KPKNL Surabaya Lakukan Penilaian Salah Satu Ikon Surabaya yang Mendunia
N/A
Rabu, 16 Juli 2014 pukul 09:15:46 |
4127 kali
Surabaya – Tim penilai Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Surabaya melakukan penilaian salah satu ikon kota Surabaya yang telah mendunia yakni Monumen Monumen Jalesveva Jayamahe (Monjaya) yang terletak di dermaga ujung Surabaya beberapa waktu yang lalu.
Adapun sumber data penilaian yang dipakai, selain data primer juga berbagai informasi dari sumber sekunder yang cukup kredibel. Penilaian ini bertujuan untuk mengkoreksi nilai aset yang tercatat di neraca Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) cq. Markas Komando Armada Wilayah Timur (Mako Armatim) Surabaya. Selain itu, nilai ini juga digunakan sebagai salah satu indikator dalam formulasi estimasi anggaran biaya pemeliharaan yang dapat diberikan oleh TNI AL sebagai wacana rencana program pemeliharaan objek insidentil secara keseluruhan.
Sebagai informasi, Monjaya yang terletak di dermaga ujung Surabaya ini secara keseluruhan terdiri dari tiga objek yaitu gedung diorama berikut perkerasannya, gong kuningan raksasa berikut bangunan pendukung, dan patung tembaga berikut pondasinya. Monjaya merupakan suatu bukti hasil karya besar dan sangat mengagumkan karya anak bangsa. Monumen ini berbentuk patung tembaga setinggi 30 meter yang ditopang oleh gedung diorama berlantai 4 setinggi 30 meter.
Persis dibawah monumen terdapat gong kuningan raksasa Kyai Tentrem, berdiameter 6 meter dan berat sekitar 2,2 ton. Kreasi patung tembaga digagas oleh Kepala Staf TNI AL pada waktu itu yaitu Laksamana Madya Arief Kushariadi, menggambarkan perwira berpangkat Kolonel. Monjaya dibangun sejak 1992 dan diresmikan pada bulan Desember 1996 yaitu bertepatan dengan Hari Armada RI tanggal 5 Desember 1996 oleh Presiden Soeharto. Latar belakang dibangunnya Monjaya adalah adanya gagasan bahwa bagaimanapun majunya suatu bangsa hendaknya harus tetap berpijak pada sejarah, artinya bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa pahlawannya. Sedangkan makna lain dari sosok patung Sang Kolonel adalah sebagai simbol kesiapan menerima tongkat estafet pengabdian dari generasi ke generasi berikutnya. Patung tembaga Sang Kolonel adalah karya maestro patung Nyoman Nuarta, sedangkan gong raksasa Kyai Tentrem dibuat oleh pengrajin gong kuningan di Bantul, Yogyakarta.
Bangunan gedung diorama berbentuk bundar terdiri dari 4 lantai, keempat lantai tersebut dimanfaatkan sebagai wahana informasi tentang sejarah TNI AL. Konstruksi gedung diorama memiliki pondasi beton dengan tiang pancang sebanyak 24 buah, ketebalan dinding seluruh bagian gedung bundar lebih lebar dibandingkan dengan gedung konvensional pada umumnya. Pelaksanaan pembangunan fisik gedung diorama dilaksanakan oleh PT Yala Perkasa Internasional.
Awal mula penilaian Monumen Monjaya adalah adanya permintaan penilaian dari Mako Armatim kepada KPKNL Surabaya. Kepala KPKNL Surabaya Wildan Ahmad Fananto berkomitmen untuk dapat memenuhi permintaan tersebut. Tim penilai yang ditugaskan melaksanakan penilaian terdiri dari tiga orang yaitu Septsonno sebagai ketua tim, serta Rega Dila Dewangga dan Rahayu Kusuma Rini sebagai anggota. Tujuan penilaian adalah menentukan nilai pasar untuk penggunaan yang ada (market value for existing use). Adapun pendekatan penilaian yang digunakan adalah pendekatan biaya (cost approach) yaitu metode DRC (RCN dikurangi penyusutan). Untuk objek gedung diorama dan gong kuningan RCN-nya diperoleh dengan metode survei kuantitas, sedangkan untuk patung tembaga RCN-nya diperoleh dengan menggunakan pendekatan data pasar.
Objek berupa patung tembaga Sang Kolonel yang terdapat di atas gedung diorama terdiri dari pondasi dan patung tembaga itu sendiri. Pondasi patung melekat pada atap teratas gedung, bentuknya merupakan lantai mezzanine dengan dimensi bundar. Selain itu, juga terdiri dari konstruksi rangka bangunan lift mini (tanpa kapsul lift) yang melintang secara vertikal dari lantai mezzanine sampai dengan dada kanan bagian atas patung dan rangka besi penopang tambahan vertikal sampai dengan dada kiri patung.
Sedangkan rangka bentuk patung terbuat dari baja. Patung Sang Kolonel disebut-sebut tertinggi kedua di dunia setelah Patung Liberty (85 meter) yang berada di mulut pelabuhan New York, Amerika Serikat. Patung tersebut berkulit tembaga yang dirancang oleh Nyoman Nuarta, pematung kondang dari Bandung yang juga menggarap patung tembaga Garuda Wishnu Kencana di Jimbaran Bali dan patung Tiga Mojang di Harapan Indah Bekasi. Oleh Nyoman Nuarta, tubuh patung itu dicetak di studionya di Bandung dalam bentuk potongan-potongan modul, setelah komplit kemudian dibawa ke Surabaya dan disambung-sambung. Untuk membuat patung itu, Nyoman Nuarta mendapat pasokan sekitar 3.000 ton tembaga dari PT PLN, 60 ton dari PT Telkom, dan sejumlah tembaga bekas selongsong peluru.
Pada penilaiannya, penentuan RCN patung tembaga adalah dengan pendekatan data pasar yaitu dibandingkan secara apple to apple dengan pembanding berupa patung Tiga Mojang karya Nyoman Nuarta transaksi tahun 2010 di Harapan Indah Bekasi. Adjustment yang dipakai adalah penyesuaian transaksional item perubahan pasar dan penyesuaian fisik yang terdiri dari beberapa item. Untuk adjusment perubahan pasar digunakan metode inflasi berdasarkan data inflasi nasional. Sedangkan item-item penyesuaian fisik yang di-adjust yaitu ide kreatif, reputasi seniman, fisik kerangka, konstruksi tambahan, bahan material kulit, tehnik perwujudan, ongkos pengangkutan, konteks perwujudan, dan unsur kesemestaan.
Opini nilai yang dihasilkan atas objek Monjaya adalah senilai Rp35.921.357.000,00 (tigapuluh lima milyar sembilanratus duapuluh satu juta tigaratus limapuluh tujuh ribu rupiah), yang terdiri dari gedung diorama senilai Rp21.753.560.000,00, gong Kyai Tentrem senilai Rp381.519.000,00 dan patung tembaga Sang Kolonel senilai Rp13.786.278.000,00. (Penulis Septsonno/Fotografer:Rega/edited/bas)
Foto Terkait Berita
Berita Terbaru