Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Berita DJKN
Public Speaking dan Bakti Sosial – Rangkaian Acara DWP-DJKN dalam Memperingati Hari Jadi DJKN ke-6

Public Speaking dan Bakti Sosial – Rangkaian Acara DWP-DJKN dalam Memperingati Hari Jadi DJKN ke-6

N/A
Rabu, 07 November 2012 pukul 07:53:51 |   515 kali

Jakarta – Acara silaturahmi Ketua DWP-DJKN seluruh Indonesia kali ini diadakan pada hari Kamis, 1 November 2012 di Aula Gedung Syafrudin Prawiranegara, dengan dihadiri oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DWP-DJKN) Wida Hadiyanto, wakil ketua DWP-DJKN, istri eselon II di lingkungan DJKN, Ketua Dharma Wanita Kantor Wilayah (Kanwil) DJKN se-Indonesia, serta pengurus dan anggota DWP-DJKN.


Rangkaian acara yang diselenggarakan pada tanggal 1 s.d. 2 November 2012 ini dikemas secara apik dalam bentuk Ladies Program: Hari Jadi DJKN ke-6, di mana acara pada hari pertama diisi dengan kegiatan sharing public speaking pengetahuan sebagai bekal tentang bagaimana cara bicara dan sopan-santun oleh narasumber Miranty Abidin dari Fortune Pramana Rancang, dan hari kedua akan diisi dengan kunjungan DWP-DJKN ke panti sosial.


Pada hari pertama, Miranty Abidin selaku narasumber mengupas tuntas hal-hal yang berkaitan dengan public speaking. Public speaker adalah orang yang berbicara kepada publik tentang segala macam permasalahan, baik secara langsung maupun melalui media. Public speaking mengharapkan terciptanya umpan balik (feedback) dari audience. Public speaking tidak seratus persen berdasarkan teori, tetapi lebih mengarah ke seni. “Bicara itu seni,” ujar wanita yang pernah mengenyam pendidikan di Frank Jefkins School of Public Relations London, Inggris ini.

           

Agar dapat menjadi seorang pembicara yang baik, seseorang harus mampu meningkatkan rasa percaya diri yang bisa diawali dengan sering berdiri di depan orang banyak, melakukan evaluasi untuk mengetahui apakah informasi yang disampaikan kepada audience sudah tepat dalam rangka memperbaiki diri, dan tentu saja sering berlatih. Latihan merupakan hal yang sangat penting dilakukan bagi seorang public speaker. Penguasaan materi juga merupakan faktor penting dalam menyampaikan informasi di hadapan audience, dan apa yang disampaikan harus dapat dipertanggungjawabkan.


Miranty juga menanggapi salah seorang peserta yang meminta tips bagaimana agar tercipta komunikasi yang tidak satu arah dan terkesan mengajari audience. Wanita kelahiran Subang ini menyarankan untuk menarik napas sebanyak tiga kali, datang lebih awal agar bisa rileks dan mengobrol santai dengan calon audience atau panitia untuk memperoleh informasi singkat, dan tidak ragu untuk mengajak audience untuk berinteraksi dalam setiap tahapan/fase agar tercipta komunikasi yang berjalan dua arah. “Anggap diri kita menjadi bagian dari audience. Setelah itu lakukan tarik napas dan kontak mata dengan audience,” ujarnya ramah memberikan tips.

           

Di akhir materi, Miranty kembali menegaskan bahwa art dalam public speaking adalah bagaimana cara menyampaikan suatu informasi agar dapat terkomunikasikan dengan baik (seni dalam berbicara). “Kita tidak akan memperoleh kesempatan kedua jika kesan pertama sudah terbentuk,” ungkapnya berfilosofi. Kesan pertama (first impression) seorang public speaker dilihat dari penampilannya melalui pakaian yang dikenakan dan komunikasi nonverbal seperti wajah, tangan, dan sikap. Di akhir acara, peserta dihibur dengan tarian Zapin Kipas Melayu oleh DWP-DJKN Pusat, dan acara ditutup dengan ramah-tamah.


