Potensi Penerapan Penataan Ritme Kerja di DJKN untuk Mendukung Wellness dan Employee Engagement
Bhika Arnanda Chary Widjaya
Selasa, 06 Januari 2026 pukul 09:18:22 |
889 kali
Di banyak organisasi modern,
tantangan produktivitas bukan lagi kekurangan pekerjaan, melainkan fragmentasi
waktu: rapat beruntun, chat yang terus masuk, dan permintaan ad hoc yang
memecah atensi. Laporan Microsoft Work Trend Index 2025 menggambarkan
pola yang semakin “chaotic and fragmented” di mana pada jam kerja inti,
pekerja rata-rata terdistraksi setiap kurang lebih 2 menit oleh meeting, email,
atau notifikasi, dan skala gangguan harian bisa mencapai ratusan interupsi.
Dalam konteks DJKN sebagai bagian
dari Kementerian Keuangan, isu ini terasa relevan karena karakter tugas yang high
stakes dan lintas pemangku kepentingan, seperti pengelolaan kekayaan
negara, penilaian, piutang negara, dan lelang, dengan struktur organisasi yang
tersebar di seluruh wilayah Indonesia serta jumlah pegawai yang besar yakni
3.747 (berdasarkan data HRIS per 10 Desember 2022). Dengan tanggung jawab dan
ekspektasi aktivitas harian, para pegawai DJKN juga terikat kepatuhan jam kerja
sebagaimana diatur pada PMK 221/PMK.01/2021.
Permasalahan manajemen waktu
sering kali tidak cukup bila didekati sebagai kompetensi individu. Tantangan
yang lebih mendasar adalah tata waktu kolektif: kapan organisasi dapat
memproteksi waktu fokus, kapan mendorong kolaborasi, dan bagaimana menempatkan
agenda tambahan agar tidak menggerus jam inti.
Artikel ini tidak dimaksudkan
sebagai kritik terhadap praktik yang sudah berjalan, melainkan untuk memantik
ide: bagaimana DJKN dapat melakukan pengaturan ritme kerja kolektif agar waktu
“kerja fokus”, waktu “kolaborasi”, dan agenda tambahan tidak saling
bertabrakan. Harapannya, pendekatan ini memperkuat kinerja layanan
sekaligus wellness dan employee engagement.
Orlikowski & Yates (2002)
memperkenalkan konsep temporal structuring, yakni gagasan bahwa
“struktur waktu” (ritme, siklus, pola jadwal) terbentuk lewat praktik kerja
sehari-hari; lalu struktur itu kembali membentuk cara orang bekerja dan
berkoordinasi. Dengan kata lain, jadwal dan kebiasaan rapat bukan sekadar
“administrasi kalender”, melainkan mekanisme organisasi yang memengaruhi
kualitas kerja dan kolaborasi.
Bansal, et al. (2022) juga menekankan
pada temporal work, yakni upaya organisasi secara sengaja melalui
temporal talk, temporal practices, dan temporal objects
(misalnya norma kalender, aturan jam rapat, dan “blok fokus” resmi) untuk
membangun struktur waktu (ritme, batasan, siklus) agar koordinasi lebih
efektif.
Dalam bahasa praktis, temporal
work berarti menetapkan garis pengaman (misalnya slot fokus yang
diproteksi), menata escalation path untuk rapat mendesak, dan membuat
ritme periodik yang konsisten. Ini relevan untuk DJKN atau organisasi besar
lainnya karena sebagian beban rapat dan agenda tambahan sering muncul bukan
karena manajemen rapat yang buruk, namun juga karena organisasi belum punya
desain ritme yang disepakati lintas unit untuk membantu semua orang “sinkron”
tanpa saling menabrak.
Saha dan Iqbal (2023) mempelajari
efek fitur Focus Time pada Outlook (salah satu aplikasi yang juga
digunakan secara internal oleh DJKN) yang otomatis menjadwalkan waktu kerja
fokus. Riset tersebut menunjukkan bahwa penjadwalan otomatis Focus Time
berkorelasi dengan wellbeing yang lebih baik dan work engagement
yang lebih tinggi dibanding kelompok kontrol dalam studi eksperimental selama
periode studi.
Bagi organisasi seperti DJKN,
implikasinya dapat berupa pekerjaan analitis (review dokumen, analisis terhadap
aset, penyiapan bahan pimpinan, evaluasi program, perumusan kebijakan teknis,
dsb.) sering terpecah oleh rapat, maka memproteksi blok fokus secara organisasi
(bukan hanya individu) adalah intervensi organisasi yang masuk akal guna
melindungi kualitas dari pekerjaan dengan keperluan kognitif tinggi.
