KPKNL Bukittinggi Menyambut Baik Program “Yuk Nabung Saham”
N/A
Jum'at, 16 September 2016 pukul 19:56:16 |
894 kali
Bukittinggi – “Selama ini kita berinvestasi dengan cara membeli emas, properti, atau menabung di bank, namun hari ini kita akan bertambah pengetahuan baru yaitu menabung melalui saham,” kata Syukriah HG, Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan lelang (KPKNL) Bukittinggi di ruang serbaguna kantornya pada hari Jumat, 16 September 2016.
Kalimat itu diucapkan Syukriah saat membuka acara sosialisasi pasar modal yang terselenggara atas kerjasama KPKNL Bukittinggi dan Bursa Saham Indonesia Perwakilan Padang. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program “Yuk Nabung Saham” yang dicanangkan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla beberapa bulan sebelumnya. Melalui kegiatan sosialisasi ini para pegawai KPKNL Bukittinggi diajak untuk memahami seluk beluk pasar modal sekaligus menambah pengetahuan tentang bagaimana cara berinvestasi dalam saham.
Narasumber yang diundang dalam acara tersebut adalah Reza sadat Shahmeini, Manajer Head of Representative Bursa Efek Indonesia Perwakilan Padang. Menurut Reza saat ini masyarakat Indonesia belum banyak menyadari potensi investasi melalui saham. “Sebagian besar pemegang saham untuk perusahan nasional saat ini dimiliki oleh asing,” kata Reza.
Dalam uraiannya, Reza membeberkan data, misalnya 56,75% saham PT BRI saat ini dimiliki oleh pemerintah dan sisanya 43,25% dijual kepada publik, namun 78% dari saham publik tersebut telah dibeli dan dimiliki oleh orang asing. “Jadi saat PT BRI bagi-bagi keuntungan saham (deviden-red) yang menikmati bukan rakyat Indonesia tapi orang lain,” katanya. Demikian pula saham Bank Mandiri, 60% dimiliki pemerintah dan 40% dijual ke publik, namun 81% dari saham publik itu juga dimiliki oleh pihak asing. Dan menurut data yang dipunyainya, Reza menyebutkan bahwa hampir semua saham BUMN, termasuk BNI, Telkom, Semen Padang, dan lain-lain, saham publiknya dimiliki asing.
“Itulah alasan kenapa pada tanggal 12 November 2015 Pak Yusuf Kalla mencanangkan program Yuk Nabung Saham,” kata Reza. Program nasional ini utamanya bertujuan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat Indonesia tentang pasar modal secara umum dan saham secara khusus. Selain menjelaskan tentang struktur pasar modal Indonesia, Reza juga menjelaskan tentang tren kenaikan harga saham gabungan selama 10 tahun terakhir. Dari data tersebut diketahui bahwa dalam 10 tahun terakhir kenaikan harga saham gabungan lebih tinggi yakni lebih dari 300% dibandingkan kenaikan harga emas yang hanya sekitar 206%. “Selain likuid, saat ini jual beli saham juga sudah lebih mudah dan bisa dilakukan secara mandiri dengan aplikasi online,” imbuh Reza.
Melalui sosialisasi ini, para pegawai KPKNL Bukittinggi mendapatkan pemahaman tentang prinsip investasi secara umum, bahwa investasi adalah upaya untuk menyisihkan dana dengan menunda belanja konsumtif saat ini untuk ditumbuhkembangkan dan dinikmati hasilnya di kemudian hari. Dalam paparannya Reza mencontohkan perusahaan Apple sebagai contoh. Pada saat perusahaan Apple pertama kali merilis produk I Phone, ada orang yang secara konsumtif membeli produk tersebut dengan harga yang sangat tinggi. Namun ada orang lain yang mengambil peluang dengan membeli saham. Uang yang dia beli untuk membeli saham Apple hanya sebesar harga beli produk I Phone. Saham Apple terus melejit dan harga saham yang setara harga jual produk I Phone itu kini telah setara dengan harga mobil Honda CRV. Orang pertama adalah contoh orang konsumtif yang fokus membeli produk yang seiring waktu nilai produknya terus menurun, sementara orang kedua menunda belanja konsumtif dan memilih memiliki perusahaannya dengan membeli saham dan kini menikmati hasil kenaikan saham yang seiring waktu terus naik.
Banyak hal yang didapatkan dari sosialisasi ini. Baik pengetahuan investasi secara umum maupun secara khusus. Secara khusus, pegawai KPKNL Bukittinggi diajarkan tentang bagaimana cara bertransaksi jual-beli saham dengan aman secara online. Investasi saham juga cocok untuk para pegawai negeri dikarenakan tidak menyita waktu kerja. “Cukup beli beberapa saham perusahaan, lalu nantikan hasilnya beberapa tahun kemudian,” pesan Reza. Dia menyarankan pegawai negeri untuk menjadi investor jangka panjang, bukan sekedar trader yang terus terpaku pada pergerakan harga saham harian.
Kegiatan yang berlangsung antara pukul 14.00 sampai dengan 16.00 di hari Jumat ini mengakhiri akhir pekan pegawai KPKNL Bukittinggi sebelum libur Sabtu dan Minggu dengan bekal pengetahuan tentang pasar modal. Tak ada salahnya menambah pengetahuan selama hal itu tidak mengganggu kinerja pegawai maupun organisasi. Kegiatan ini juga berpotensi memberikan manfaat positif bagi perubahan paradigma dari pegawai konsumtif berubah menjadi pegawai sadar investasi.
(Teks: Hakim SB Mulyono, Foto: Muhammad Japar Sidiq)
Foto Terkait Berita
Berita Terbaru