Indonesia–Filipina Perkuat Perlindungan Aset Publik Lewat Knowledge Exchange
Esti Retnowati
Jum'at, 26 September 2025 pukul 08:47:05 |
217 kali
Jakarta – Indonesia dan Filipina memperkuat kerja
sama dalam melindungi aset publik dari risiko bencana melalui kegiatan Knowledge
Exchange on Financial Protection of Public Assets pada Selasa-Kamis
(23-25/09) di Jakarta. Forum ini diselenggarakan dengan dukungan Bank Dunia dan
mempertemukan para pejabat pemerintah, ahli keuangan publik, serta praktisi
kebijakan dari kedua negara.
Dalam sambutannya, Direktur
Jenderal Kekayaan Negara, Rionald Silaban menegaskan bahwa perlindungan aset
negara memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan fiskal.
“Melindungi aset negara
bukan hanya soal menjaga gedung dan infrastruktur, tetapi memastikan layanan
publik tetap berjalan ketika masyarakat paling membutuhkannya,” ujar Rionald.
Ia juga menekankan
kesamaan tantangan antara Indonesia dan Filipina.
“Kita sama-sama hidup
dengan risiko. Gempa, banjir, topan, dan erupsi bukan hanya ancaman terhadap
kehidupan, tetapi juga terhadap keberlangsungan aset negara,” tambahnya.
Mendukung pernyataan
Dirjen, Deputy Treasurer Bureau of Treasury, Department of Finance of Philippines, Eduardo Anthony G. Marino
III mengatakan bahwa dengan kesamaan kedua negara ini, pertukaran pengalaman
menjadi penting.
“Sejak 2011 Bank Dunia
telah memfasilitasi knowledge exchange untuk mendukung negara-negara
rawan bencana. Kesamaan konteks antara Indonesia dan Filipina menjadikan forum
ini sangat relevan untuk berbagi strategi sesuai kondisi masing-masing,” jelas
Marino.
Sementara itu, Lead
Financial Sector Specialist World Bank, Julian Casal menekankan
tujuan strategis forum ini.
“Knowledge exchange
ini bertujuan memperkuat resiliensi fiskal menghadapi perubahan iklim,
mendorong kolaborasi antar-kementerian, serta meningkatkan pengelolaan aset
publik di kedua negara,” kata Casal.
Belajar dari Pengalaman
Kedua Negara
Pada hari pertama, Indonesia
memaparkan inisiatif asuransi Barang Milik Negara (BMN) sebagai upaya proteksi
fiskal, sementara Filipina menekankan penggunaan budgetary instruments
seperti National Disaster Risk Reduction and Management Fund (NDRRMF)
dan Local Disaster Risk Reduction and Management Fund (LDRRMF). Filipina
juga telah membentuk lembaga khusus penanggulangan bencana serta mulai
mengasuransikan properti pemerintah sejak 2017 melalui National Asset
Registry System (NARS),
Diskusi membahas
arsitektur kelembagaan dan regulasi, mekanisme pendanaan, tantangan alokasi
anggaran, serta strategi manajemen klaim dan disbursement. Dari sesi ini,
peserta menyimpulkan bahwa perlindungan aset publik lewat instrumen keuangan
seperti asuransi semakin penting untuk mempercepat pemulihan layanan pasca
bencana.
Selanjutnya di hari kedua,
Filipina menyampaikan pengalamannya dalam penanganan risiko bencana. Typhoon
dan gempa bumi disebut sebagai ancaman utama yang sering menimbulkan kerugian
besar, terutama pada infrastruktur publik. Oleh karena itu, sektor pekerjaan
umum dan jalan raya mendapatkan porsi anggaran signifikan untuk rekonstruksi.
Pemerintah Filipina menerapkan berbagai instrumen, mulai dari asuransi aset, dana cadangan daerah, hingga program konvergensi lintas kementerian. Melalui sistem NARS, pemerintah dapat memetakan aset mana yang paling kritis untuk diasuransikan. Meski begitu, tantangan masih ada, seperti belum semua aset tercatat dalam basis data nasional dan perbedaan besaran premi sesuai nilai aset.
Pada kesempatan yang sama,
Di hari ketiga, kedua
negara menyoroti rencana jangka panjang dalam memperluas cakupan perlindungan
aset publik. Baik Indonesia maupun Filipina menyadari perlunya memperkuat
kerangka regulasi, meningkatkan kesadaran legislatif terkait pentingnya
proteksi fiskal, serta memperluas partisipasi pemerintah daerah.
Peserta juga membahas
bagaimana pengalaman dan data historis kerugian bencana dapat mendorong political
appetite dalam mendukung kebijakan perlindungan aset.
Komitmen Bersama
Rangkaian tiga hari
knowledge exchange ini menghasilkan pemahaman bersama bahwa asuransi aset
publik dan instrumen finansial lain bukan lagi pilihan tambahan, melainkan
kebutuhan mendesak. Dengan langkah kolaboratif, Indonesia dan Filipina
diharapkan mampu memperkuat ketahanan fiskal dan memastikan keberlangsungan
pelayanan publik di tengah ancaman bencana. (es/fz/dit/dys)
Foto Terkait Berita
Berita Terbaru