Desa Devisa Bener Meriah: Inovasi Pengolahan Kopi yang Mengubah Nasib Petani
Fajri Andari
Jum'at, 28 Februari 2025 |
1397 kali
Kabupaten Bener Meriah, Aceh, dikenal sebagai salah satu
penghasil kopi terbaik di Indonesia. Namun, selama ini, petani kopi di daerah
ini kerap menghadapi tantangan dalam meningkatkan kualitas dan nilai jual
produk mereka. Hal ini yang menumbuhkan inisiatif Kantor Wilayah Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara (Kanwil DJKN) Aceh melalui program Pojok Special Mission Vehicle
(SMV) dalam membentuk Desa Devisa di Kabupaten Bener Meriah dengan menggandeng
Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Sebagai tindak lanjut atas penetapan
lima Desa Devisa, kolaborasi antara pemerintah dengan berbagai pihak, lima Desa
Devisa di Kabupaten Bener Meriah kini telah dilengkapi dengan fasilitas
pengolahan kopi modern, seperti dry house dan mesin pengupas
kulit kopi. Program ini tidak hanya meningkatkan kualitas kopi, tetapi juga
memberikan dampak ekonomi dan sosial yang signifikan bagi masyarakat setempat.
Latar Belakang: Dari Ceri Merah ke Green Bean
Sebelum adanya fasilitas ini, petani kopi di Bener Meriah
hanya mampu memproduksi ceri merah, yaitu kopi yang dipetik langsung dari
pohonnya dan dijual kepada pengepul tanpa melalui proses pengolahan lebih
lanjut. Akibatnya, harga jual kopi menjadi rendah, dan petani kesulitan
meningkatkan pendapatan mereka. Dengan bantuan lima unit dry house dan
enam unit mesin pengupas kulit kopi di setiap Desa Devisa, petani kini dapat
mengolah hasil panen menjadi gabah kering, biji kopi kering (green bean),
hingga bubuk kopi siap saji dengan kualitas yang lebih baik.
Dampak Ekonomi: Peningkatan Pendapatan dan Penyerapan
Tenaga Kerja
Berdasarkan laporan analisis manfaat dan dampak ekonomi
sosial yang dilakukan oleh Tim Riset dari Kanwil DJKN Aceh, program Desa Devisa
ini telah memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Investasi sebesar
Rp875.452.960,- yang dikucurkan oleh Bank Syariah Indonesia dan Lembaga
Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) telah menghasilkan perubahan nilai ekonomi
sebesar Rp1.396.317.000,- dengan efek pengganda sebesar 1,59. Artinya, setiap
Rp1 yang diinvestasikan menghasilkan dampak ekonomi sebesar 1,59 kali lipat
bagi perekonomian daerah.
Selain itu, program ini telah menyerap 22 tenaga kerja
langsung, dengan estimasi produksi green bean mencapai 41.360
kg per tahun. Dengan harga jual Rp120.000 per kg, omzet koperasi Panca Gayo
Coffee mencapai Rp4,96 miliar per tahun. Pemerintah juga mendapatkan manfaat
melalui pajak penghasilan dan retribusi hasil bumi, yang berkontribusi pada pendapatan
daerah.
Dampak Sosial: Kolaborasi dan Kesetaraan Akses
Tidak hanya dampak ekonomi, program ini juga memberikan
dampak sosial yang positif. Fasilitas dry house dan mesin
pengupas kulit kopi telah menciptakan kesetaraan akses bagi petani dalam
mengolah hasil panen mereka. Meskipun kapasitas fasilitas masih terbatas,
seluruh petani memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkannya. Hal ini
telah memperkuat hubungan sosial antara petani, koperasi, dan pengolah kopi.
Namun, tantangan masih ada. Keterbatasan kapasitas fasilitas
dan sumber daya finansial petani menjadi faktor penghambat dalam mengoptimalkan
produksi. Pelatihan dalam mengelola sumber daya finansial dan peningkatan
kesadaran akan pentingnya kualitas kopi menjadi kunci untuk memaksimalkan
manfaat dari program ini.
Potensi Jangka Panjang: Menuju Kopi Berkualitas Tinggi
Dengan adanya fasilitas ini, petani kopi di Bener Meriah
memiliki peluang besar untuk meningkatkan kualitas produk mereka dan bersaing
di pasar global. Kopi dengan kualitas tinggi, seperti Wet Hull, Full
Wash, Specialty, dan Natural, telah menjadi daya
tarik bagi pasar dalam dan luar negeri. Jika dikelola dengan baik, program Desa
Devisa ini dapat menjadi model bagi daerah lain dalam mengembangkan potensi
komoditas unggulan mereka.
Kesimpulan: Langkah Menuju Kesejahteraan Petani
Program Desa Devisa di Kabupaten Bener Meriah merupakan
contoh nyata bagaimana kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan
masyarakat dapat menciptakan perubahan positif. Dengan peningkatan kualitas
kopi dan pendapatan petani, program ini tidak hanya mengubah nasib petani kopi,
tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah. Ke depan, diperlukan
upaya lebih lanjut untuk mengatasi tantangan yang ada, seperti peningkatan
kapasitas fasilitas dan pelatihan bagi petani, agar manfaat program ini dapat
dirasakan secara lebih luas.
Catatan Redaksi:
Artikel ini didasarkan pada laporan analisis manfaat dan dampak ekonomi sosial
pembentukan Desa Devisa Kabupaten Bener Meriah yang dilakukan oleh Tim Riset
dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Aceh. Data dan
informasi yang digunakan dalam artikel ini bersumber dari laporan resmi yang
diterbitkan pada Desember 2024.
Susunan Keanggotaan Tim Riset Kanwil DJKN Aceh:
Nofiansyah sebagai Pengarah; Roby Lasmana sebagai Ketua; Khairunsyah
sebagai Wakil Ketua; Y.R. Natalia Pardede, Immanent Jati, Fajri Andari, Iqbal
Yasir Siregar, Vigor Arya Danan Jaya, Rizka Hutami, Dian Setiawan Damanik, Aman
Zulmas Telaumbanua, Zakiyuddin, Humayra Vonna sebagai anggota; Ruhul Fata
sebagai Sekretaris Tim; Rizqha Marla Saumina, Muzammil Ashfa, Annisa sebagai
anggota Sekretariat Tim.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |
Foto Terkait Artikel