Artikel MIT Sloan Management
Review (2022) tentang meeting-free days menunjukkan bahwa
pengurangan rapat secara signifikan berkorelasi dengan peningkatan autonomy,
kepuasan, engagement, dan produktivitas, termasuk pula temuan bahwa
pengurangan rapat sekitar 40persen dikaitkan dengan peningkatan produktivitas
yang tinggi berdasarkan employee ratings. Artikel serupa juga
mengingatkan bahwa manfaat akan menurun jika pengurangan rapat terlalu ekstrem
(diminishing returns). Prinsipnya: bukan “anti-meeting”, tetapi meeting
hygiene dan boundary.
Mengadopsi hal tersebut pada
kultur kerja yang sudah ada terlihat sangat jauh, namun kita bisa menurunkan
ide ini menjadi kebijakan yang lebih aman untuk layanan publik, seperti
memberikan slot untuk rapat rutin non-kritikal atau webinar dan lain sebagainya
pada satu hari tertentu. Slot waktu juga dapat dialokasikan untuk penyelesaian
pekerjaan tertunda, koordinasi asinkron, pembelajaran, serta aktivitas engagement
yang terjadwal.
Pada
penelitian tentang Zoom
fatigue yang dilakukan oleh Fauville, et al. (2023) terdapat hubungan
antara durasi/frekuensi rapat melalui video (dhi. zoom atau teams meeting) dan
meningkatnya kelelahan, yang pada akhirnya memengaruhi kapasitas kognitif dan
emosi. Walau DJKN dominan WFO, praktik rapat daring tetap hadir dan prinsip
dasarnya tetap sama, yakni atensi manusia terbatas, sehingga desain jadwal
harus membantu pegawai “memulihkan fokus”.
Terakhir, survei dari American
Psychological Association (APA) menempatkan psychological well-being
sebagai prioritas tinggi bagi pekerja dan menunjukkan bahwa praktik organisasi
seperti meeting-free days belum umum diterapkan bahkan di Amerika
Serikat (angka adopsi relatif rendah). Konteksnya, kebijakan ritme kerja bisa
menjadi distinctive advantage bagi organisasi, sekaligus sinyal budaya
menghormati batas kerja dan pemulihan/recovery.
DJKN memiliki dua karakter kerja
yang berjalan bersamaan:
1. Stakeholder-facing service (terutama pada KPKNL, sebagian
fungsi Kanwil, dan beberapa fungsi di kantor pusat): membutuhkan jam pelayanan
yang konsisten, respons cepat, dan koordinasi lintas pihak.
2. Knowledge work (banyak peran di kantor
pusat/kanwil dan fungsi tertentu di KPKNL): membutuhkan deep concentration,
ketelitian, dan waktu tanpa interupsi untuk menghasilkan output berkualitas.
Ketika rapat terjadwal meningkat
dan agenda tambahan makin sering, risiko yang muncul bukan semata pada
kuantitas rapat, melainkan jam inti menjadi terfragmentasi. Pada titik
itu, organisasi cenderung harus “membayar” dengan dua cara: (a) membiarkan kualitas
output turun (karena pekerjaan kompleks dikerjakan dalam potongan kecil), atau
(b) pekerjaan bergeser ke luar jam kerja (menekan wellbeing). PMK
221/PMK.01/2021 sendiri mengakui mekanisme lembur untuk kebutuhan mendesak,
namun secara budaya, lembur seharusnya lembur menjadi sebuah pengecualian, bukan
konsekuensi rutin dari ritme yang tidak tertata.
Di sini, peluangnya adalah perbaikan
cara kerja (continuous improvement) yang tidak perlu mengubah sistem besar
terlebih dahulu: cukup dengan menyepakati norma ritme lintas unit, melakukan
uji coba, dan mengukur dampaknya.
Pada kantor pusat yang didominasi
knowledge work, seperti analisis, drafting, evaluasi, penyusunan bahan
pimpinan, koordinasi lintas unit, risiko utama yang muncul Adalah fragmentasi
jam kerja. Hal tersebut terjadi ketika rapat yang muncul memotong blok kerja
analitis menjadi potongan kecil sehingga output terdorong ke luar jam kerja
atau mengurangi kualitas analisis.
Pada kanwil, dengan karakter
kerja lebih tercampur, di mana terdapat koordinasi dengan KPKNL, supervise,
monev, bimtek, dll, memiliki risiko ritme kerja lebih sering dipengaruhi oleh
stakeholder (dhi kantor pusat, kpknl, dan stakeholder ranah kanwil tersendiri.
Tantangannya terdapat pada timing dan kepadatan rapat, serta kebutuhan
multitasking atau fokus ganda yang memecah waktu kerja menjadi tidak teratur.
