Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel Kanwil DJKN Aceh
"Kupiah Meukeutop"

"Kupiah Meukeutop"

Anton Wibisono
Rabu, 11 November 2020 |   4160 kali

Belakangan ini "Kupiah Meukeutop" atau topi tradisional adat Aceh ini kembali naik daun. Tak hanya digunakan untuk acara kebesaran saja, tetapi juga dipakai untuk kegiatan sehari-hari, seperti untuk sholat di masjid atau untuk sekedar melindungi kepala dari teriknya sinar matahari di siang hari. Namun, ada apa gerangan dibalik filosofi dari warna-warna yang digunakan pada kupiah tersebut ?

Warna-warna yang menempel pada kupiah itu memiliki makna tersendiri. Merah melambangkan jiwa kepahlawanan, kuning melambangkan kerajaan atau negara, hijau menandakan agama, hitam berarti ketegasan atau ketetapan hati, sementara itu putih bermakna kesucian atau keikhlasan. Secara keseluruhan, kupiah meukeutop terbagi menjadi empat bagian. Sama seperti pada warna, tiap bagian ini juga memiliki arti tersendiri. Bagian pertama bermakna hukum, bagian kedua, bermakna adat, bagian ketiga bermakna qanun dan bagian keempat bermakna reusam.

Nah, sekarang sudah tahu kan, kupiah ini bukan hanya sekedar penutup kepala, namun juga mengandung filosofi dan unsur sejarah Aceh yang perlu dilestarikan (Narasi/foto : ruhul fata)
Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon