Indonesia Perkuat Valuasi Aset Alam: Taman Nasional Way Kambas Jadi Proyek Perintis
Yuditha Franciska Ullyana
Sabtu, 30 Agustus 2025 pukul 18:32:32 |
589 kali
Bandar Lampung – Indonesia tengah
memasuki babak baru dalam pengelolaan kekayaan alam melalui valuasi sumber daya
alam. Salah satu langkah strategis yang kini berjalan adalah proyek perintis
valuasi Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung, yang menjadi bagian dari
kerja sama Nature Transition Support
Programme (NTSP) antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Inggris. Hal
ini disampaikan Tenaga Pengkaji Optimalisasi Kekayaan negara Nella Sri
Hendriyetty saat menghadiri undangan British
Embassy Jakarta pada Sabtu (30/8) di Lampung.
NTSP merupakan
program riset unggulan yang didanai oleh Department
for Environment, Food and Rural Affairs (DEFRA) Inggris, terinspirasi dari Dasgupta Review on the Economics of
Biodiversity. Program ini bertujuan membantu negara mitra, termasuk
Indonesia, menempatkan nilai alam secara lebih nyata dalam kebijakan ekonomi
dan pembangunan.
Kementerian
Keuangan melaksanakan program ini dengan berkolaborasi bersama Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Kelautan dan Perikanan,
serta Bappenas. Melalui kerangka valuasi ekonomi, pemerintah menilai jasa
ekosistem seperti hutan, mangrove, keanekaragaman hayati, hingga penyerapan
karbon, untuk kemudian diterjemahkan menjadi aset yang terukur dalam kebijakan
fiskal dan perencanaan pembangunan.
Sejak Juni 2025,
tim gabungan yang terdiri dari Direktorat Penilaian DJKN, Kanwil DJKN
Lampung-Bengkulu, serta KPKNL Bandar Lampung dan Metro, melaksanakan survei
lapangan di TNWK. Survei ini menilai berbagai jasa ekosistem, mulai dari
penyerapan karbon, manfaat keanekaragaman hayati, hingga potensi pariwisata.
Tim juga menghimpun data sekunder terkait manfaat hidrologi bagi masyarakat
sekitar taman nasional. Saat ini, tim sedang mengolah data hasil survei untuk
menghitung nilai ekonomi dari tiap jasa ekosistem.
Selain valuasi
TNWK, tahap awal program NTSP Indonesia juga akan menghasilkan Laporan Sintesis
yang direncanakan terbit tahun ini. Laporan ini akan mendokumentasikan manfaat
hidrologi, keanekaragaman hayati, penyerapan karbon, dan pariwisata di Way
Kambas.
Tak hanya
menyajikan data awal, laporan ini juga akan memuat metodologi yang dapat
direplikasi di lokasi lain, sehingga bisa menjadi rujukan untuk valuasi sumber
daya alam di kawasan konservasi lainnya. Laporan Sintesis ini ditargetkan
diluncurkan secara resmi dalam seminar diseminasi akhir 2025.
Ke depan, Indonesia
berencana melanjutkan ke tahap valuasi lebih mendalam guna menghitung Total
Economic Value dari TNWK. Berdasarkan hasil tersebut, pemerintah akan menyusun Policy Brief untuk disampaikan kepada Kementerian
Keuangan, Bappenas, dan KLHK sebagai dasar penyusunan kebijakan berbasis data
ekosistem. Selain itu, pembelajaran dari proyek Way Kambas akan menjadi pintu
masuk bagi studi eksplorasi untuk mereplikasi program ini pada aset sumber daya
alam lainnya.
Kementerian
Keuangan menegaskan bahwa valuasi aset alam bukan sekadar soal angka, melainkan
upaya menanamkan nilai alam ke dalam kebijakan nasional, investasi, dan
perencanaan pembangunan. Dengan pendekatan ini, hutan, mangrove, dan
keanekaragaman hayati tidak hanya dipandang dari sisi ekologis, tetapi juga
diakui sebagai modal nasional yang bernilai ekonomi.
“Kami berharap
hasil valuasi ini bukan hanya menjadi angka dalam laporan, tetapi juga fondasi
kebijakan fiskal dan pembangunan ekonomi hijau di Indonesia,” ujar Nella.
Dengan valuasi Way
Kambas sebagai tonggak awal, Indonesia berharap kekayaan alamnya dapat dikelola
bukan hanya untuk konservasi, tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan bagi
rakyat Indonesia sekaligus kontribusi nyata bagi kelestarian bumi. (es/yd)
Foto Terkait Berita
Berita Terbaru