Lelang di Negeri Matahari Terbit
N/A
Kamis, 11 Juli 2013 pukul 17:06:44 |
2493 kali
Jepang - Dalam rangka memenuhi undangan PT Japan Bike Auction (JBA) Indonesia, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara memberangkatkan tim ke Jepang untuk mendapatkan gambaran dan informasi mengenai berbagai hal yang terkait dengan praktek lelang di Jepang. Kunjungan ke Jepang tersebut diselenggarakan pada 26 Juni sampai 1 Juli 2013.
Tim yang ditugaskan untuk melakukan kunjungan tersebut terdiri dari empat orang dari Direktorat Lelang yaitu Direktur Lelang, Kasubdit Bina Profesi dan Jasa Lelang, Kasubdit Bina Lelang II, dan Kasie Bina Profesi Lelang I dan Kasie Peraturan Perundangan IV dari Direktorat Hukum dan Hubungan Masyarakat.
Selama kunjungan di Jepang, tim mengunjungi enam balai lelang yang cukup besar di Jepang, yaitu Balai Lelang Aucnet, Balai Lelang USS, Balai Lelang Japan Bike Auction (JBA) Yokohama, Balai Lelang Ohta Kaki Flower Auction, Balai Lelang Nissan Auto Auction (NAA), Balai Lelang Toyota Auto Auction (TAA). Tim mempelajari alur proses pelaksanaan lelang sekaligus melihat langsung lelang yang diselengarakan di tiap balai lelang tersebut.
Menariknya, lima dari enam Balai Lelang tersebut bergerak di lelang otomotif bekas, baik itu mobil bekas maupun motor bekas. USS merupakan salah satu balai lelang khusus untuk mobil bekas dengan share market terbesar di Jepang diikuti oleh NAA dan TAA. JBA Yokohama melakukan lelang motor bekas, mulai dari motor murah sampai dengan motor mewah seperti Ducatti dan BMW.
Photo bersama Tim DJKN, Tim JBA Indonesia dan JBA Yokohama (kiri) dan Motor Harley Davidson objek lelang JBA Yokohama (kanan)
Selain balai lelang tersebut, masih ada 144 Balai Lelang lainnya yang menjual mobil dengan total keseluruhan jumlah mobil terjual sebanyak 8 Juta unit per tahun. Sedangkan untuk lelang motor, 15 Balai Lelang di Jepang termasuk JBA Yokohama, menjual motor melalui lelang sebanyak total 400 ribu unit per tahun.
Untuk balai lelang Aucnet, objek lelang yang ditawarkan lebih bervariasi. Tidak hanya otomotif bekas, jam tangan, tas, parfum dengan merek terkenal seperti Louis Vitton, Hermes, Aigner pun ditawarkan. Bagi yang hobi membeli gadget dan barang elektronik, Balai Lelang Aucnet bisa menjadi pilihan untuk mencari barang.
Khusus untuk Ohta Kaki Flower Auction, Balai Lelang ini fokus kepada lelang bunga dan tanaman. Pemerintah menyediakan tempat pelaksanaan lelang bunga dan Balai Lelang membangun fasilitas yang diperlukan untuk pelaksanaan lelang bunga dan kemudian mengembalikannya kepada pemerintah, dengan kewajiban pembayaran sewa kepada pemerintah tiap bulan.
Suasana Lelang Bunga di Auction Hall Ohta Kaki Flower Auction (kiri) dan Lelang di Auction Hall Balai Lelang TAA (kanan)
Sistem di Jepang, yang dapat membeli atau menjual melalui lelang yang diselenggarakan di Balai Lelang Jepang harus menjadi member. Pembeli harus merupakan dealer/rental companies/leasing companies atau memiliki toko/showroom. Jadi, end-user tidak bisa langsung membeli melalui lelang pada balai lelang. Balai Lelang yang bergerak di penjualan motor/mobil harus memperoleh lisensi dari kepolisian sehingga legalitas objek dan subjek lelang terjamin. Sedangkan untuk Balai Lelang yang fokus pada lelang bunga harus mendapatkan lisensi dari instansi pertanian.
