Berita DJKN

Penerjemah Presiden RI dan Aktivis Difabel Berbagi Cerita

Rabu, 09 Mei 2018 pukul 18:06:45   |   671 kali

Jakarta – DJKN Muda bekerja sama dengan Tim Pengarusutamaan Gender Kantor Pusat Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (Tim PUG KP DJKN) menyelenggarakan kegiatan Inspiring Session pada Rabu (9/5) di Aula DJKN. Dua orang narasumber didatangkan pada acara ini yaitu Dimas Muhammad, salah satu penerjemah untuk Presiden Jokowi, dan Surya Sahetapy, seorang social influencer difabel (different ability-red).

Direktur Jenderal Kekayaan Negara Isa Rachmatarwata menyampaikan apresiasinya kepada seluruh insan DJKN atas inisiatifnya untuk terus berkembang, maju, saling menginspirasi, dan saling belajar dari satu sama lain. Khusus mengenai kolaborasi antara DJKN Muda dan Tim KP PUG DJKN, Isa mengharapkan ide dan pemikiran segar dari para generasi muda DJKN untuk dapat membantu para pegawai menjadi lebih produktif, berkinerja baik, serta menghilangkan hambatan-hambatan dalam bekerja. “Biasanya anak-anak muda itu kreatif. Biasanya anak-anak muda itu penuh imajinasi”, ujar Isa. Lebih lanjut Isa menyampaikan harapan agar generasi muda DJKN dapat menjadi wajah baru yang menunjukkan organisasi lebih baik, yang melawan budaya korupsi. “DJKN Muda tulang punggung kita melakukan perubahan, membuat DJKN baru yang tidak mengenal KKN”, pungkas Isa.

Pada kegiatan yang dipandu oleh Ayu Rizky Setyowati ini, Dimas banyak bercerita mengenai latar belakang dan awal mulanya menjadi seorang PNS dan penerjemah untuk Presiden Republik Indonesia. Berbagai keterbatasan di masa kecilnya menuntut Dimas untuk lebih keras dalam belajar Bahasa Inggris. Mulai dari memperkaya kosa kata langsung dari kamus yang dibawa ke mana-mana, sampai dengan rajin menonton film yang berbahasa Inggris. Dimas juga merupakan seorang penerima beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi di Harvard Kennedy School of Government. Keinginannya untuk belajar tentang kebijakan pemerintah dilatar belakangi oleh keprihatinannya atas impor kedelai yang melebihi 50% dari jumlah yang dikonsumsi rakyat Indonesia. Prestasi yang diraih Dimas di usia yang relatif muda ini menunjukkan bahwa akan selalu ada jalan bagi yang benar-benar berusaha. “Hasil yang didapat sekarang adalah perjuangan dimasa lalu”, ujarnya.

Senada dengan Dimas, Surya juga menyampaikan ketertarikannya dengan pemerintahan. Surya menyatakan keinginannya untuk membuat Indonesia menjadi lebih ramah terhadap penyandang difabel, salah satunya adalah melalui pemerintah. Pengalaman magang di kantor Gubernur DKI beberapa tahun lalu membuka matanya bahwa sebenarnya pemerintah tidak cuek dan acuh, namun kurang memahami kebutuhan difabel. Surya ingin membantu untuk menghadirkan pemahaman tersebut, sehingga dapat terwujud Indonesia yang ramah terhadap difabel. Salah satu pengalaman menarik sekaligus merupakan hasil dari advokasi yang dilakukan Surya adalah penambahan teks pada film Indonesia, Dilan 1990, agar dapat dinikmati oleh teman tuli. Surya awalnya juga tidak mengira usulan penambahan teks pada Film Dilan 1990 mendapatkan respon positif dari pihak produksi film tersebut. Penayangan film yang telah diberi teks ini mendapat animo yang sangat besar hingga banyak teman tuli rela duduk di tangga bioskop saat menonton.

Menutup cerita mengenai perjalanannya dalam memperjuangkan hak teman-teman tuli, Surya melalui penerjemahnya menyampaikan pesan bagi peserta Inspiring Session, “Tidak apa-apa terjatuh berkali-kali, jangan berhenti hingga akhirnya kita bisa berjalan”. (Humas DJKN)

 

Foto Terkait Berita