Dukung Program KPR FLPP, SMF Kurangi Beban Fiskal Pemerintah
Nanang Ansari
Senin, 20 Mei 2024 pukul 20:18:08 |
629 kali
Jakarta - PT
Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF, salah satu Special Mission
Vehicle (SMV) Kemenkeu telah menyalurkan dana Kredit Pemilikan Rumah
Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP) sebesar Rp6,6 triliun pada
tahun 2023. Penyaluran dana ini digunakan untuk membiayai 172.522 unit rumah bagi
masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama SMF, Ananta Wiyogo dalam
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan untuk Tahun Buku 2023, Senin (20/5) di
Jakarta.
"Realisasi
penyaluran KPR FLPP pada tahun 2023 Rp6,6 triliun dari target Rp5,3 triliun,
disalurkan untuk 172.522 unit rumah", kata Ananta. Kinerja SMF ini merupakan pelaksanaan penugasan pemerintah
untuk mendukung penyediaan rumah bagi masyarakat dan berperan menurunkan beban
fiskal pemerintah dengan membiayai 25 persen dari pendanaan program FLPP yang
berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berupa Penyertaan
Modal Negara (PMN).
Untuk program
ini, lanjut Ananta, sejak tahun 2018 hingga Desember 2023 SMF telah menyalurkan
dana pada program FLPP sebesar Rp21,64 trilliun atau setara dengan 597.172 unit
rumah. "Dana ini terdiri dari dana PMN sebesar Rp9,3 triliun dan leveraging
melalui penerbitan surat utang sebesar Rp11,34 triliun atau 1,2 kali dari
PMN yang diterima," jelasnya.
Selain peran
dalam program FLPP, SMF menjalankan beberapa program inisiatif strategi, yaitu
Program Pembiayaan Homestay dan Program Peningkatan Kualitas Rumah di
Daerah Kumuh.
Dalam Program
Pembiayaan Homestay di destinasi wisata, SMF bersinergi dengan
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pada tahun 2023, SMF menyalurkan Rp995
juta untuk pembiayaan homestay di lima lokasi, yakni Botubarani dan
Bongo di Gorontalo, Selenrang di Maros, Hilisimaetano di Nias, dan Hagotirto di
Kulonprogo. Hingga 2023, SMF telah menyalurkan Rp13,6 miliar kepada 183 debitur
untuk pembiayaan homestay.
Sementara itu, dalam peningkatan kualitas rumah di daerah kumuh, SMF bersinergi dengan Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Dalam tahun 2023 ada 5 tempat pelaksanaan program, yaitu Talumolo di Gorontalo, Teluk di Pandeglang, Sukaraja di Prabumulih, Oesapa di Kupang, dan Makassar Timur di Ternate. Untuk lima lokasi ini, telah dicairkan dana sebesar Rp6,13 miliar. Sampai dengan 2023, tercatat Rp33,8 miliar yang telah disalurkan kepada 488 rumah layak huni untuk program ini,
Lebih lanjut,
Ananta menyebutkan total akumulasi dana yang telah dialirkan ke pasar
pembiayaan perumahan sampai dengan 2023 mencapai Rp103,75 triliun. Berdasarkan
laporan keuangan tahun 2023 yang telah diaudit dan mendapat opini "wajar,
dalam semua hal yang material", total aset SMF tercatat Rp45,7 triliun.
Posisi aset meningkat disebabkan penyaluran pinjaman yang lebih tinggi
dibandingkan 2022. Pinjaman komersial lebih tinggi Rp1,2 triliun dan pinjaman
program lebih tinggi Rp600 miliar. Sedangkan laba bersih yang dihasilkan SMF di
tahun 2023 mencapai Rp465,6 miliar.
Dalam kesempatan
yang sama, Direktur Jenderal Kekayaan Negara Rionald Silaban yang mewakili
Pemerintah Republik Indonesia selaku pemegang saham meminta agar Direksi, Dewan
Komisaris, dan Dewan Pengawas Syariah agar bersama-sama mengembangkan pasar pembiayaan sekunder perumahan dengan
memperhatikan penerapan Governance Risk and Complience. Dirinya juga
meminta, agar Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi kinerja perseroan
secara menyeluruh guna menyusun strategi perseroan yang lebih baik, serta
melakukan stress test secara berkala untuk memastikan sustainability keuangan
dan bisnis persroan tetap sehat di tengah pemulihan ekonomi yang masih
dibayangi ketidakpastian. "Perseroan agar meningkatkan sinergi dengan para
pihak dalam ekosistem pembiayaan perumahan untuk meningkatkan peran dan
kontribusi perseroan dalam mendorong pembiayaan perubahan yang efektif dan
efisien," lanjut Rionald.
Rionald berharap
agar pembiayaan perumahan berwawasan lingkungan terus dikembangkan sebagai
partisipasi perseroan untuk turut mengatasi dampak pemanasan global dan
perubahan iklim.
Terkait
rekomendasi perbaikan yang disampaikan oleh auditor internal, Rionald meminta
agar Direksi, Dewan Komisaris, dan Dewan Pengawas Syariah memperhatikan dan
menindaklanjutinya serta melaporkan perkembangannya kepada RUPS secara berkala.
Rionald juga
memberi arahan guna pelaksanaan program FLPP yang tepat sasaran dan optimal.
"Perseroan agar berkoordinasi dengan BP Tapera untuk menciptakan mekanisme
monitoring dan pengawasan yang efektif dalam pelaksanaan program FLPP,"
pesannya. (na/taw)
Foto Terkait Berita
Berita Terbaru