Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4, Jakarta Pusat
   134      Login Pegawai
Artikel DJKN
Optimalisasi BMN dan Intervensi Psikososial dalam Agenda Green Economy Pemerintah

Optimalisasi BMN dan Intervensi Psikososial dalam Agenda Green Economy Pemerintah

Bhika Arnanda Chary Widjaya
Kamis, 14 Agustus 2025 pukul 11:46:23 |   2427 kali

Beberapa tahun belakangan, pemandangan para pekerja di Jakarta yang menghabiskan waktu istirahat atau akhir pekan di kafe bernuansa alam menjadi semakin umum. Dari rooftop café berdekorasi tanaman rambat hingga coffee shop tersembunyi dengan suara gemericik air, semua menawarkan suasana “healing” yang dicari banyak orang setelah hari-hari penuh tekanan di kantor. Fenomena ini bukan semata tren gaya hidup, tetapi juga refleksi dari kebutuhan akan ruang pemulihan mental yang sulit ditemukan di lingkungan kerja. Ketika ruang terbuka hijau di kota makin terbatas dan gedung-gedung perkantoran semakin tertutup rapat oleh beton, muncul pertanyaan: mungkinkah ruang “healing” itu justru dihadirkan langsung di kantor-kantor pemerintahan, melalui inovasi sederhana seperti taman atap?

1.       Latar Belakang

Perkotaan Indonesia tengah menghadapi dua tekanan sekaligus: krisis ruang terbuka hijau dan meningkatnya gangguan psikologis warga. Proporsi ruang terbuka hijau (RTH) di kota besar seperti Jakarta hanya mencapai sekitar 9,12?ri luas wilayah, jauh dari target ideal 30% sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang (Prakoso, P., & Herdiansyah, H., 2019). Sedangkan dari 603,08 km2 ruang terbuka non hijau, gedung perkantoran milik pemerintah menempati porsi cukup signifikan, sebanyak 18.684 NUP dengan luas tapak kurang lebih 7,18 km2, yang tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta dan sering kali memiliki area atap yang tidak termanfaatkan (SIMAN-DJKN, 2025).

Sementara itu, menurut Gajjar dan Amarnath (2021), lebih dari 60% pegawai negeri sipil yang menempati gedung perkantoran berpeluang mengalami gangguan psikologis, berupa stres dan burnout sebagai akibat dari kelelahan mental pada saat bekerja. Penyebab burnout sangat bervariatif, antara lain lingkungan kerja yang kompetitif, area kerja yang tidak representatif, kegiatan yang monoton, serta beban kerja yang tinggi (Wedha, J., Putere, S. P. P. L. M., & Primatanti, P. A., 2023). Salah satu dampak dari burnout adalah penurunan performansi individu yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap performa organisasi secara keseluruhan. Burnout yang berlangsung secara kronis tidak hanya menurunkan performa individu dan kolektif, tetapi juga mengindikasikan minimnya sistem pendukung psikososial di lingkungan kerja, salah satunya berupa akses terhadap ruang pemulihan mental yang memadai. Dalam konteks birokrasi perkotaan yang padat dan serba cepat, keberadaan ruang hijau yang dapat diakses langsung oleh pegawai di tempat kerja menjadi elemen krusial namun seringkali terabaikan. Ketidakhadiran ruang semacam ini memperpanjang eksposur terhadap tekanan tanpa jeda pemulihan, memperbesar risiko kelelahan mental yang berkepanjangan.

Pemanfaatan area atap pada gedung-gedung perkantoran milik pemerintah untuk pembangunan rooftop garden atau taman atap merepresentasikan pendekatan integratif dalam tata kelola Barang Milik Negara (BMN) yang berorientasi pada keberlanjutan. Inisiatif ini secara simultan dapat mengatasi dua permasalahan strategis di kawasan urban: pertama, keterbatasan RTH yang berdampak pada kualitas lingkungan hidup; dan kedua, meningkatnya tekanan psikologis yang dialami oleh pegawai akibat beban kerja tinggi dan minimnya akses terhadap ruang pemulihan mental yang memadai.

Dengan menjadikan atap bangunan sebagai ruang hijau vertikal, pemerintah tidak hanya berkontribusi menambah suplai ekologis dalam mengurangi efek Urban Heat Island dan peningkatan efisiensi energi bangunan, tetapi juga menciptakan micro-restorative spaces yang berfungsi sebagai tempat relaksasi, interaksi sosial informal, dan pengelolaan stres bagi aparatur sipil negara.

