Berita DJKN

Alumni Tailor Made Training NESO Berbagi Tentang Pengelolaan Aset Pemerintah Belanda

Senin, 09 Juli 2018 pukul 19:47:14   |   321 kali

Jakarta- DJKN Muda bersama dengan Direktorat Penilaian Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) mengadakan knowledge sharing yang bertajuk Highest and Best Use Analysis of Public Infrastructure Asset pada Jumat (6/6) di Ruang Rapat Aula DJKN dengan narasumber Tommy Darmawan dan Ferdha Hermanto dari Direktorat Penilaian, serta Romi Muharram dari Sekretariat DJKN. Acara ini diselenggarakan sebagai wadah berbagi pengalaman dan ilmu yang didapat para alumni Tailor Made Training NESO saat pelatihan di Belanda beberapa waktu yang lalu.

Kegiatan dibuka dengan pemaparan oleh Ferdha yang menyampaikan gambaran singkat tentang real estate di Netherlands, Valuation Standards (International Valuation Standard, European Valuation Standard, and Redbook Royal Institution of Chartered Surveyors), dan Discussion on Highest and Best Use (HBU) using Force Field and SWOT Analysis. Saat di Belanda, ketiga materi ini dipaparkan langsung oleh Prof. Dr. Tom Berkhout, MRE, MRICS, yang merupakan profesor di Nyenrode Universiteit sekaligus Chairman of Competence Central Real Estate of the Dutch Tax Authorities dan RJ A. Hammer, MRE, yang merupakan RICS Registered Valuer.

Kemudian sharing dilanjutkan oleh Tommy yang bercerita bahwa selain pembelajaran di dalam kelas, peserta training juga mendapatakan pembelajaran di luar kelas, Peserta diajak berkeliling ke penjara bernama Wolvenplein Prison di daerah Utrecht. “Ketika kita kesana bahkan lantai dasar dari penjara ini sudah disewakan untuk perkantoran, karena benar-benar sudah kosong”, jelas Tommy. Hal ini merupakan sesuatu yang biasa dijumpai di penjara-penjara di Belanda karena negeri Kincir Angin tersebut sangat rendah angka kriminalitasnya sehingga mengalami over supply penjara.

Selanjutnya Tommy menjelaskan bahwa pemerintah Belanda sudah memikirkan rencana kedepan agar aset negara berupa penjara-penjara yang kosong ini tetap dapat difungsikan dengan cara menyewakannya untuk dipakai oleh negara lain. “Bahkan mereka menyewakan penjara ini ke Belgia, karena Belgia masih butuh penjara sehingga mereka menyewa ke pemerintah Belanda. Lokasi penjara ini sangat strategis sehingga menurut mereka sayang bila tidak digunakan, sampai segitunya mereka dalam mengelola aset negara” lanjut Tommy.

Para alumni bercerita bahwa pemerintah Belanda sangat concern terhadap pengelolaan aset dan data. Pemerintah Belanda berusaha semaksimal mungkin agar setiap aset yang dimiliki negara dapat dioptimalkan pemanfaatannya. Hal ini juga didukung oleh pihak swasta yang ada di Belanda. Sehingga ketika pemerintah membutuhkan, data properti sudah dapat diakses langsung dan tidak perlu membeli dari pihak swasta karena antara pemerintah dan swasta sudah ada mutual understanding yang baik. “Dalam hal ini kita berbeda dengan Belanda. Kita masih sangat bergantung pada swasta dalam hal data properti, bila kita butuh data tidak jarang harus membeli dari perusahaan properti,” kata Tommy.

Merangkum beberapa poin penting terkait penilaian selama training di Belanda, Tommy menyampaikan bahwa penilai harus sangat menjaga integritas dan independensi serta harus bisa mengelola ekspektasi dari pemohon/stakeholder dan memberikan pelayanan yang maksimal kepada stakeholdernya. “Mengelola ekspektasi ini bukan dalam artian kita memberikan apa yang mereka mau, tetapi kita berada ditengah-tengah seperti wasit, dan mengelola ekspektasi dari pihak-pihak yang berkepentingan,” tambah Tommy.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan para peserta yang cukup antusias untuk ingin bertanya lebih lanjut kepada para narasumber. Menutup acara, Kepala Sub Direktorat Kualitas Penilai Pemerintah Direktorat Penilaian Ahid Iwanudin memotivasi peserta untuk terus mau belajar dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya. “Ilmu ini jangan sampai hanya dimiliki oleh temen-temen kantor pusat, bahkan temen-temen kantor pusat pun hanya beberapa yang beruntung mempunyai kesempatan untuk bisa training kesana. Pegawai DJKN saya yakin punya potensi, tetapi memang terkendalanya di bahasa, maka dari itu mulai semester 2 ini kami dari Direktorat Penilaian mengadakan diklat penilaian dengan pengantar berbahasa Inggris. Monggo, nanti teman-teman yang berminat bisa mendaftar untuk ikut,” pungkasnya. (Hinji / Ja’far)

 

 

Foto Terkait Berita