Cara penawaran pada prinsipnya tidak berbeda dengan yang telah diatur di Indonesia. Pembeli dapat mengajukan penawaran lebih dari satu kali (multiple bid) sehingga penawaran bersifat real time bid. Namun, khusus untuk pelaksanaan lelang yang diselenggarakan oleh NAA yang disebut dengan e-tender, pembeli lelang hanya diperbolehkan menawar dalam durasi waktu tertentu. Uniknya, cara penawaran ini amat mirip dengan penawaran lelang melalui email yang menjadi inisiatif strategis Direktorat Lelang tahun 2013 ini.
Oleh karena fasilitas yang modern dan sistem yang terintegrasi, pembeli tidak perlu hadir pada saat pelaksanaan lelang. Pembeli cukup mengakses website balai lelang, memilih barang yang ditawarkan, dan memasukkan penawaran. Bahkan Juni tahun 2013 ini, TAA telah mengeluarkan aplikasi pada iphone yang memudahkan pembeli melakukan penawaran. Tentunya tidak ada larangan bagi pembeli untuk datang ke balai lelang, karena balai lelang pun menyediakan auction hall dengan 300-1200 seats yang amat nyaman dan dilengkapi perangkat keras bagi pembeli untuk melakukan penawaran. Dengan demikian, sistem aplikasi dari balai lelang memungkinkan terjadinya penawaran dengan kehadiran dan tanpa kehadiran (melalui internet) dari manapun secara bersamaan.
Lalu bagaimana menentukan pemenangnya? Jika dalam waktu lima detik setelah penawaran tertinggi terakhir melampaui nilai limit, maka penawar terakhir tersebut yang akan ditentukan menjadi pemenang. Pelaksanaan lelangnya pun menjadi teramat singkat. Sistem aplikasi dari balai lelang memungkinkan pelaksanaan lelang secara bersamaan, mulai dari 2 line sampai 10 line sehingga satu Balai Lelang bisa melelang sampai dengan 12.000 mobil per hari (USS).
Walaupun tanpa pejabat lelang yang menentukan pemenang dan melegalisasi pelaksanaan lelang, sistem yang berteknologi tinggi dan membutuhkan investasi milyaran rupiah memungkinkan pelaksanaan lelang menjadi nyaman bagi penjual dan pembeli.
Kejujuran dan kepercayaan merupakan nilai mendasar dalam pelaksanaan lelang di Jepang. Pada beberapa Balai Lelang seperti USS, Aucnet dan JBA Yokohama pemenang dapat memperoleh objek lelang tanpa harus membayar terlebih dahulu. Fee yang harus dibayarkan baik oleh penjual dan pembeli bervariasi tergantung tiap balai lelang. Biaya yang harus disetorkan ke kas negara hanya berupa Value Added Tax (VAT) sebesar 5%.
Suasana lelang di Auction Hall NAA (kiri) dan Lelang Ikan Tuna di Pasar Ikan Tsukiji Tokyo (kanan)
Perjalanan ke negeri matahari terbit ini tidak lengkap, apabila tidak mampir pada pelelangan di pasar Tsukiji Tokyo, salah satu pasar ikan terbesar di dunia. Di sela jadwal yang padat, tim pun siap sedia sejak dini hari agar dapat masuk antrian daftar 120 orang yang bisa melihat langsung lelang yang dilaksanakan pada pukul 05.25. Sebagai informasi, pada awal tahun 2013 lelang ikan tuna di pasar ikan tsukiji ini telah berhasil menjual ikan tuna sirip biru seberat 222 kg dengan harga selangit, sebesar 155,4 juta yen atau setara USD 1,3 juta. Cara penawaran yang unik seperti halnya lelang kayu di Indonesia, menjadi atraksi tersendiri yang menarik wisatawan asing.
Kunjungan tim ke Jepang memperkaya khasanah pelaksanaan lelang di negara maju seperti Jepang, khususnya yang terkait lelang online. Besar harapan tim, pelaksanaan lelang melalui media internet dapat segera direalisasikan. Tentunya, pengaturan lebih lanjut sebagai payung hukum untuk pelaksanaan lelang menggunakan media teknologi informasi dan komunikasi dapat segera diterbitkan sehingga lelang bisa menjadi sarana jual beli pilihan masyarakat (sales means auction). (Wifda Indriani – Direktorat Lelang / NK)
Foto Terkait Berita
Berita Terbaru