Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Berita DJKN
Talkshow "Berbincang Isu Inklusi Itu Asyik" Soroti Tantangan dan Solusi bagi Penyandang Disabilitas

Talkshow "Berbincang Isu Inklusi Itu Asyik" Soroti Tantangan dan Solusi bagi Penyandang Disabilitas

Monika Yulando Putri
Rabu, 19 Maret 2025 pukul 23:49:55 |   226 kali

Jakarta – Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) bersama BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta menggelar talkshow bertajuk "Berbincang Isu Inklusi Itu Asyik” pada Rabu (19/03) bertempat di Taman Ismail Marzuki. Acara tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya inklusivitas, terutama bagi penyandang disabilitas.

Dalam sesi pembukaan, Kepala Kanwil DJKN DKI Jakarta Arif Bintarto Yuwono menegaskan bahwa inklusi bukan sekadar konsep, melainkan tanggung jawab bersama. "Mari kita di bulan Ramadan ini sebagai pengingat bahwa inklusi sosial ini bukan hanya mimpi tetapi merupakan satu tanggung jawab bersama untuk kita mewujudkannya," ujarnya di Taman Ismail Marzuki, Rabu (19/3/2025).

Direktur Lelang Tavianto Nugroho dalam keynote speech menegaskan komitmen Kementerian Keuangan untuk membantu difabel dalam perspektif ekonomi, contohnya melalui lelang UMKM dan lelang lukisan yang bekerjasama dengan Baznas.

Acara talkshow menghadirkan para pakar yang membahas kebijakan serta tantangan inklusi di berbagai sektor. Salah satu isu utama yang dibahas adalah rendahnya partisipasi penyandang disabilitas dalam dunia kerja. Ari Wahyuni, Kepala Biro Organta Kementerian Keuangan, mengungkapkan bahwa tingkat keterlibatan penyandang disabilitas dalam sektor pekerjaan masih jauh tertinggal dibandingkan mereka yang non-disabilitas.

"Data dari BPS menunjukkan angka kerja disabilitas hanya 21 persen lebih rendah dibandingkan kelompok non-disabilitas. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka bagi penyandang disabilitas jauh lebih tinggi," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi ini perlu mendapat perhatian serius, terutama mengingat sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menyerap sekitar 90 persen tenaga kerja di Indonesia. "Salah satu langkah yang dilakukan Pak Arief dan Pak Tafief dalam memfasilitasi teman-teman disabilitas merupakan terobosan yang harus terus dilakukan. Tidak hanya di Kementerian Keuangan tetapi juga di kementerian dan lembaga lain serta pemerintah daerah," tambahnya.

Ari Triono, Inclusion Specialist AAI Awardee, menekankan bahwa inklusi bukan sekadar menyediakan akses fisik, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat. "Penyandang disabilitas tidak ingin dikasihani atau dianggap spesial. Mereka hanya ingin diperlakukan setara, dengan penyesuaian yang diperlukan agar mereka bisa berpartisipasi penuh," jelasnya.

Abdul Wahid Fajar Amin, Kabag Tata Kelola dan Pelayanan Publik Biro Organta Kementerian Keuangan, menambahkan bahwa upaya perekrutan tenaga kerja disabilitas telah dilakukan sejak 2017, meski belum sepenuhnya optimal. "Kami telah membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas, tetapi masih sedikit yang mendaftar. Mungkin karena kurangnya sosialisasi atau fasilitas yang belum sepenuhnya mendukung," ungkapnya.

Tak hanya membahas regulasi, acara ini juga menampilkan berbagai inisiatif konkret, seperti pelatihan dan lelang amal karya penyandang disabilitas. "Ada dua penggelar seni yang akan ditampilkan, yang pertama adalah hasil karya seni dalam bentuk lukisan, satu lagi nanti dalam bentuk orkestra," ujar Saat Suharto, Wakil Ketua II BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta.

 

Foto Terkait Berita

Berita Terbaru

Floating Icon