Museum Tsunami: Portal Sejarah dan Pembelajaran
Muzammil Ashfa
Rabu, 27 Desember 2023 |
10738 kali
Pembahasan mengenai Aceh sebagai provinsi yang terletak di ujung paling barat Indonesia tentu tak lepas dari tsunami. Bencana alam yang terjadi 19 tahun silam telah banyak mengubah wajah Banda Aceh sebagai ibukota provinsi yang paling terdampak dari kejadian tersebut. Untuk mengenang korban dan bantuan internasional atas tragedi tersebut, diresmikanlah Museum Tsunami pada Februari 2008. Museum Tsunami terletak di tengah kota di Jalan Sultan Iskandar Muda, dekat dengan Lapangan Blang Padang yang merupakan salah satu landmark di kota Banda Aceh serta tidak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman sebagai kebanggaan masyarakat Aceh.
Museum Tsunami merupakan monumen bersejarah dan
edukatif yang didedikasikan untuk memperingati bencana dahsyat tsunami Samudera
Hindia pada tahun 2004. Didesain oleh arsitek Ridwan Kamil, bangunan ini tidak
hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pengingat dari tragedi tersebut
tetapi juga sebagai simbol harapan dan ketahanan. Arsitekturnya yang unik
menyerupai gelombang tsunami, lengkap dengan lorong sempit dan gelap yang
mendramatisir momen-momen mencekam saat bencana terjadi, sementara ruang terang
dan terbuka mewakili harapan dan kehidupan pasca bencana.
Desain Museum Tsunami dengan tema Rumoh Aceh
as Escape Hill terinspirasi dari rumoh aceh (rumah aceh) yang merupakan bangunan
rumah panggung. Museum ini terdiri dari 2 lantai. Lantai 1 merupakan ruangan
yang berisi rekam jejak kejadian tsunami 2004, antara lain ruang pamer tsunami,
pratsunami, saat tsunami dan ruang pasca tsunami. Sedangkan di lantai 2 museum
ini berisi media-media pembelajaran berupa perpustakaan, ruang alat peraga,
ruang 4D (empat dimensi), dan souvenir shop.
Museum Tsunami buka setiap hari, kecuali hari
Jumat, dari pukul 09.00 – 12.00 dan 14.00 – 16.00. Biaya masuknya sendiri
sangat terjangkau, yaitu Rp3.000,- untuk anak-anak/pelajar/ mahasiswa;
Rp5.000,- untuk dewasa; dan Rp15.000,- untuk wisatawan asing. Hal ini adalah upaya pemeritah daerah untuk memastikan
bahwa semua orang, baik lokal maupun pengunjung internasional, dapat mengakses
dan belajar dari pengalaman tersebut. Museum Tsunami tidak hanya menyajikan
cerita tentang masa lalu tetapi juga mendorong refleksi dan aksi untuk masa
depan yang lebih aman.
Saat memasuki museum, pengunjung
langsung dibawa untuk memahami kehancuran yang disebabkan oleh tsunami melalui
"lorong tsunami" yang sempit dan gelap. Suara air yang mengalir dan
pencahayaan redup di lorong ini bertujuan untuk menciptakan suasana saat
tsunami melanda, memberikan pengalaman imersif dan membangkitkan emosi. Dari
sana, pengunjung bergerak ke area pameran yang lebih luas, di mana foto,
artefak, dan narasi pribadi dari para korban tersaji. Kisah-kisah ini
menggambarkan kisah duka, kehilangan, keberanian, dan pemulihan, memberikan
wawasan mendalam tentang dampak manusia dari bencana tersebut.
Selanjutnya pengunjung dapat memasuki
ruang The Ligt of God yang merupakan ruang refleksi dan penghormatan kepada Sang Pencipta. Ruangan ini menyerupai cerobong gelap yang memiliki ujung terang di
bagian atas dengan tulisan Allah. Dindingnya menampilkan nama-nama korban untuk
mengajak pengunjung kembali merenung dan menghormati mereka yang kehilangan
nyawa mereka. Keluar dari ruangan refleksi, pengunjung diarahkan ke jalan
berupa lorong yang berputar ke atas yang dihiasi dengan nama-nama Allah atau Asmaul
Husna. Keluar dari Lorong tersebut, pengunjung akan menjumpai Hope
Bridge yang menyerupai penyelamatan dari tsunami ke arah yang lebih tinggi.
Hope Bridge dihiasi 52 bendera negara yang telah membantu para korban
dan melakukan rehabilitasi setelah tsunami. Selain itu, museum ini juga
menyediakan informasi edukatif tentang bencana alam, khususnya tsunami, seperti
penyebabnya, dampaknya, dan bagaimana masyarakat dapat bersiap-siap dan
merespon jika bencana serupa terjadi di masa depan. Ini menekankan pentingnya
kesiapsiagaan dan pendidikan bencana sebagai bagian dari upaya mitigasi dan
adaptasi masyarakat terhadap ancaman alam.
Berkaca dari pengalaman bencana tsunami,
pemerintah berkomitmen dalam asuransi Barang Milik Negara (BMN) dan Barang Milik Daerah (BMD) untuk mendorong ketahanan
sosial dan ekonomi masyarakat melalui
Pembiayaan dan Asuransi Risiko Bencana (PARB). Implementasi strategi ini
membutuhkan pertimbangan risiko, karakteristik bencana, dan kesiapan para
pemangku kepentingan. Pembiayaan ini dilakukan untuk mengatasi kesenjangan
pemerintah untuk menanggung risiko akibat bencana yang bersumber dari APBN/APBD
yang mengakibatkan tingginya kerugian ekonomi di masyarakat. Sehingga dengan
implementasi PARB dapat meningkatkan kemampuan pemerintah pusat maupun daerah
dalam menyediakan pembiayaan bencana, meningkatkan pembiayaan untuk transfer
risiko, dan mengurangi kerugian ekonomi dan fisik melalui peningkatan kualitas
dan kuantitas kegiatan kesiapsiagaan dan mitigasi, termasuk membangun
infrastruktur yang berkualitas dan tahan bencana.
Pengalaman di Museum Tsunami bukan
hanya tentang belajar mengenai bencana masa lalu, tetapi juga tentang memahami
pentingnya memori, kebersamaan, dan kekuatan komunitas. Museum ini berdiri
sebagai pengingat akan kerentanan manusia terhadap kekuatan alam dan pentingnya
solidaritas serta persatuan dalam menghadapi tragedi. Pengunjung meninggalkan
museum dengan perasaan yang lebih dalam tentang tragedi yang terjadi dan dengan
pemahaman yang lebih besar tentang pentingnya persiapan dan ketahanan
komunitas.
Dengan menyediakan wawasan tentang bencana alam dan pentingnya kesiapsiagaan, museum ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan peringatan tetapi juga sebagai tempat penghormatan bagi mereka yang kehilangan nyawa mereka. Kunjungan ke museum ini adalah perjalanan emosional yang mendalam, menawarkan pengalaman yang menggabungkan pendidikan, duka, dan harapan. Ini adalah pengingat akan kekuatan alam, kerentanan manusia, dan pentingnya persiapan dan kebersamaan dalam menghadapi bencana.
___________________
Narasi dan Foto oleh:
Hendra Putra Irawan - Agen Perubahan Kanwil DJKN Aceh
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |
Foto Terkait Artikel