Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel DJKN
Asisten Rumah Tangga Berhenti Kerja, Pegawai DJKN Pusing

Asisten Rumah Tangga Berhenti Kerja, Pegawai DJKN Pusing

N/A
Jum'at, 15 Agustus 2014 pukul 15:33:12 |   2872 kali

Membawa anak ke kantor bukan suatu hal yang biasa dan lazim. Tapi inilah yang banyak terjadi di beberapa kantor vertikal DJKN, bahkan di Kantor Pusat DJKN. Hal ini terjadi biasanya beberapa minggu setelah libur Hari Raya Idul Fitri.

Kenapa hal ini terjadi? Sepertinya menjadi kebiasaan bagi para Asisten Rumah Tangga untuk menjadikan  libur Idul Fitri sebagai waktu untuk berpikir berhenti bekerja atau tidak. Hal ini tentu saja membuat pusing para pegawai DJKN, tidak hanya pegawai perempuan tetapi juga pegawai laki-laki.
Kalau si mbak atau bibik atau suster, entah apa panggilan buat Asisten Rumah tangga ini mendadak minta berhenti dan tidak kembali kerumah kita, membuat dunia rasanya kiamat. Pegawai DJKN harus sudah kembali bekerja pada waktu yang telah ditetapkan, tetapi tidak ada anak-anak yang menjaga di rumah (karena istri/suami sama-sama bekerja).Tidak hanya pengasuhan yang membuat pusing, masalah banyaknya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sangat menyita waktu. Terutama buat pegawai DJKN yang tinggal di kota besar dan jauh dari rumah.

Buat yang masih mempunyai orang tua yang sehat dan tinggal tidak jauh dari rumah, masih ada malaikat penolong dari masalah ini. Tapi buat yang sudah tidak ada orang yang dipercaya untuk menjaga anak-anak, keadaan ini sangat merumitkan. Tapi ini adalah fenomena yang biasa terjadi setiap tahun, dan merupakan hal yang tidak bisa ditolak oleh sebagai pegawai DJKN.

Setahun yang lalu, ada satu hal yang membuat haru, Menteri Keuangan mengeluarkan Surat Edaran tentang memperbolehkan membawa anak-anak ke tempat kerja pada minggu pertama setelah cuti bersama lebaran. Surat Edaran ini sangat menyentuh hati para pegawai, karena menunjukan perhatian yang sangat besar bagi seluruh pegawai Kementerian Keuangan.

Permasalahan ini sangat mengganggu kinerja pegawai. Pegawai tidak tenang bekerja karena harus  bekerja sambil mengasuh anak, atau gelisah ingin cepat pulang karena memikirkan anaknya di rumah. Adakah solusi bagi permasalahan di atas? Bagaimana dengan Tempat Penitipan Anak. Kompleks Gedung Kementerian Keuangan di Lapangan Banteng, Jakarta telah menyediakan Tempat Penitipan Anak, tapi hal itu tidak sebanding dengan banyaknya pegawai yang ingin menitipkan anaknya.

Bagaimana dengan pegawai DJKN di kota lain, ternyata banyak Kantor Wilayah yang tidak menyediakan Tempat Penitipan Anak. Untuk di kota-kota besar menitipkan anak di tempat penitipan anak dekat kantor pun tidak mudah dijalankan, kemacetan dan transportasi yang tidak layak untuk anak atau bayi menjadi kedala untuk dibawa setiap hari ke tempat penitipan anak.

Untuk membuat tempat penitipan anak pun bukan persoalan yang mudah. Pengelola harus sangat profesional karena yang dititipkan adalah manusia yang masih perlu pola asuh yang baik. pengelola membutuhkan pengasuh-pengasuh yang dipercaya untuk mengasuh anak. Persoalan pola pengasuhan dan materi didik pun menjadi hal yang harus sangat diperhatikan.

Sekali lagi ini merupakan hal yang dialami pernah (bahkan sering) oleh sebagian pegawai DJKN setiap tahun.  Tetapi seandainya hal ini bisa diatasi, tentu bisa meningkatkan kinerja pegawai DJKN. Karena masalah kinerja bukannya hanya masalah yang terjadi di kantor tetapi lebih banyak dipengaruhi permasalahan yang dialami pegawai diluar kantor, terutama permasalah keluarga.
Oleh: Dwi Nugrohandhini

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon