Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Aceh
Desa Devisa Bener Meriah: Inovasi Pengolahan Kopi yang Mengubah Nasib Petani

Desa Devisa Bener Meriah: Inovasi Pengolahan Kopi yang Mengubah Nasib Petani

Fajri Andari
Jum'at, 28 Februari 2025 |   1398 kali

Kabupaten Bener Meriah, Aceh, dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di Indonesia. Namun, selama ini, petani kopi di daerah ini kerap menghadapi tantangan dalam meningkatkan kualitas dan nilai jual produk mereka. Hal ini yang menumbuhkan inisiatif Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (Kanwil DJKN) Aceh melalui program Pojok Special Mission Vehicle (SMV) dalam membentuk Desa Devisa di Kabupaten Bener Meriah dengan menggandeng Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Sebagai tindak lanjut atas penetapan lima Desa Devisa, kolaborasi antara pemerintah dengan berbagai pihak, lima Desa Devisa di Kabupaten Bener Meriah kini telah dilengkapi dengan fasilitas pengolahan kopi modern, seperti dry house dan mesin pengupas kulit kopi. Program ini tidak hanya meningkatkan kualitas kopi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi dan sosial yang signifikan bagi masyarakat setempat.

Latar Belakang: Dari Ceri Merah ke Green Bean

Sebelum adanya fasilitas ini, petani kopi di Bener Meriah hanya mampu memproduksi ceri merah, yaitu kopi yang dipetik langsung dari pohonnya dan dijual kepada pengepul tanpa melalui proses pengolahan lebih lanjut. Akibatnya, harga jual kopi menjadi rendah, dan petani kesulitan meningkatkan pendapatan mereka. Dengan bantuan lima unit dry house dan enam unit mesin pengupas kulit kopi di setiap Desa Devisa, petani kini dapat mengolah hasil panen menjadi gabah kering, biji kopi kering (green bean), hingga bubuk kopi siap saji dengan kualitas yang lebih baik.

Dampak Ekonomi: Peningkatan Pendapatan dan Penyerapan Tenaga Kerja

Berdasarkan laporan analisis manfaat dan dampak ekonomi sosial yang dilakukan oleh Tim Riset dari Kanwil DJKN Aceh, program Desa Devisa ini telah memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Investasi sebesar Rp875.452.960,- yang dikucurkan oleh Bank Syariah Indonesia dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) telah menghasilkan perubahan nilai ekonomi sebesar Rp1.396.317.000,- dengan efek pengganda sebesar 1,59. Artinya, setiap Rp1 yang diinvestasikan menghasilkan dampak ekonomi sebesar 1,59 kali lipat bagi perekonomian daerah.

Selain itu, program ini telah menyerap 22 tenaga kerja langsung, dengan estimasi produksi green bean mencapai 41.360 kg per tahun. Dengan harga jual Rp120.000 per kg, omzet koperasi Panca Gayo Coffee mencapai Rp4,96 miliar per tahun. Pemerintah juga mendapatkan manfaat melalui pajak penghasilan dan retribusi hasil bumi, yang berkontribusi pada pendapatan daerah.

Dampak Sosial: Kolaborasi dan Kesetaraan Akses

Tidak hanya dampak ekonomi, program ini juga memberikan dampak sosial yang positif. Fasilitas dry house dan mesin pengupas kulit kopi telah menciptakan kesetaraan akses bagi petani dalam mengolah hasil panen mereka. Meskipun kapasitas fasilitas masih terbatas, seluruh petani memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkannya. Hal ini telah memperkuat hubungan sosial antara petani, koperasi, dan pengolah kopi.

Namun, tantangan masih ada. Keterbatasan kapasitas fasilitas dan sumber daya finansial petani menjadi faktor penghambat dalam mengoptimalkan produksi. Pelatihan dalam mengelola sumber daya finansial dan peningkatan kesadaran akan pentingnya kualitas kopi menjadi kunci untuk memaksimalkan manfaat dari program ini.

Potensi Jangka Panjang: Menuju Kopi Berkualitas Tinggi

Dengan adanya fasilitas ini, petani kopi di Bener Meriah memiliki peluang besar untuk meningkatkan kualitas produk mereka dan bersaing di pasar global. Kopi dengan kualitas tinggi, seperti Wet HullFull WashSpecialty, dan Natural, telah menjadi daya tarik bagi pasar dalam dan luar negeri. Jika dikelola dengan baik, program Desa Devisa ini dapat menjadi model bagi daerah lain dalam mengembangkan potensi komoditas unggulan mereka.

Kesimpulan: Langkah Menuju Kesejahteraan Petani

Program Desa Devisa di Kabupaten Bener Meriah merupakan contoh nyata bagaimana kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat dapat menciptakan perubahan positif. Dengan peningkatan kualitas kopi dan pendapatan petani, program ini tidak hanya mengubah nasib petani kopi, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah. Ke depan, diperlukan upaya lebih lanjut untuk mengatasi tantangan yang ada, seperti peningkatan kapasitas fasilitas dan pelatihan bagi petani, agar manfaat program ini dapat dirasakan secara lebih luas.


Catatan Redaksi:
Artikel ini didasarkan pada laporan analisis manfaat dan dampak ekonomi sosial pembentukan Desa Devisa Kabupaten Bener Meriah yang dilakukan oleh Tim Riset dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Aceh. Data dan informasi yang digunakan dalam artikel ini bersumber dari laporan resmi yang diterbitkan pada Desember 2024.

Susunan Keanggotaan Tim Riset Kanwil DJKN Aceh:

Nofiansyah sebagai Pengarah; Roby Lasmana sebagai Ketua; Khairunsyah sebagai Wakil Ketua; Y.R. Natalia Pardede, Immanent Jati, Fajri Andari, Iqbal Yasir Siregar, Vigor Arya Danan Jaya, Rizka Hutami, Dian Setiawan Damanik, Aman Zulmas Telaumbanua, Zakiyuddin, Humayra Vonna sebagai anggota; Ruhul Fata sebagai Sekretaris Tim; Rizqha Marla Saumina, Muzammil Ashfa, Annisa sebagai anggota Sekretariat Tim.

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.

Foto Terkait Artikel

Floating Icon