Mengakselerasi Efektivitas BUMN: Pelajaran Praktik Baik Global untuk Konteks Indonesia
Mastiur Ramayanti Simanullang
Rabu, 21 Januari 2026 pukul 16:31:01 |
240 kali
BUMN adalah aset strategis negara dan motor layanan
publik. Seiring meningkatnya nilai investasi pemerintah dan kontribusi dividen,
tersedia ruang untuk memperkuat tata kelola secara terukur—dengan mengadaptasi
praktik baik global yang relevan bagi Indonesia.
Kinerja BUMN terus berkontribusi pada layanan
publik dan perekonomian nasional. Laporan keuangan pemerintah terbaru
menunjukkan peningkatan nilai penyertaan modal pemerintah (PMP) dari tahun ke
tahun, sekaligus kenaikan setoran dividen, antara lain ditopang sektor
perbankan. Ini menegaskan fondasi yang kian kokoh untuk melakukan penguatan
tata kelola secara berkesinambungan.
Tulisan ini merangkum scoping review yang
menyeleksi 46 studi dari basis data kredibel tentang tata kelola perusahaan
milik negara di berbagai yurisdiksi maju. Tujuannya sederhana: menghadirkan
gagasan yang siap diadopsi secara kontekstual, sehingga melengkapi agenda
transformasi BUMN Indonesia tanpa menegasikan kekhasan mandat publik dan sosial
yang diemban.
Lima Pilar Penguatan Tata Kelola yang Relevan untuk
Indonesia
Kelima pilar berikut disajikan sebagai opsi
penguatan yang dapat disesuaikan dengan regulasi dan kebutuhan nasional—bukan
sebagai kritik, melainkan serangkaian inspirasi kebijakan.
1.
Penguatan
Independensi Dewan Direksi
Riset
menunjukkan peran direktur independen dalam meningkatkan kualitas pengawasan,
memperkaya perspektif manajemen, dan menekan asimetri informasi. Praktik di
beberapa negara menempatkan porsi direktur independen yang signifikan; misalnya
Singapura lazim memiliki 50–70% direktur independen di BUMN. Untuk Indonesia,
prinsipnya dapat diterapkan selektif dan bertahap, dengan memperhatikan mandat
publik masing‑masing BUMN.
2.
Komite
Nominasi yang Profesional dan Berimbang
Di
Australia, Norwegia, dan Singapura, komite nominasi independen menjaring,
menyeleksi, dan mengevaluasi kandidat dewan secara berkelanjutan. Mekanisme ini
membantu memastikan kompetensi yang tepat dan keberlanjutan kepemimpinan.
Indonesia dapat mengadopsi model komite nominasi yang memperkuat keterwakilan
independen, sembari tetap menghormati ketentuan pemegang saham negara.
3.
Ukuran
dan Keberagaman Dewan
Praktik
OECD menunjukkan ukuran dewan lazim berada pada rentang 5–8 orang, yang memadai
untuk menghadirkan keragaman keahlian dan pengalaman tanpa menghambat
pengambilan keputusan. Di Indonesia, pengaturan komposisi bisa diarahkan untuk
memperkuat keahlian sektor spesifik (misalnya energi, logistik, keuangan) dan
kapasitas transformasi digital, sesuai orientasi strategis BUMN.
4.
Komite
Audit yang Kuat dan Berkeahlian
Kehadiran
Komite Audit yang dipimpin direktur independen berlatar keuangan/akuntansi
merupakan praktik yang terbukti membantu menjaga kualitas pelaporan dan
mengurangi praktik earning management. Bursa besar seperti LSE/NYSE
mensyaratkan standar serupa pada emiten. Untuk Indonesia, penekanan pada
keahlian audit dan manajemen risiko akan memperkuat kredibilitas dan kesiapan
BUMN menghadapi dinamika pasar maupun proyek strategis.
5.
Pemisahan
Peran Ketua Dewan dan CEO
Model
yang memisahkan fungsi ketua dewan dan CEO—seperti yang lazim di
Singapura—menciptakan checks and balances yang sehat, memungkinkan dewan
memberi penilaian independen atas kinerja eksekutif. Penerapan di Indonesia
dapat diatur berdasarkan klasifikasi BUMN (misalnya peran komersial vs. layanan
publik), sehingga tetap luwes sekaligus menjaga akuntabilitas.
Mengadaptasi, Bukan Menyamakan
Masing‑masing negara memiliki mandat BUMN yang
berbeda. Karena itu, adaptasi bertahap dan penyesuaian regulasi menjadi kunci.
Di Indonesia, penguatan tata kelola dapat dipadupadankan dengan agenda
transformasi yang telah berjalan—misalnya peningkatan layanan publik, penguatan
permodalan yang pruden, dan orkestrasi proyek infrastruktur strategis—sehingga
nilai ekonomi dan sosial dapat tumbuh beriringan.
Menatap Ke Depan
Pengalaman internasional menunjukkan bahwa tata
kelola yang baik memperkuat kinerja dan keberlanjutan. Dengan pondasi kinerja
yang terus meningkat—tercermin pada tren investasi pemerintah dan kontribusi
dividen—Indonesia memiliki modal kuat untuk melangkah ke fase berikutnya:
menajamkan desain kelembagaan dan proses bisnis agar BUMN kian efektif, kompetitif,
dan berdampak luas bagi masyarakat.
Gagasan dalam tulisan ini adalah undangan untuk melanjutkan dialog kebijakan—mengambil yang cocok dari praktik global, menyesuaikan dengan kebutuhan nasional, dan mengeksekusinya secara konsisten. Dengan cara itu, BUMN Indonesia akan terus menjadi pilar pembangunan dan pelayan masyarakat yang tangguh.
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |