Belajarlah Sampai Negeri China: Revolusi Energi China Inspirasi untuk Indonesia
Bhika Arnanda Chary Widjaya
Kamis, 31 Juli 2025 pukul 10:46:14 |
3920 kali
Di balik jendela hotel di kota Nanning langit tampak cerah berawan, meski suhu panas tidak berbeda dengan Jakarta tetapi udara di perkotaan lebih bebas dari asap padatnya kendaraan bermotor. Pada awal Juni 2025, saya menghadiri Seminar on Electricity Development for ASEAN Countries under the Background of Carbon Peak and Carbon Neutrality, yang diselenggarakan di Guangxi International Business Vocational College, di mana Prof. Ji Rui pada sesi awal presentasi menyampaikan fakta mencengangkan: “China pada akhir tahun 2025 pembangkit listrik yang berasal dari renewable energy akan melebihi pembangkit listrik yang bersumber dari batubara!” Statistik ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan revolusi energi yang mengubah wajah negeri berpenduduk 1,4 miliar jiwa ini. Dalam 14 hari seminar, para akademisi, praktisi, dan pengusaha memaparkan bagaimana China menjawab dilema abad ke-21: menjaga pertumbuhan ekonomi sambil memangkas emisi karbon sebesar 43 persen sebelum 2030. Dalam tulisan ini penulis mengeksplorasi pencapaian Pemerintah China, tantangan yang dihadapi, implikasi global, dan pelajaran berharga bagi Indonesia dalam menjalani transisi energi.
Tonggak Terbaru dalam Transisi Energi China
Pada 2024, China mencatat rekor produksi listrik non-fosil sebesar 3,3 triliun kWh, menurut laporan The Progress Playbook (per 2025). Angka ini didorong oleh lonjakan produksi tenaga surya sebesar 27 persen, angin 10 persen, dan nuklir 8 persen. Kapasitas terpasang tenaga surya mencapai 535 GW pada 2023, menjadikan China pemimpin global dalam energi terbarukan. Menurut laporan resmi NEA (2024), konsumsi energi bersih mencapai 26,4 persen dari total penggunaan energi pada 2023, naik dari 15,5 persen pada 2013. Antara 2019 dan 2024, China menyumbang 40 persen dari ekspansi kapasitas energi terbarukan global, sebagaimana dilaporkan oleh International Energy Agency (IEA).
Keberhasilan ini tidak terjadi begitu saja. China telah mengintegrasikan sistem energi dengan lebih baik, mengurangi tingkat pemborosan energi terbarukan (curtailment) dari 20 persen pada 2016 menjadi di bawah 5 persen pada 2024. Selain itu, sektor kendaraan listrik (EV) dan baterai telah berkembang pesat, dengan China memimpin dalam “tiga baru” (new three): EV, baterai, dan tenaga surya, yang tumbuh dua kali lebih cepat dari ekonomi nasional. Kota seperti Shenzhen telah mencapai 100 persen armada bus listrik, sebuah prestasi yang menunjukkan skala dan kecepatan transformasi China.
Kerangka Kebijakan: Fondasi Transisi Ambisi "Dual Carbon Goals"
China menetapkan target ambisius melalui Dual Carbon Goals: mencapai puncak emisi karbon pada 2030 dan netral karbon pada 2060. Target ini telah menjadi “hukum tak tertulis” di setiap tingkat pemerintahan. 14th Five-Year Plan (2021-2025) menjadi tulang punggung, dengan langkah konkret seperti:
Revisi Renewable Energy Law (2020) menjadi pendorong utama. Kebijakan feed-in tariff memberikan insentif finansial untuk PLTS dan PLTB, sementara grid priority access mewajibkan perusahaan listrik membeli energi hijau terlebih dahulu. “Ini bukan lagi insentif, melainkan kewajiban hukum,” tegas Ms.Yang Wei seorang praktisi hukum yang dulu bekerja pada Pemerintah China di seminar. Selain itu, Carbon Emission Trading Scheme (ETS), pasar karbon terbesar di dunia, mencakup 2.200 perusahaan dengan harga karbon stabil di ¥70/ton (sekitar Rp 150.000). ETS ini mendorong perusahaan untuk mengurangi emisi dengan menjual kuota karbon, menciptakan insentif ekonomi yang kuat.
