Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Berita DJKN
Transformasi Kelembagaan adalah Keharusan

Transformasi Kelembagaan adalah Keharusan

N/A
Jum'at, 20 Mei 2016 pukul 08:14:20 |   3299 kali

Bogor – Keberhasilan melakukan reformasi birokrasi, tidak membuat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berhenti berbenah. Dengan semangat menjadi organisasi yang lebih baik lagi, Transformasi Kelembagaan (TK) digulirkan. Alasannya adalah masih banyak hal yang dapat diperbaiki dan masih banyak ruang yang dapat dioptimalkan. Demikian disampaikan perwakilan Central Transformation Office (CTO) Kemenkeu Wempi Saputra di hadapan Duta Kekayaan Negara (KN), (18/5). “Mengapa perlu transformasi kelembagaan? Kemenkeu sudah bagus tetapi belum hebat, karena penyerapan anggaran masih belum 100% dan sesuai jadwal, aset negara belum dioptimalkan, penerimaan pajak belum maksimal dan sebagainya,”jelasnya.

Wempi mengatakan, berbicara mengenai transformasi ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, Transformasi adalah proses. Tidak bisa transformasi dilakukan terburu-buru, transformasi juga tidak boleh dilakukan dengan lambat. Transformasi harus direncanakan dengan matang dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. “Inisiatif strategi dibuat untuk memaksimalkan outcome yang dihasilkan oleh Kemenkeu, ini butuh proses untuk mewujudkannya,” ujarnya.

Kedua, Transformasi adalah kontribusi. Transformasi tidak akan berhasil tanpa kontribusi dari unit terkecil yang ingin bertransformasi. “Sekececil apapun kontribusi itu, harus dilakukan,” tambahnya pria kelahiran Palembang ini. Ia berharap Duta KN dapat berkontribusi dan berinovasi di tempat bekerjanya. Saat ini, ketika TK berjalan sudah terlihat kontribusi-kontribusi yang signifikan. “(Direktorat–red) Bea Cukai melaporkan, sinergi dengan pihak lain, berhasil mempersingkat dwelling time dari 8 hari menjadi 4,7 hari. (Direktorat) Pajak melaporkan, wajib pajak yang melaporkan SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan) meningkat menjadi 10 jutaan dari dulunya hanya 1 juta,”  paparnya.

“Duta Kekayaan Negara bukanlah privilege. Tetapi Anda sekalian mempunya privilege menjadi bagian Transformasi Kelembagaan,” tandas Wempi. Tugas duta kekayaan negara adalah mengawal dan menyampaikan kabar mengenai TK dengan baik dan benar. “Maintenance spirit Anda! Jangan sampai karena dibully rekan kerja, dibully atasan, semangatnya jadi luntur,” tambahnya.

“Kalian adalah pemimpin Kemenkeu 10-15 tahun ke depan. Pimpinan DJKN (Direktorat Jenderal Kekayaan Negara-red) berharap banyak kepada kalian. Mereka tidak akan meluangkan waktu dan pikiran serta menghabiskan dana jika tidak ada outcome-nya,” kata Wempi. Ia berharap duta kekayaan negara menjadi pegawai yang handal dan dapat menjadi panutan, bukan sebaliknya.  

Sementara itu, ketua Project Manager Officer (PMO) DJKN Rahayu Puspasari mengatakan, TK itu tidak hanya penggabungan tapi lebih dari itu. “Transformasi Kelembagaan bukan hanya berubah namanya saja dari asset administrator menjadi asset manager. TK adalah tentang mengubah proses sehingga hasilnya tentu berubah dan optimal. Dalam TK DJKN, yang harus terjadi adalah jika dulu kita hanya menatausahakan aset, sekarang kita harus bisa mengoptimalnya, menjadikan aset sebagai sumber pendapatan dan menekan belanja. Bagaimana cara mewujudkannya? Caranya adalah membuat pola kerja yang sangat modern melalui digitalisasi, mengefisienkan proses dan mengeluarkan peraturan untuk melakukan hal tersebut serta mencari inovasi-inovasi. Jika ada proses yang panjang maka harus dipersingkat dan dipermudah,” jelasnya panjang lebar.

“Jika disamakan dengan perusahaan, DJKN adalah perusahaan dengan aset terbesar di Indonesia karena memiliki aset 1.900 triliun. Selain itu, DJKN adalah balai lelang terbesar di Indonesia. Kenapa kita  tidak bangga menjadi pegawai DJKN?” tegas Puspa. Selain itu, DJKN juga berkontribusi dalam perekonomian Indonesia melalui manajemen investasi pemerintah. “Dalam LKPP (Laporan Keuangan Pemerintah Pusat-red), DJKN harus memastikan 2 hal terbesar. Pertama aset tetap, BMN (Barang Milik Negara-red) harus kita tatausahaan dan memastikan optimal. Kedua adalah investasi pemerintah sebesar 1.800 triliun,” katanya.

Perubahan adalah hal yang tidak dapat dihindarkan. Yang membedakan satu orang dengan oran lain adalah cara menghadapinya. “Kita harus siap menghadapi perubahan. Resisten terhadap perubahan pasti ada, tapi jangan diperbesar sikap itu. Dan akan menjadi lebih baik jika bersiap dalam menghadapinya. Toh perubahan kadang membawa kebaikan kita juga kan?” tutur Puspa.

Suasana malam itu terasa hangat dan penuh semangat. Direktur Penilaian DJKN Meirijal Nur berbagi cerita kepada Duta Kekayaan Negara. “Dulu ketika saya menjabat kepala pengembangan SDM (sumber daya manusia-red).  Dengan analisa dan data-data yang kuat, saya menyusun silabus dan materi-materi untuk menyelenggarakan Diklat (Pendidikan dan Latihan-red) Penilaian. Banyak cibiran dari beberapa pihak, karena pada saat itu penilaian belum mempunyai peran yang signifikan. Namun apa yang terjadi ketika 2006, DJKN didirikan? Tugas pertama DJKN adalah melakukan inventarisasi dan penilaian BMN di seluruh Indonesia guna perbaikan LKPP. Tentu saja peranan penilaian sangat berarti karena harus menilai seluruh aset tetap. Coba bayangkan jika sebelum DJKN berdiri tidak ada diklat penilaian?” katanya. Inti dari cerita ini bukan hasil akhirnya, tapi bagaimana proses yang terjadi di dalamnya.

Inisiatif Strategis pertama DJKN adalah inventarisasi dan penilaian sumber daya alam. Meirijal dengan suara lantangnya mengatakan pentingnya kegiatan ini. “Siapa yang bisa mengatakan berapa kekayaan Indonesia saat ini? tidak ada yang mengetahuinya. Jika kita mengaku orang kaya tetapi tidak tahu seberapa kaya, bagaimana cara kita bisa mengoptimalkannya. Adanya kita akan dibodohi orang lain saja,” tandasnya. IP sumber daya alam akan menghasilkan berapa kaya Indonesia. Data itu akan membuat pemerintah dapat memaksimalkannya.

Dalam kesempatan ini, Meirijal Nur juga mempunyai pesan kepada Duta Kekayaan Negara. Untuk mencapai tujuan yang kita tetapkan kita harus mempunya semangat dan kegigihan untuk mencapainya. “ Jika kita melihat nyala terang di atas bukit dan kita ingin ke sana, maka jalan terjal dan licin pastilah dihadapi untuk mencapai titik tersebut. Usaha keraslah yang akan membuat kita berhasil mencapainya,” pungkasnya.

Foto Terkait Berita

Berita Terbaru

Floating Icon