Secara kuantitatif, terdapat potensi utilisasi setara dengan 1.000 lapangan sepak bola pada atap gedung perkantoran pemerintah di wilayah DKI Jakarta, yang dapat memberikan kontribusi ruang hijau baru tanpa mengorbankan lahan horizontal. Ini akan menjadi akselerator signifikan dalam pencapaian target proporsi RTH minimum sekaligus mendukung agenda penguatan kesehatan mental di lingkungan birokrasi yang semakin kompleks.

2.       Studi Global

Upaya menghadirkan ruang hijau vertikal melalui taman atap bukanlah gagasan baru, melainkan solusi yang telah diterapkan secara luas di berbagai kota dunia dengan pendekatan kebijakan yang beragam. Beberapa kota telah menjadikan rooftop garden sebagai komponen wajib dalam desain bangunan baru, terutama pada gedung-gedung publik, demi menjawab tantangan krisis iklim, keterbatasan ruang, serta kebutuhan akan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif. Untuk memahami bagaimana kebijakan ini diimplementasikan secara efektif, studi komparatif terhadap beberapa kota dengan pendekatan regulatif dan insentif yang berbeda menjadi penting. Pembelajaran dari konteks global ini dapat menjadi pijakan awal bagi Indonesia dalam merumuskan strategi pemanfaatan aset negara secara ekologis, sosial, dan berkelanjutan. Berikut adalah perbandingan kebijakan dan bentuk dukungan pemerintah pada implementasi rooftop garden di tujuh kota besar dunia.

 

Kota

Tahun Mulai

Ketentuan Utama

Target Gedung

Dukungan Teknis/Fiskal

Aturan/Undang-Undang

Basel, Swiss

~1990

Wajib green roof pada atap <10°, dengan tanaman asli lokal

Bangunan baru dan renovasi

Subsidi pemerintah lokal, dukungan substrat

Building and Planning Law of Basel

Zürich, Swiss

1991

Semua atap datar (non-teras) wajib vegetasi

Semua gedung

Pengawasan teknis dari otoritas kota

Municipal Building Code

Copenhagen, Denmark

~2010

Wajib vegetasi untuk atap <30° pada bangunan baru dan renovasi

Semua bangunan baru/renovasi

Insentif retrofit, integrasi dengan drainase kota

Municipal Plan 2009–2021

Tokyo, Jepang

2001

Minimal 20% atap untuk vegetasi jika luas >1.000 m²

Gedung publik & komersial besar

Mandatori melalui Nature Conservation Ordinance

Tokyo Nature Conservation Ordinance 2001

Toronto, Kanada

2009

20–60% green roof pada gedung baru >2.000 m² dan ≥6 lantai

Bangunan tinggi baru

Subsidi hingga CAD 100.000, standar teknis khusus

Toronto Green Roof Bylaw (Bylaw 583-2009)

San Francisco, US

2017

15–30% atap baru wajib vegetasi atau panel surya

Bangunan baru

Pilihan fleksibel antara hijau atau energi

Better Roofs Ordinance (Planning Code Section 149)

Portland, US

2018

Wajib 100% ecoroof untuk gedung baru >1.860 m² di pusat kota

Bangunan besar di pusat kota

Insentif drainase dan estetika

Portland Zoning Code 33.510.243

 

3.       Dampak Psikososial

Pegawai negeri profesional sering menghadapi jadwal padat dengan waktu istirahat yang terbatas, sehingga tidak selalu memungkinkan mereka berjalan ke taman kota meskipun sangat membutuhkannya sebagai ruang pemulihan mental. Rooftop garden menjadi solusi efektif karena menawarkan akses cepat ke elemen alami tanpa meninggalkan lingkungan kerja, baik untuk relaksasi singkat maupun microbreak yang menyehatkan secara psikologis..

Penelitian di Malaysia menunjukkan bahwa adaptasi green roof pada hunian bertingkat tidak hanya meningkatkan kesadaran penghuni, tetapi juga berdampak positif pada kesehatan mental mereka (Abd Rahman, H., Yusoff, N. S. M., & Omar, M., 2023). Kesadaran yang dimaksud adalah pemahaman bahwa keberadaan taman atap di gedung kantor bukan hanya elemen dekoratif, tapi berfungsi sebagai ruang pemulihan psikologis yang bisa diakses dengan mudah.

Kehadiran ruang hijau semacam rooftop garden dalam penelitian oleh Wilkinson dan Orr (2017) terbukti memberikan berbagai dampak positif, seperti

·         mendorong keterlibatan dalam aktivitas sosial dan fisik,

·         menurunkan tingkat stres,

·         meningkatkan suasana hati dan konsentrasi, serta

·         berkontribusi terhadap penurunan gejala gangguan kecemasan dan mood.

Seluruh temuan tersebut sejalan dengan konsep biophilia, yang diperkenalkan oleh Edward Wilson pada tahun 1984. Konsep ini menyatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk mencari kedekatan dengan alam karena efek menenangkan yang ditimbulkannya. Dengan kata lain, menghadirkan elemen hijau di lingkungan kerja bukan sekadar pilihan desain, tetapi respons terhadap kebutuhan dasar manusia untuk merasa tenang, terhubung, dan pulih.

4.       Relevansi untuk Strategi Pengelolaan BMN

Rooftop garden memiliki potensi untuk dikembangkan dalam kerangka optimalisasi Barang Milik Negara (BMN). Dalam pendekatan konvensional, optimalisasi BMN sering diukur dari sisi finansial—misalnya melalui pendapatan sewa atau pemanfaatan komersial. Namun, rooftop garden memperkenalkan paradigma baru: imbal balik non-finansial yang berwujud pada peningkatan kualitas kesehatan mental, produktivitas kerja, dan kepuasan pegawai yang menggunakan fasilitas negara tersebut.

Implementasi ini juga menjawab mandat pemerintah untuk mengarusutamakan prinsip keberlanjutan dalam tata kelola aset publik, sebagaimana diamanatkan dalam berbagai dokumen kebijakan jangka menengah, termasuk RPJMN 2020–2024 dan agenda reformasi birokrasi. Keberadaan taman atap pada gedung vertikal negara memberikan nilai tambah aset tanpa harus mengubah fungsi dasarnya, sekaligus menciptakan ruang intervensi psikososial yang sangat dibutuhkan di lingkungan kerja modern.

5.       Implikasi Kebijakan dan Arah ke Depan

Sebagai pengelola aset negara, DJKN memiliki peluang strategis untuk mendorong inovasi pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN) melalui pendekatan yang lebih berorientasi pada dampak sosial dan lingkungan. Salah satu arah kebijakan yang dapat dikembangkan adalah penerapan rooftop garden pada gedung-gedung perkantoran pemerintah, yang dimulai secara granular melalui proyek percontohan—misalnya pada gedung milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau Kementerian Keuangan. Implementasi ini dapat didorong melalui kolaborasi lintas lembaga dan pemanfaatan skema pembiayaan alternatif, seperti dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, green financing, atau mekanisme berbasis carbon credit yang sejalan dengan komitmen pembatasan emisi karbon nasional. Selain itu, penting dilakukan studi lanjutan mengenai desain rooftop garden yang paling efektif sebagai intervensi psikososial bagi pegawai—baik dari sisi tata letak, elemen vegetasi, aksesibilitas, maupun frekuensi dan durasi penggunaan. Hasil studi ini akan memperkuat dasar kebijakan serta memberikan model implementasi yang bisa direplikasi secara lebih luas dalam kerangka optimalisasi aset negara yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

6.       Penutup

Rooftop garden adalah bentuk nyata dari nilai tambah non-finansial dalam pengelolaan aset publik. Di tengah tantangan iklim, tekanan psikologis masyarakat urban, dan tuntutan efisiensi birokrasi, inisiatif ini mampu menjawab ketiganya secara bersamaan. Dengan dukungan kebijakan DJKN dan sinergi lintas sektor, taman atap di atas gedung negara bukan lagi sekadar simbol hijau, melainkan wujud dari BMN yang berfungsi penuh—bukan hanya sebagai aset fisik, tetapi juga sebagai katalis kualitas hidup dan tata kelola berkelanjutan.


Referensi:

Gajjar, H., & Amarnath, T. (2021). Prevalence of Organizational Stress, Burnout and Work-Related Musculoskeletal Discomfort (WMSD) among Civil Engineers-An Observational Study. International Journal of Health Sciences and Research.

Prakoso, P., & Herdiansyah, H. (2019). Analisis implementasi 30% ruang terbuka hijau di DKI Jakarta. Majalah Ilmiah Globe21(1), 17-26.

DJKN‑Kemenkeu. SIMAN – Sistem Informasi Manajemen Aset Negara, 2025. Diakses per 6 Agustus 2025.

Wedha, J., Putere, S. P. P. L. M., & Primatanti, P. A. (2023). Hubungan Antara Burnout dengan Motivasi Kerja pada Pegawai Negeri Sipil di Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman Provinsi Bali. Aesculapius Medical Journal3(3), 403-408.

Abd Rahman, H., Yusoff, N. S. M., & Omar, M. (2023, December). Perception of green roof users with their mental well-being. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 1274, No. 1, p. 012036). IOP Publishing.

Wilkinson, S., & Orr, F. (2017, May 16). Biophilic urbanism: How rooftop gardening soothes souls. The Conversation. Retrieved August 7, 2025, from https://theconversation.com/biophilic-urbanism-how-rooftop-gardening-soothes-souls-76789


Penulis: Mahaeni Puri Windari

Disclaimer
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
Floating Icon