Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Berita DJKN
Kumis, Sanggul, dan Kesahajaan

Kumis, Sanggul, dan Kesahajaan

N/A
Jum'at, 10 Mei 2013 pukul 17:35:35 |   790 kali

Semarang – “Sudah jam setengah sebelas, Pak. Bagaimana? Mau dimulai atau masih ditunggu?” tanya pembawa acara. “Ditunggu saja,” jawabnya bijak. Begitulah suasana siang itu, Jumat, 3 Mei 2013, Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta Suhadi, dengan sabar menunggu salah seorang tamu kehormatan sambil berbincang hangat dengan para pejabat eselon III yang mendampinginya. Sementara para pegawai lainnya mulai resah dan sebentar-bentar melihat jam dinding, mengingat hari itu adalah hari dimana para pegawai pria harus melaksanakan kewajiban sholat Jumat.

Suasana ruang rapat Kanwil mendadak berubah meriah. Gemuruh tepuk tangan mengiringi langkah anggun tamu kehormatan yang sedari tadi ditunggu. Ia adalah Estikomah, pegawai yang memasuki masa purnatugas per tanggal 1 April 2013. Mengenakan kebaya berwarna pink lembut lengkap dengan sanggulnya, membuat semua yang hadir diruangan itu tidak percaya bahwa beliau telah memasuki masa pensiun. Bu Esti, begitu panggilannya, langsung menempatkan diri di sebelah dua orang tamu kehormatan lainnya yaitu Sabarno, sebelumnya menjabat sebagai Kepala Seksi Bimbingan Lelang I, yang memasuki masa purnatugas per tanggal 1 Maret 2013, dan Sri Muljani Indarti yang memasuki masa purnatugas per tanggal 1 Mei 2013. Tepat lima menit sebelum pukul sebelas, Suhadi membuka acara yang sedianya akan dimulai pada pukul sepuluh tersebut. Pria berpeci ini mengawali dengan menyambut hangat ketiga tamunya. “Saya, atas nama keluarga besar Kanwil ini mengucapkan permohonan maaf kepada Pak Sabarno, Bu Esti dan Bu Muljani atas segala kesalahan, juga sebagai pimpinan saya mengucapkan terima kasih atas pengabdian beliau bertiga kepada DJKN, semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan kebahagiaan dalam menjalani masa pension,” jelas Suhadi. Didaulat oleh Kepala Kanwil untuk berbicara di depan, ketiganya menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh jajaran pejabat dan pegawai dan diiringi ucapan terima kasih atas kerjasama baik yang telah terjalin selama ketiganya aktif berkarya. Ketiganya berharap agar silaturahmi sebagai keluarga besar pegawai purnabakti DJKN akan tetap terjalin. Slamet Sugito, mewakili seluruh pegawai menyampaikan kesan terhadap ketiga orang tersebut. “Pak Barno itu pria berkumis yang kuat, setiap harinya menempuh perjalanan Magelang-Semarang demi mengabdi pada Negara, Sekarang sudah enak ya pak? Bangun tidur tidak perlu langsung mandi dan mengejar absen. Bisa leyeh-leyeh dulu,” ujar Slamet yang disambut tawa para hadirin. “Bu Esti itu orangnya cekatan, tidak pernah dalam sejarah surat tugas itu (terbit-red) terlambat. Kalau Bu Muljani itu pribadi yang bersahaja, rapi, dan sangat taat pada aturan,” tutup Slamet diiringi anggukan semua yang hadir di ruangan itu. Setelah menerima tanda kasih dan berfoto bersama, acara diakhiri dengan pemberian ucapan selamat. Ada sebuah falsafah hidup yang disampaikan oleh Sri Muljani sebelum beliau berpamitan. “Saya ini sudah manak (punya anak), mantu (punya menantu), mutu (punya cucu), tinggal mati. Sekarang tugas saya adalah beribadah, mempersiapkan diri jika saat itu tiba nanti,” terang Sri. Bagi kita yang perjalanannya masih panjang, ada baiknya kita berkaca pada ketiga orang tersebut. Bekerja dan beribadahlah dengan sebaik-baiknya agar kita bisa menutup akhir lembaran kita dengan baik pula. (Teks: Lara Atika Pratiwi | Editor: QR)

Foto Terkait Berita

Berita Terbaru

Floating Icon