Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Berita DJKN
Serunya Lelang Lukisan Ubud, Karya Ida Bagus Poleng Termahal

Serunya Lelang Lukisan Ubud, Karya Ida Bagus Poleng Termahal

N/A
Senin, 13 April 2015 pukul 15:07:03 |   3184 kali

Gianyar—Minggu (05/02), Larasati, balai lelang yang memiliki cabang di Singapura ini kembali menggelar lelang lukisan di Ubud, Gianyar, Bali. Ubud, Desa Internasional yang pernah dinobatkan sebagai kota wisata terbaik di Asia—mengalahkan Bangkok, Shanghai, Singapur dan bahkan Tokyo—oleh majalah mewah Conde Nast Traveler yang bermarkas di Amerika Serikat, merupakan pilihan yang tepat bagi Larasati karena atmosfer seninya yang sangat kental, untuk melaksanakan lelang ke-29 sejak balai lelang ini berdiri.

“Ubud berasal dari akar kata ubad yang berarti medicine-obat” demikian salah satu kalimat menarik yang dikutip dalam buku Hermawan Kartajaya “Ubud: The Spirit Of Bali” dimana dijelaskan dalam buku tersebut adanya keyakinan sejak dulu, dengan datang saja ke Ubud orang bisa tersembuhkan dari capek fisik dan pikiran karena atmosfernya yang sangat menyegarkan dengan lanskap dan pemandangan yang menawan antara terasering persawahan, lembah, sungai dan hutan yang sangat indah, maka tak salah sejak tahun 1920an, Ubud telah menjadi destinasi wisata dunia, yang membuat orang ingin datang dan datang lagi, bahkan sampai menetap dan tinggal disana. Banyak seniman khususnya pelukis kenamaan dunia, seperti Blanco, Bonnet, Walter Spies, Arie Smith, dll, tinggal dan menetap di Ubud. Perpaduan antara getaran magis alam dan kuatnya budaya yang masih dipelihara inilah yang menjadi daya pemikat, taksu (Taksu diterjemahkan sebagai spiritual charm dalam bukunya Hermawan Kartajaya) bagi Ubud.

Disamping itu, Ubud memang memiliki puluhan museum dan studio lukisan yang masih banyak menyimpan karya-karya para maestro lukisan. Maka tak salah Larasati, memilih Bali khususnya Ubud untuk kesepuluh kalinya sebagai tempat lelang lukisan karena kultur seninya yang sangat kental ini. “Larasati punya misi untuk lebih mengenalkan lukisan tradisi Bali di kalangan pecinta seni di dalam dan luar negeri. Karena aliran seni semacam ini hanya ada di Bali, tidak satu pun di dunia ini yg menyerupai gaya/aliran semacam Bali tradisi. Bali kita pilih sebagai tempat penyelenggaraan karena atmosfirnya akan ikut memengaruhi minat dari peserta ataupun pengunjung.” Ujar Nyoman Adi Usada salah satu staf Balai Lelang Larasati.

Lelang terhadap 90 (sembilan puluh) lukisan ini dimulai tepat pada pukul 14.30 WITA sesuai dengan Surat Undangan dan Pengumuman yang telah disebarkan lewat berbagai media termasuk Jakarta Post. Para peserta lelang yang berjumlah sekitar 100 (seratus) orang diberikan katalog yang berisi keterangan akan masing-masing lukisan dan estimate price. Para peserta juga dapat meminta lembaran khusus di mana mereka dapat membaca keterangan lebih rinci akan sejarah, tema ataupun tentang si pelukis itu sendiri.

Lelang yang dilakukan dihadapan Pejabat Lelang Kelas II, Ni Luh Pujiantini ini, dipandu oleh seorang Afslager Native English yang bernama Anita Archer. Satu persatu Lukisan ditawarkan secara lincah dan enerjik  oleh Anita dalam bahasa inggris, dengan membuka harga awal tertentu (bisa mulai dengan "reserve price" ataupun dibuka dibawah harga "reserve price"), kemudian peserta dapat menawar dengan kelipatan harga tertentu. Yang unik dalam penawaran lelang lisan ini adalah penawaran tidak hanya dilakukan oleh para peserta yang ada dalam ruangan lelang namun juga oleh peserta yang tidak hadir di ruangan lelang.

Larasati menyediakan fasilitas absentee bids yakni penawaran tanpa kehadiran peserta. Larasati memiliki beberapa petugas yang menerima telepon dari luar negeri, di mana para peserta yang tidak hadir tersebut melakukan bidding by telephone. Keunikan lelang sukarela Lukisan ini adalah tidak adanya Uang Jaminan sebagaimana biasa lelang. Jadi lelang berdasarkan trust karena umumnya Balai lelang sudah mengenal para peserta yang sudah bagaikan komunitas pecinta seni dan sampai saat ini belum ada peserta lelang yang wanprestasi. 

Lelang berjalan sangat seru, hawa persaingan penawaran antar peserta dan kenaikan harga dari harga awal sangat terasa. Ada kelipatan harga lima ratus ribu, ada kelipatan harga satu juta, lima juta. Bahkan ada beberapa lukisan tertentu, langsung melonjak sangat tinggi tanpa mengikuti kelipatan harga sebelumnya. Hal ini terjadi untuk lukisan-lukisan tertentu yang benar-benar dincar oleh para kolektor seni tersebut, terutama karya Bonnet dan Ida Bagus Poleng, salah satu pelukis Bali yang tersohor itu. 

Dari 90 lukisan yang ditawarkan, Lukisan Ida Bagus Poleng yang berjudul harvesting ‘memanen’ terjual dengan harga paling tinggi diantara semua lukisan. Lukisan yang ditawarkan paling terakhir tersebut dibuka dengan harga Rp160 juta dan terjadi kelipatan penawaran yang begitu drastis dan seru. Persaingan antar peserta sangat ketat, awalnya ada kenaikan harga satu juta, kemudian lima juta, kemudian sepuluh juta dan akhirnya dua puluh juta. Dan akhirnya, lukisan yang sebelumnya sempat dimiliki oleh seorang kolektor dari Massachusets, USA tersebut terjual dengan harga Rp500.000.000,00. Dari total 90 lukisan, 79 (tujuh puluh sembilan) lukisan yang dilepas karena sisanya belum melampaui harga reserve price. Total harga lelang yang terbentuk hari itu adalah sebesar Rp 2.621.000.000. (Foto dan Naskah: I Wayan Dipayana E., Editor: Andri Rachmawan)

Foto Terkait Berita

Berita Terbaru

Floating Icon