Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
 150-991    ID | EN      Login Pegawai
Berita DJKN

Public Relation Harus Mampu Bangun Reputasi

Jum'at, 04 April 2014 pukul 14:52:20   |   1085 kali

Jakarta – Seorang Public Relation (PR) arau humas harus mampu membangun, memperluas, memelihara dan melindungi image dan reputasi organisasi. Hal ini disampaikan oleh Head Division of Public Relations Total E&P Indonesie Kristanto Hartadi saat memberikan materi Kiat dan Strategi PR untuk Reputasi Organisasi dalam Pelatihan Jurnalistik dan Kehumasan pada 1 April 2014 di Jakarta Pusat.

“PR harus seseorang yang bertanggung jawab terhadap reputasi organisasi apalagi di saat krisis,” ujarnya. Di saat krisis, lanjutnya, PR harus  mengkomunikasikan hal-hal yang sebenarnya kepada publik, menjadikan wartawan sebagai teman, dan membuat aliansi startegis yang konstruktif.

Terkait cara pandang terhadap wartawan, Kristanto menegaskan bahwa wartawan harus dianggap sebagai mitra bukan sebagai orang amplopan apalagi musuh, dan hanya dibutuhkan karena ada krisis. “Bertemanlah kepada wartawan selagi masa damai, jangan tiba-tiba mau berteman dengan wartawan saat masa perang saja,” ungkap mantan wartawan media nasional ini mengkiyaskan.

Acara yang berlangsung pada 1-4 April ini dibuka langsung oleh Direktur Hukum dan Humas Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Tavianto Noegroho dan diikuti oleh para kepala bidang Kepatuhan Internal, Hukum dan Informasi (KIHI) seluruh Indonesia dan editor Media Kekayaan Negara Kantor Pusat DJKN.

Direktur Hukum dan Humas mengatakan, kabid KIHI harus menjadi leader dalam memperkenalkan DJKN di derah serta membangun reputasi DJKN. “Apabila terjadi masalah atau krisis di DJKN harus diianalisa seberapa parah masalah atau krisis tersebut.

Tavianto menjelaskan ketika ada krisis ataupun berita negatif maka harus dilihat dahulu apakah perlu ditindaklanjuti, atau mungkin cukup didiamkan saja. Informasi yang diberikan pun harus difilter mana saja yang boleh dipublikasikan dan mana saja yang harus disimpan. Ia mencontohkan informasi yang tidak boleh dipublikasikan adalah rapat Tim Asistensi Daerah (TAD) yang membahas Aset Bekas Milik Asing/Cina (ABMAC). Ia berharap para kabid KIHI dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat dalam pelatihan ini di tempatnya masing-masing.

Sampai berita ini ditulis acara masih berlangsung. Dalam pelatihan ini akan dibahas materi-materi antara lain, Kiat dan Strategi PR untuk Reputasi Organisasi oleh Head Devision of Public Relations Total E&P Indonesie Kristanto Hartadi, Sisik Melik Mengenalkan Branding Institusi oleh Pimpinan Redaksi NET Dede Apriadi, Teknik Penulisan Jurnalistik Terkini, Editing dan Rewriting oleh Produser Eksekutif Kompas TV Bernada Triwara Rurit. Selain itu, juga disampaikan materi Efektivitas dan Manfaat Sosial Media oleh Liana Moeslim Abdurrahman, Teknik Fotografi oleh Robinsar VDN, dan Etika Penulisan di Media oleh Dosen Universitas Indonesia Tunggul Panindriya, serta Teknis menulis di Media Cetak dan Online oleh Editor Merdeka.com Laurencius Simanjuntak. (Yudi/Bend/Johan-Humas)

 

Foto Terkait Berita
Peta Situs | Email Kemenkeu | FAQ | Prasyarat | Wise | LPSE | Hubungi Kami |