Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Berita DJKN
Kanwil DJKN Suluttenggomalut  Internalisasikan Program Budaya Kerja

Kanwil DJKN Suluttenggomalut Internalisasikan Program Budaya Kerja

N/A
Senin, 08 Juli 2013 pukul 08:04:08 |   697 kali

Manado – Mantan Menteri Keuangan Republik Indonesia Agus D.W. Martowardojo yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia merupakan sosok yang memiliki integritas tinggi. Banyak kebijakannya bertujuan untuk membangun organisasi Kementerian Keuangan menjadi lebih baik. Sebelum meninggalkan jabatannya sebagai Menteri Keuangan, Ia membuat kebijakan yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 127/PMK.01/2013 tentang Program Budaya di Lingkungan Kementerian Keuangan Tahun 2013. Program budaya yang dimaksud adalah satu informasi setiap hari; dua menit sebelum jadwal; tiga salam setiap hari; rencanakan, kerjakan, monitoring, tindak lanjuti; ringkas, rapi, resik, rawat, rajin.

Dalam mengenalkan program budaya tersebut, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Sulawesi Utara, Tengah, Gorontalo, dan Maluku Utara (Kanwil DJKN Suluttenggomalut) mengadakan internalisasi program budaya di lingkungan Kementerian Keuangan pada 28 Juni 2013. Acara yang berlangsung di ruang tengah Kanwil DJKN Suluttenggomalut ini merupakan rangkaian dari acara rapat persiapan pembinaan Panitia Urusan Piutang Negara PUPN Cabang dan evaluasi capaian kinerja Kanwil dan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) sehingga diikuti oleh seluruh pegawai Kanwil dan sebagian dari KPKNL di lingkungan Kanwil DJKN Suluttenggomalut.

Internalisasi dipandu oleh Kepala subbag Keuangan yang merupakan salah satu anggota Tim Program Budaya Kanwil Suluttenggomalut, Thomas Dwi Daryono. Dalam paparannya, Thomas mengingatkan kembali pentingnya Nilai-Nilai Kementerian Keuangan, jika manusia hidup itu memerlukan hati nurani, maka organisasi pun, agar mampu berkinerja optimal memerlukan nilai-nilai utama sebagai hati nuraninnya. Lima Program Budaya ini merupakan tindaklanjut dari implemnetasi Nilai-Nilai Kemenkeu. Jadi  bukan hanya pada tataran konsep tetapi harus benar-benar dilaksanakan dan menjadikannya sebagai suatu kebiasaan sehari-hari.

Budaya yang pertama adalah satu informasi setiap hari. Budaya ini dimaksudkan agar mendorong para pegawai Kemenkeu untuk mencari informasi yang positif kemudian membagi informasi yang sudah didapat kepada pegawai lain sehingga terjadi pertukaran informasi/pengetahuan. Jika setiap pegawai punya satu informasi dan dibagi dengan pegawai lain maka betapa banyak informasi yang akan didapat satu orang pegawai setiap harinya.

Budaya kedua adalah dua menit sebelum jadwal. Hal ini bertujuan untuk melatih, membiasakan dan menumbuhkan kedisiplinan seluruh pegawai. Dalam mulai membiasakan disiplin, Thomas menyampaikan untuk memulainya dalam sebuah rapat karena yang terjadi selama ini adalah rapat tidak pernah dimulai tepat waktu sehingga Ia menekankan agar sebelum rapat dimulai para peserta sudah harus datang sebelum jadwal. Apabila hal tersebut dapat dibiasakan dengan baik maka akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi rapat.

Budaya ketiga adalah tiga salam setiap hari. Hal ini terkait dalam pemberian pelayanan kepada stakeholders. Tujuannya adalah mendorong seluruh pegawai Kemenkeu terbiasa memberikan pelayanan terbaik dan bersikap sopan serta santun dengan memberikan salam sesuai waktunya.

Budaya keempat adalah rencanakan, kerjakan, monitoring, tindak lanjuti atau yang lebih dikenal dengan plan, do, check, action (PDCA). Tujuannya adalah agar seluruh pegawai Kemenkeu dalam melaksanakan tugas sehari-hari menerapkan etos kerja dan prinsip manajemen/organisasi yang baik. Selain itu juga dapat melakukan perbaikan terus-menerus dengan cara sistematis yang dimulai dengan membuat perencanaan, mengeksekusi, memantau dan mengevaluasi dan menindaklanjuti hasil evaluasi. Pendekatan siklus PDCA menekankan bahwa perencanaan yang matang akan  mendorong pelaksanaan kegiatan yang efisien dan efektif, sementara itu pelaksanaan kegiatan harus selalu dimonitor dan dievaluasi agar dapat dilakukan  upaya perbaikan berkelanjutan pada tahapan perencanaan dan pelaksanaan  kegiatan selanjutnya, demikian seterusnya sehingga terjadi siklus upaya perbaikan yang berkelanjutan.

Budaya yang terakhir adalah 5R (ringkas, rapi, resik, rawat, rajin). Ringkas dapat diartikan dengan membedakan antara yang diperlukan dan yang tidak diperlukan serta membuang yang tidak diperlukan. Rapi, menentukan tata letak yang tertata rapi sehingga kita selalu menemukan barang yang diperlukan. Resik, menghilangkan sampah kotoran dan barang asing untuk memperoleh tempat kerja yang lebih bersih. Rawat, memelihara barang dengan teratur rapi dan bersih juga dalam aspek personal dan kaitannya dengan polusi. Dan yang terakhir adalah rajin yaitu melakukan sesuatu yang benar sebagai kebiasaan sehingga menciptakan budaya. Dengan begitu maka akan mendorong seluruh pegawai Kemenkeu terbiasa menciptakan lingkungan kerja yang efektif dan efisien sehingga dapat mendukung tercapainya hasil kerja yang optimal serta melatih kedisiplinan dalam bekerja.

Di akhir paparannya, Thomas menegaskan agar program budaya ini lebih powerfull dan mempunyai daya ungkit yang besar terhadap peningkatan kinerja maka dalam pelaksanaanya  harus dilengkapi dengan 4 mentalitas manajenen yaitu commitment, accommplisment, accountability  dan excellence. (Febrianto – Kanwil Suluttenggomalut/NK)

Foto Terkait Berita

Berita Terbaru

Floating Icon