Terakhir, pada KPKNL, ritme
utamanya dipengaruhi oleh jam pelayanan yang diberikan, terutama pada peak
hours layanan. Guna menjaga kualitas pelayanan, dan mempertimbangkan
pengembangan kompetensi SDM yang berada di KPKNL, perlu ada mekanisme rotasi
berbasis peran, sehingga pegawai dapat tetap memiliki waktu fokus untuk tugas
analitik/klerikal atau pengembangan diri, serta tetap memiliki kesempatan
mendapatkan pengalaman memberikan pelayanan.
Hal yang menjadi prasayarat
penting dalam potensi implementasi di ketiga jenis kantor tersebut Adalah bahwa
jam produktifnya tidak selalu sama. Secara intuitif, kita merasa pagi adalah
waktu yang cocok untuk pekerjaan fokus tinggi, namun literatur dari Schilbach,
et al. (2025) menunjukkan bahwa chronotype dan waktu dalam hari dapat
memengaruhi pengalaman “thriving at work” masing-masing pegawai.
Terdapat pegawau dengan chronotype lebih awal yang cenderung mengalami
penurunan vitalitas ketika hari makin sore, sementara mereka dengan chronotype
lebih lambat bisa menunjukkan pola yang meningkat di waktu lebih siang/sore.
Artinya, pendekatan kebijakan untuk mengimplementasi gagasan ini hanya sebagai default
guideline, bukan sebuah dogma, dan ruang kalibrasi per segmen atau unit
selama koordinasi lintas tetap terjaga.
Agar implementasi menjadi
realistis, perlu disampaikan pula beberapa tantangan yang akan muncul, seperti
risiko “meeting spillover” yang hanya memindahkan atau menumpuk rapat di
waktu lain tanpa mempertimbangkan meeting hygiene. Tantangan lain ialah
terkait mengoordinasikan alokasi waktu lintas unit atau level, serta menjaga
rasa keadilan antar fungsi layanan dan non-layanan.
Sisi lainnya, perlu ada hal-hal
yang dilakukan agar gagasan ini dapat diimplementasi, seperti perlunya pimpinan
sebagai role model. Ritme kerja akan terbentuk dari praktik sehari-hari,
tanpa contoh dan dukungan dari pimpinan, pendekatan ini akan sulit. Perlu juga
ada pendefinisian yang disepakati Bersama atas apa saja yang dapat disebut
sebagai rapat kritikal. Terakhir, perlu ada penguatan pada alternatif lain
selain rapat yang bersifat asinkronus, seperti pre-reading, nota dinas
terkait update, dan lainnya sehingga rapat bukanlah hal default.
5.1. Focus Morning sebagai
“Protected Focus Window”
Prinsip kebijakan melalui kondisi pagi hari yang dapat dijadikan slot fokus organisasi
untuk pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi. rapat non-urgent
dihindari, komunikasi non-kritikal ditahan terlebih dahulu. Untuk unit yang
harus menjaga layanan, penerapan bisa melalui rotasi, yakni sebagian pegawai
menjaga area pelayanan sedangkan sebagian lainnya mengambil focus window;
kemudian bergantian. Di lain sisi, untuk unit yang memerlukan koordinasi lintas
unit, tetap ada pengecualian (misalnya rapat kritikal dapat masuk focus
window), tetapi pengecualian harus jelas agar tidak menjadi norma.
5.2. Collaboration Window
untuk rapat dan koordinasi
Prinsip kebijakan dapat berupa rapat, diskusi one on one, sinkronisasi lintas unit,
dan koordinasi dengan stakeholder internal ditempatkan pada jendela kolaborasi
setelah waktu istirahat. Ini selaras dengan kerangka jam kerja reguler dan
memberi struktur: “kapan kita sinkron” tanpa mengorbankan blok fokus pagi. Penetapan
standar rapat agar tetap memenuhi standar meeting hygiene dapat berupa
undangan beserta lampiran bahan dan fokus topik tidak diberikan secara mendadak
(memberikan waktu untuk mempelajari dan menyiapkan bahan), alokasi waktu rapat
standar adalah 30-60 menit sehingga menghindari basa-basi dan bertele-tele,
serta peserta rapat ditekan secara minimal hanya bagi yang relevan. Peran dari
atasan langsung juga diuji dengan memastikan agar pegawainya tidak melakukan back-to-back
meeting yang meningkatkan kelelahan dengan cara mengatur jeda atau
mengalokasikan pegawai lainnya yang lebih luang.
5.3. Hari khusus (Jumat) untuk
agenda tambahan dan penuntasan pekerjaan
Prinsip kebijakan yakni memfungsikan Jumat sebagai hari dengan rapat minimal (khusus rapat
kritikal saja) dan menjadi slot terjadwal untuk agenda tambahan: knowledge
sharing, koordinasi asinkronus, wellness check-in, komunikasi
internal, atau aktivitas engagement yang terencana. Kenapa Jumat? Selaras
dengan jam istirahat Jumat yang lebih panjang pada PMK 221, penempatan agenda
tambahan pada Jumat membantu hari Senin–Kamis tetap “bersih” untuk output
utama.