Keesokan harinya (02/11), DWP-DJKN kembali melanjutkan rangkaian acaranya melalui kegiatan berbagi rezeki ke panti sosial. Dalam kesempatan kali ini, DWP-DJKN berkunjung ke Panti Sosial Bina Netra Cahaya Bathin yang berada di daerah Cawang, yang merupakan simbol dari dukungan perhatian DWP-DJKN.

           

Bakti sosial merupakan salah satu kegiatan yang rutin dilakukan oleh DWP-DJKN dengan tujuan untuk memberikan inspirasi dan motivasi melakukan hal-hal yang terbaik di sepanjang masa. “Kekurangan bukanlah suatu hambatan,” demikian sambutan Wida Hadiyanto yang disambut dengan tepuk tangan warga binaan panti sosial.


Kepala Panti Sosial Bina Netra Cahaya Bathin Dr. Yanuardi, M.Pd. dalam sambutannya menyampaikan bahwa orang yang memiliki perasaan yang lembutlah yang memiliki kepedulian terhadap sesama. “Semua anak saya di sini memiliki semangat yang luar biasa,” ujarnya bangga. “Di balik kelemahan terdapat potensi-potensi yang sedang dicoba untuk dikembangkan di sini. Suatu saat di sini akan muncul Stevie Wonder-Stevie Wonder baru,” ujarnya menambahkan.


Dengan dilandasi oleh semangat itulah, warga binaan panti sosial ini sering mengikuti berbagai perlombaan. Jika Anda rutin mengikuti tahap audisi Indonesian Idol 2012 yang lalu, mungkin Anda masih ingat dengan salah satu kontestan yang memiliki keterbatasan fisik (tunanetra, red.), namun memiliki suara emas yang layak untuk dipertimbangkan. Dialah Ridho Kusuma, kontestan yang ternyata merupakan salah satu warga binaan di panti sosial ini. Kala itu, perjuangan Ridho berhenti sampai di panggung eliminasi. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri karena Ridho merupakan pendobrak sejarah Indonesian Idol di mana untuk pertama kalinya seorang tunanetra lolos hingga babak eliminasi Indonesian Idol 2012 di Jakarta.

     

Bukan hanya pelatihan bina vokal yang diberikan di panti sosial ini, tetapi juga pelatihan di bidang musik lainnya, bahasa Inggris, komputer, hasta karya, serta sport dan shi-atsu massage. Dalam Jakarta Fair (Pekan Raya Jakarta) tahun 2012 yang merupakan pameran tahunan terbesar di Indonesia, panti sosial ini juga ikut berpartisipasi mengirimkan warga binaannya untuk memeriahkan acara melalui tarian.


Warga binaan di panti sosial ini diajarkan agar mampu hidup mandiri di lingkungannya masing-masing, serta dapat berorientasi dengan komunitasnya. Para pengajar di panti ini memiliki ketelatenan dan kesabaran yang sangat tinggi. Sudah seharusnya negara dalam hal ini pemerintah dan masyarakat ikut peduli dengan kehadiran mereka, sesuai dengan amanat Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa, “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.” Negara tidak boleh abai dengan kehadiran mereka karena mereka juga memiliki hak sebagai warga negara Indonesia untuk dipelihara dengan baik.


Penyerahan bantuan secara simbolis diberikan oleh Wida Hadiyanto kepada salah satu warga binaan sosial di panti ini. Kemudian, wakil ketua DWP-DJKN menyumbangkan suara emasnya melalui lagu daerah Jawa yang berjudul Gethuk, yang diiringi oleh berjoget bersama istri eselon II di lingkungan DJKN, Ketua Dharma Wanita Kantor Wilayah (Kanwil) DJKN se-Indonesia, pengurus DWP-DJKN, dan pengurus panti sosial beserta warga binaannya, sehingga membuat semua yang hadir larut dalam sukacita. Kepala panti sosial juga tidak mau kalah untuk ikut berpartisipasi memeriahkan suasana dan menghidupkan kegembiraan dengan menyumbangkan suaranya. (Achie-Okka/Humas DJKN)

     

Berita Terbaru

Floating Icon