Talkshow "Berbincang Isu Inklusi Itu Asyik" Soroti Tantangan dan Solusi bagi Penyandang Disabilitas
Monika Yulando Putri
Rabu, 19 Maret 2025 pukul 23:49:55 |
226 kali
Jakarta – Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) bersama BAZNAS
(BAZIS) DKI Jakarta menggelar talkshow bertajuk "Berbincang
Isu Inklusi Itu Asyik” pada Rabu (19/03) bertempat di Taman Ismail Marzuki.
Acara tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya
inklusivitas, terutama bagi penyandang disabilitas.
Dalam sesi pembukaan, Kepala Kanwil DJKN DKI Jakarta Arif
Bintarto Yuwono menegaskan bahwa inklusi bukan sekadar konsep, melainkan
tanggung jawab bersama. "Mari kita di bulan Ramadan ini sebagai pengingat bahwa inklusi
sosial ini bukan hanya mimpi tetapi merupakan satu tanggung jawab bersama untuk
kita mewujudkannya," ujarnya di Taman Ismail Marzuki, Rabu
(19/3/2025).
Direktur Lelang Tavianto Nugroho dalam keynote speech menegaskan
komitmen Kementerian Keuangan untuk membantu difabel dalam perspektif ekonomi,
contohnya melalui lelang UMKM dan lelang lukisan yang bekerjasama dengan
Baznas.
Acara talkshow menghadirkan para pakar yang membahas
kebijakan serta tantangan inklusi di berbagai sektor. Salah satu isu utama yang
dibahas adalah rendahnya partisipasi penyandang disabilitas dalam dunia kerja.
Ari Wahyuni, Kepala Biro Organta Kementerian Keuangan, mengungkapkan bahwa
tingkat keterlibatan penyandang disabilitas dalam sektor pekerjaan masih jauh
tertinggal dibandingkan mereka yang non-disabilitas.
"Data dari BPS menunjukkan angka kerja disabilitas hanya 21
persen lebih rendah dibandingkan kelompok non-disabilitas. Sementara itu,
tingkat pengangguran terbuka bagi penyandang disabilitas jauh lebih
tinggi," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi ini perlu mendapat perhatian
serius, terutama mengingat sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang
menyerap sekitar 90 persen tenaga kerja di Indonesia. "Salah satu langkah yang dilakukan Pak Arief dan Pak Tafief dalam
memfasilitasi teman-teman disabilitas merupakan terobosan yang harus terus
dilakukan. Tidak hanya di Kementerian Keuangan tetapi juga di kementerian dan
lembaga lain serta pemerintah daerah," tambahnya.
Ari Triono, Inclusion Specialist AAI Awardee, menekankan bahwa
inklusi bukan sekadar menyediakan akses fisik, tetapi juga membangun kesadaran
masyarakat. "Penyandang disabilitas tidak ingin dikasihani atau dianggap spesial.
Mereka hanya ingin diperlakukan setara, dengan penyesuaian yang diperlukan agar
mereka bisa berpartisipasi penuh," jelasnya.
Abdul Wahid Fajar Amin, Kabag Tata Kelola dan Pelayanan Publik
Biro Organta Kementerian Keuangan, menambahkan bahwa upaya perekrutan tenaga
kerja disabilitas telah dilakukan sejak 2017, meski belum sepenuhnya optimal. "Kami telah membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas, tetapi
masih sedikit yang mendaftar. Mungkin karena kurangnya sosialisasi atau
fasilitas yang belum sepenuhnya mendukung," ungkapnya.
Tak hanya membahas regulasi, acara ini juga menampilkan berbagai
inisiatif konkret, seperti pelatihan dan lelang amal karya penyandang
disabilitas. "Ada dua penggelar seni yang akan ditampilkan, yang pertama adalah hasil
karya seni dalam bentuk lukisan, satu lagi nanti dalam bentuk orkestra,"
ujar Saat Suharto, Wakil Ketua II BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta.
Foto Terkait Berita
Berita Terbaru