Inovasi Teknologi dan Infrastruktur Memanen Energi Ramah Lingkungan
Kunjungan lapangan ke pusat pembangkit listrik di propinsi Quangxi semakin membuka mata bahwa Pemerintah China sangat serius dalam mencapai target “Dual Carbon Goals”. Beberapa objek dikunjungi oleh peserta seminar yaitu:
Meski energi terbarukan melonjak, batubara masih menyumbang 54,7 persen listrik China. Namun, di PLTU di China dengan teknologi ultra-supercritical mencapai efisiensi 49 persen (dibandingkan rata-rata global 33 persen), mengurangi emisi CO₂ sebesar 1,8 juta ton per tahun melalui sistem Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS). Meski tidak bisa menghapus batubara secepat Eropa, tetapi China membuatnya lebih bersih.
Transisi energi China memiliki dampak jauh melampaui batas negaranya. Sebagai pemimpin dalam penerapan energi terbarukan, China telah mendorong penurunan biaya teknologi seperti panel surya dan baterai, membuat energi bersih lebih terjangkau di seluruh dunia. China menyumbang 50 persen dari peningkatan kapasitas energi terbarukan global. Keberhasilan ini juga memengaruhi tujuan iklim internasional, dengan China memainkan peran kunci dalam Perjanjian Paris. Namun, beberapa pihak mengkritik bahwa ketergantungan China pada batubara masih terlalu tinggi, sementara yang lain memuji kecepatan dan skala transisinya sebagai model bagi negara berkembang.
China juga menjadi eksportir utama produk energi bersih, mendominasi pasar global untuk panel surya dan komponen EV. Hal ini menciptakan peluang sekaligus tantangan bagi negara lain, termasuk Indonesia, yang harus menyeimbangkan ketergantungan pada teknologi China dengan pengembangan kapasitas domestik.
Regulasi yang Tegas, China membuktikan bahwa tanpa kepastian hukum, transisi energi hanyalah mimpi. Revisi berulang terhadap Renewable Energy Law China memberikan kerangka yang jelas, sementara UU Energi Baru Terbarukan Indonesia masih terkatung-katung. Indonesia perlu mempercepat pembuatan regulasi yang tegas dan konsisten untuk menarik investasi energi bersih.
Skala vs. Presisi, Indonesia tidak memerlukan proyek raksasa seperti Kubuqi. Solar micro-grid untuk pulau-pulau terpencil bisa menjadi solusi yang lebih sesuai. “Jangan terjebak romantisme proyek mega,” pesan Dr. Wei Zhang dari seminar Beijing. Fokus pada solusi lokal yang praktis akan lebih efektif.Dengan efisiensi PLTU Indonesia rata-rata 32 persen, teknologi supercritical China dapat menjadi jalan tengah sambil mempersiapkan energi hijau. Indonesia juga dapat mempelajari Just Transition Fund China untuk mendukung pekerja sektor batubara beralih ke pekerjaan hijau.
China telah memanfaatkan kerja sama internasional untuk teknologi dan pendanaan. Indonesia dapat menjalin kemitraan dengan China atau negara lain untuk transfer teknologi, seperti panel surya atau sistem penyimpanan energi, sambil membangun kapasitas domestik untuk ketahanan jangka panjang.
Penerbangan pulang dari Shanghai menawarkan pemandangan langit biru yang cerah, transformasi China bukan sihir, melainkan hasil dari political will yang diterjemahkan ke dalam rencana aksi terukur. Pemerintah China seakan berpesan, “Kami tak menjual solusi, tapi membagi pengalaman: transisi energi butuh keberanian memikul biaya hari ini untuk warisan besok.”
Bagi Indonesia, pelajaran terbesar bukan hanya pada teknologi, tetapi pada mentalitas. Dengan regulasi yang jelas, investasi strategis, dan komitmen untuk ekonomi hijau, Indonesia dapat mengikuti jejak China. Tantangan seperti pendanaan dan koordinasi antarprovinsi memang nyata, tetapi dengan keberanian politik dan visi jangka panjang, Indonesia dapat membangun masa depan energi yang berkelanjutan. Pertanyaannya bukan apakah kita mampu, tetapi apakah kita berani mengambil risiko untuk tidak tergilas oleh sejarah.
Penulis: Esap Mundi Hartono, Penilai Pemerintah Ahli Madya
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |