yang berasal dari selisih pendapatan negara di Banten
sebesar Rp41,10 Triliun rupiah dan belanja negara di Banten sebesar Rp12,02
Triliun. Kinerja APBN s.d. 30 Juni 2023 baik dan kembali mencatat surplus,
didukung Pendapatan Negara yang mencapai lebih dari 50 persen target, diiringi
Belanja Negara yang terakselerasi
Pendapatan negara merupakan sumber pembiayaan APBN yang berasal dari pajak
dan PNBP, mengalami sedikit kontraksi. Namun, pemerintah terus berupaya
meningkatkan penerimaan pajak dan PNBP melalui reformasi perpajakan,
peningkatan pelayanan, dan penegakan hukum. Pada sisi lain, belanja negara
terus dioptimalkan untuk mendukung peran APBN bagi masyarakat luas. Belanja
negara difokuskan agar dapat berfungsi sebagai instrumen fiskal yang responsif,
inklusif, dan berkelanjutan.
Pemerintah terus berupaya mengoptimalkan penggunaan APBN di Banten pada
semester I Tahun 2023. Sampai dengan 30 Juni 2023, Realisasi belanja negara di Banten
mencapai Rp12,02 triliun atau 46,50 persen dari pagu, tumbuh 1,79 persen
dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Belanja tersebut
terdiri dari Belanja
Kementerian/Lembaga (K/L) di Banten sebesar Rp4,03 triliun atau 43,04 persen
dari pagu, tumbuh 12,10 persen. Belanja K/L di Banten didominasi oleh
pembayaran gaji pada Kementerian Agama dan pembayaran belanja barang pada
Kementerian Pekerjaan Umum. Selain itu Belanja Transfer ke Daerah dan Dana
Desa (TKD) di Banten sebesar Rp7,99 triliun atau 48,47 persen dari pagu,
mengalami kontraksi 2,73 persen. Belanja Transfer Ke Daerah di Banten
didominasi oleh pembayaran Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus
(DAK) Non Fisik.
Realisasi belanja
APBN secara nominal pada setiap jenis belanja K/L berdasarkan klasifikasi
ekonomi baik itu Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja Modal dan Belanja
Bantuan Sosial. Peningkatan belanja barang lebih banyak disebabkan
belanja pada KPU dan Kementerian PUPR.
Tahapan pemilu mendorong peningkatan realisasi belanja barang pada KPU.
Pemutakhiran data Pemilih dan penyusunan daftar Pemilih, Pencalonan DPD,
Pencalonan anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Satker KPU
di Banten, total anggaran Belanja Barang Rp230,88 miliar dengan realisasi yang
Rp183,51 miliar atau setara 79,48 persen, yang Sebagian besar pada output Tata
Kelola Kelembagaan Publik Bidang Politik dan Hukum
Satker di Kementerian PUPR khususnya pada output Prasarana Bidang Perumahan
dengan realisasi nominal terbesar dengan Rp117,19 Miliar atau 45,29 persen.
Sementara itu belanja modal didukung realisasi belanja modal Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat merupakan K/L dengan belanja modal terbesar
dengan dua output realisasi terbesar secara nominal dengan dua output
terbesarnya yaitu Prasarana Jaringan Sumber Daya Air (Rp105,26 miliar atau 55
persen dari pagunya) dan Prasarana Bidang Konektivitas Darat (Jalan) Rp72,86
miliar atau 57 persen dari pagunya.
Berdasarkan persentase realisasi anggaran, KPU, Kementerian Koperasi dan
UKM, Bawaslu, Kemenkeu dan Mahkamah Agung adalah 5 K/L dengan persentase
realisasi tertinggi. Mulai masuknya tahapan-tahapan pemilu mendorong KPU dan
Bawaslu merealisasikan belanjanya dengan sangat tinggi. Berdasarkan fungsi, Fungsi pendidikan
merupakan fungsi dengan pagu anggaran dan realisasi tertinggi sampai dengan 30
Juni 2023. Dengan anggaran sebesar Rp2,3 Triliun dan terealisasi Rp970 miliar.
Alokasi Belanja Barang (52) apabila dilihat berdasarkan fungsi, paling
besar dialokasikan pada fungsi Pendidikan sebesar Rp870,66 miliar. Hal itu
ditujukan untuk mendukung operasional fungsi pendidikan dan yang dilaksanakan
Pemerintah Pusat di Banten. Sementara itu alokasi Belanja Bantuan Sosial (57)
sebesar Rp16,67 miliar telah terserap sebesar 42,67%. Diantaranya digunakan
untuk penyaluran bansos kepada 854 orang mahasiswa UIN SMH Banten.
Penyaluran
Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKD) di Banten pada semester pertama tahun
2023 sedikit mengalami
kontraksi sebesar 2,73 persen. Penyaluran TKD sebesar Rp7,99 triliun atau 48,47
persen dari total alokasi TKD 2023. Capaian ini lebih rendah dibandingkan tahun
lalu yang sebesar Rp8,21 triliun. Komponen TKD yang tumbuh signifikan adalah
Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik yang naik 266,74 persen, disalurkan untuk tujuh
pemerintah daerah. Dana Desa dan Dana Bagi Hasil (DBH) juga mengalami
pertumbuhan sebesar 22,45 persen dan 20,36 persen. Sementara itu, komponen TKD
yang mengalami penurunan adalah Dana Insentif Daerah (DID) yang turun 26,28
persen karena hanya dua pemerintah daerah yang memperolehnya. DAK Nonfisik
juga turun 9,39 persen, meskipun seluruh pemerintah daerah telah menyalurkannya
sebesar 50 persen. Dana Alokasi Umum (DAU) juga mengalami penurunan sebesar
5,66 persen, salah satunya disebabkan oleh perubahan mekanisme penyaluran DAU
pada tahun 2023.
Selanjutnya berikut resume dari penyaluran TKD di Banten, data-data yang
menunjukkan realisasi pada masing-masing jenis penyaluran Transfer Ke Daerah.
Berikutnya berdasarkan pemerintah daerah, penyaluran TKD tertinggi adalah kepada Pemerintah Kabupaten Lebak dengan persentase realisasi penyaluran sebesar 54,91