Utamanya, tujuan kebijakan adalah
meningkatkan predictability, kualitas output, dan service reliability, serta
menjaga wellbeing agar produktivitas dapat berkelanjutan. Dalam hal
melakukan pengukuran pada implementasi tersebut, baiknya menggunakan metrik
yang sedergana dan tidak menimbulkan kesan pengawasan, seperti pulse survey
singkat (dapat berupa 5 item tentang fokus, stres, energi, dan sense of
accomplishment), dan indicator pekerjaan yang dilakukan di luar jam kerja,
dan lain sebagainya.
Shopify (Kanada) pada awal 2023
menerapkan calendar purge untuk “memulihkan” waktu kerja yang tidak
terputus (uninterrupted time). Kebijakannya yakni menghapus recurring
meeting yang melibatkan lebih dari tiga orang, menetapkan Rabu sebagai hari
tanpa rapat, serta membatasi rapat dengan undangan >50 orang hanya boleh
dilakukan pada Kamis pukul 11.00–17.00 ET. Narasi resminya menekankan bahwa “uninterrupted
time” adalah sumber daya paling berharga bagi pekerja yang membutuhkan craftsmanship,
sekaligus memberi ruang “no judgment” bagi pegawai untuk menolak rapat yang
tidak bernilai tambah. Artikel yang sama juga menampilkan catatan
kehati-hatian: pengurangan rapat yang terlalu “keras” dapat memunculkan risiko social
isolation bila tidak diimbangi mekanisme kolaborasi/relasi yang tetap
terjaga.
Perusahaan lainnya, Slack
memperkenalkan dua program berbasis time architecture: Focus Fridays dan
Maker Weeks. Pada Focus Fridays, Slack membatalkan rapat internal di hari Jumat
dan menganjurkan pegawai mematikan notifikasi agar tersedia blok waktu fokus
tanpa gangguan; hasil uji cobanya menunjukkan 84persen pegawai merasakan
manfaat (bahkan manajer menyatakan manfaat yang tinggi), dengan penekanan pada
pergeseran ke kolabirasi asinkronus dan praktik rapat yang lebih disiplin.
Sementara itu, Maker Weeks dilakukan dua kali per triwulan: rapat rutin
dibatalkan selama periode tersebut untuk menyediakan waktu khusus untuk
pekerjaan seperti desain, deep build, penyusunan materi untuk pelanggan,
atau menyelesaikan backlog), sekaligus menjadi momen audit kualitas rapay
(tujuan, frekuensi, dan siapa yang benar-benar perlu hadir). Slack juga
menekankan pendekatan iterative dimana program diuji, diukur dampaknya pada well-being
dan produktivitas, lalu disesuaikan per kebutuhan fungsi.
Jika ditarik ke lensa riset,
Garud, et al. (2025) menjelaskan bahwa organisasi dapat menata kerja inovatif
dengan menstrukturkan lebih dari satu “mode waktu”: Chronos (jadwal
linear/terkoordinasi), Kairos (momen untuk insight), dan Aion
(siklus refleksi guna menghubungkan perhatian, memori, dan antisipasi). Praktik
seperti no-meeting day, Focus Fridays, atau Maker Weeks dapat dibaca
sebagai intervensi temporal structuring yang sengaja “menciptakan ruang”
bagi fokus/refleksi tanpa mematikan koordinasi dengan prasyarat penting yakni
tetap ada desain kolaborasi yang sehat agar tidak jatuh pada isolation
(sebagaimana diperingatkan dalam kasus Shopify).
Gagasan utama artikel ini Adalah
agar DJKN dapat memperkuat kultur kerja yang sehat dan efektif melalui desain
ritme waktu organisasi, bukan dengan menambah aturan, melainkan menyepakati
default yang membantu semua pihak bekerja lebih fokus, berkolaborasi
lebih tertib, dan menempatkan agenda tambahan pada slot yang tepat. Bukti
terbaru menunjukkan bahwa protected focus time dapat meningkatkan
wellbeing dan engagement, sementara meeting-lite/meeting-free approaches
dapat meningkatkan produktivitas bila desainnya seimbang.
Sebagai langkah awal yang
realistis, DJKN bisa memulai dari pilot kecil lintas unit. Jika dampaknya
positif, ritme ini berpotensi menjadi bagian dari “cara kerja DJKN” yang lebih predictable,
menghormati layanan stakeholder, dan sekaligus menjaga energi pegawai
Penulis: Fakhri Nurfaiz, Pelaksana Bagian SDM, Sekretariat DJKN
Disclaimer: Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Daftar Referensi
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |