Perubahan/transformasi
bisa saja tidak selalu membawa kemajuan. Namun, tanpa perubahan kemajuan
hanyalah sebuah sebuah ilusi. Perubahan itu mutlak harus dilakukan organisasi.
Banyak orang takut gagal melakukan perubahan sehingga tidak melakukan
perubahan. Kegagalan melakukan perubahan biasanya terjadi karena pemimpin belum
memahami dengan benar tentang bagaimana menahkodai perubahan/transformasi.
Terdapat
8 tahapan yang harus anda lakukan secara bertahap sebagai pemimpin dalam
menahkodai perubahan atau transformasi di unit kerja ataupun di organisasi,
yaitu :
- Diagnosa
- Ide Perubahan
- Dukungan Stakeholder
- Penyelarasan Perubahan
- Menentukan Proyek Perubahan
- Merancang Proyek Perubahan
- Evaluasi Proyek Perubahan Berdasarkan Data, dan
- Menjaga Keberlangsungan Proyek Perubahan
Kegagalan
melakukan transformasi biasanya terjadi karena pemimpin tidak sabar melakukan
perubahan. Kesabaran mutlak dibutuhkan. Kesabaran mentaati 8 tahapan tersebut
akan mengurangi resiko kegagalan melakukan tranformasi. Kedelapan tahapan
tersebut harus dilakukan, tidak boleh dilompati atau ditiadakan atau dibolak
balik.
Delapan tahapan penting dalam menahkodai perubahan/transformasi adalah :
- Diagnosa. Diagnosa merupakan tahapan pertama yang dilakukan yaitu mengidentifikasi gejala
(symptom) dan masalah (isu) secara terukur dengan berbagai metode seperti
observasi, interview, focus group discussion, dan analisis berbagai data
organisasi yang berkaitan dengan masalah tersebut. Ilustrasi sederhananya, ketika seseorang memiliki panas badan yang tinggi, maka panas badan tinggi
adalah gejala sakit. Dokter biasanya melakukan interview, diskusi, observasi
dan meminta data hasil tes laboratorium untuk mencari tahu apa masalahnya.
Dokter bisa juga menggunakan fishbone atau five whys untuk mempertajam proses
diagnosis. Di samping itu, pemahaman dokter tentang ilmu kesehatan mutlak
dibutuhkan. Jadi ketika terdapat karyawan berproduktivitas kerja rendah, itu
adalah sebuah symptom bukan problem. Anda harus melakukan diagnosis untuk
mencari tahu penyebabnya yang disebut isu/masalah. Misalkan, akar masalah
rendahnya produktivitas kerja yang dipilih pemimpin sesuai dengan
pengalamannya adalah atmosfer kerja yang kurang nyaman.
- Ide Perubahan.
Ketika masalah sudah terdefinisikan maka tugas pemimpin harus memiliki visi guna
menyelesaikan masalah tersebut atau disebut visioning. Pemimpin harus
menawarkan ide perubahan untuk menyelesaikan masalah. Kemampun membaca masa
depan dan kreativitas mutlak dibutuhkan dalam menawarkan ide perubahan.
Misalkan yang dipilih adalah tempat kerja sebagai sebuah ide perubahan. Anda
harus membangun dan memiliki argumentasi yang kreatif untuk meyakinkan banyak
orang bahwa ide perubahan tersebut adalah sebuah solusi peningkatan
produktivitas kerja.
- Dukungan Stakeholder. Setelah
memiliki ide perubahan, Anda harus merekrut pasukan perubahan yang disebut
change agents atau Agen Perubahan. Dukungan berbagai pihak sebagai pemangku kepentingan
akan mudah Anda dapatkan ketika pasukan perubahan Anda adalah orang-orang yang
memiliki pengaruh kuat dalam organisasi. Ketika pasukan perubahan Anda sepakat
dengan ide perubahan Anda, maka Anda
mengharapkan mereka untuk bergerilya mencari dukungan semua orang dalam
organisasi.
- Penyelarasan. Penyelarasan merupakan tahapan penting bagaimana pasukan perubahan mencari dan
mendapat dukungan semua orang dalam organisasi. Bukti nyata bahwa pasukan
perubahan sudah mendapat dukungan banyak orang adalah banyaknya aneka proyek
perubahan yang diusulkan untuk mengisi intervention idea. Ragam idea
intervention project inilah yang merupakan bukti Anda sudah mendapat dukungan
semua orang dalam organisasi untuk segera melakukan perubahan. Misalkan, usulan
ide perubahan adalah di tempat kerja, seperti kafeteria, gym, perpustakaan,
coworking space, dan sebagainya.
- Proyek Perubahan.
Anda harus menentukan ide perubahan mana yang harus dijalankan menjadi proyek
perubahan organisasi/unit kerja agar pegawai/SDM memiliki energi tinggi dalam
berkinerja. Misalkan Anda memilih terlebih dahulu adalah proyek membangun coworking
space sekaligus ruang pustaka.
- Merancang Proyek Perubahan.
Anda harus segera merancang semua hal tentang proyek perubahan tersebut sehingga
proyek tersebut benar-benar berdampak positif kepada produktivitas kerja SDM,
dan dapat dengan mudah, serta cepat dieksekusi. Yang dirancang terkait penataan
interior, suasana yang dibangun, makanan dan minuman yang disediakan, jam
operasional, pendanaannya, buku-buku atau majalah yang ditampilkan, penyediaan
fasilitas sarpras, dan sebagainya (semakin detail perancangannya maka semakin
baik).
- Evaluasi Proyek Perubahan Berdasarkan Data.
Ketika proyek perubahan sudah dirancang dengan baik, maka Anda harus pastikan
bahwa coworking space tersebut berjalan sesuai dengan yang Anda harapkan. Perhatikan
bahwa tujuannya adalah untuk memacu semangat kerja karyawan. Anda harus
senantiasa mengevaluasi keberadaan coworking space tersebut. Anda harus menyiapkan tools dan ukuran–ukuran yang
digunakan untuk mengukur semangat kerja karyawan, dalam bentuk produktivitas
kerja harus dibandingkan antara sebelum dan sesudah coworking space itu ada,
sebagai cara mengukur keberhasilan ide perubahan. Misalkan saja, produktivitas
kerja berupa jumlah nota dinas per jam meningkat setelah semua orang menikmati
keberadaan coworking space tersebut.
- Menjaga Keberlanjutan. Walaupun
produktivitas kerja sudah meningkat, pekerjaan Anda belum selesai. Anda harus terus
merangsang ide perubahan lanjutan untuk menyempurnakan keberadaan coworking space
tersebut sebagai tempat kerja yang mendukung produktivitas kerja karyawan.
Tanpa tahapan ini, maka perubahan tidak bertahan lama. Ternyata inilah yang
sering dilupakan para pemimpin.
Melanjutkan
ilustrasi contoh ide perubahan yang lain
adalah berupa kafeteria gratis. Tetapi ternyata setelah dijalankan, pegawai
yang apatis tidak percaya, dan menilai hal itu hanya angin sesaat sehingga
karyawan buru-buru mengambil kue kering, kopi dan seterusnya, karena
seakan-akan kebijakan itu akan dihentikan dalam sehari atau dua hari. Setelah
dilakukan evaluasi ternyata, tetap saja keberadaan kafeteria tersebut belum
mampu membangun atmosfer produktivitas kerja karyawan. Mengapa? Kira-kira dari
8 tahapan, mana yang terlompati?
Semoga
ilustrasi 8 tahapan tersebut di atas dapat merangsang anda semua untuk segera
melakukan perubahan.
***
Penulis: Kusumawardhani, Sekretaris DJKN