Penilaian Keanekaragaman Hayati Taman Nasional Way Kambas: Sinergi Menuju Lestari
Monika Yulando Putri
Rabu, 30 Juli 2025 pukul 11:08:44 |
3881 kali
Penilaian Keanekaragaman Hayati Taman Nasional Way Kambas:
Sinergi Menuju Lestari
Oleh:
Rachmat Kurniawan, Rizka Permatayakti R. N.1, Ratri Desi Kurniasari, dan Umiyati
Tantangan besar yang kita hadapi saat ini adalah bagaimana menciptakan kemakmuran bagi semua tanpa menyebabkan kerusakan pada ekosistem, menurunnya daya dukung lingkungan, bahkan hilangnya keanekaragaman hayati. Pengambil keputusan, pelaku usaha, atau bahkan masyarakat terkadang tidak memahami atau mengetahui besarnya nilai ekonomi dari suatu ekosistem, sehingga berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan perekonomian lebih memprioritaskan peningkatan ekonomi itu sendiri dan tanpa disadari memberikan tekanan bagi lingkungan. Hal ini tentu saja perlu disikapi dengan memberikan informasi mengenai besarnya nilai ekonomi dari suatu ekosistem untuk memberikan pemahaman bahwa ekosistem tersebut juga memberikan manfaat yang sangat berharga dan bernilai.
Sejalan dengan hal tersebut, Tim Penilai DJKN melaksanakan valuasi ekonomi jasa ekosistem Sumber Daya Alam (SDA) Hayati berupa hutan konservasi di Taman Nasional Way Kambas untuk dapat memahami nilai yang terkandung di dalamnya. Salah satu jasa ekosistem yang menjadi fokus untuk dinilai oleh Tim Penilai DJKN adalah Keanekaragaman Hayati khususnya spesies kunci yaitu gajah sumatera (Elephas maximus ssp. sumatranus). Gajah sumatera merupakan subspesies gajah asia yang berhabitat di Pulau Sumatera. Perubahan habitat akibat perambahan hutan yang masif dan perburuan oleh manusia mengakibatkan jumlah populasinya terus menurun. Berdasarkan The IUCN Red List of Threatened Species, pada tahun 2011, gajah sumatera ditetapkan sebagai salah satu spesies yang sangat terancam (Critically Endangered)2. Pemerintah Indonesia juga telah menetapkan gajah sumatera sebagai salah satu jenis satwa liar yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi3. Oleh karena itu, guna mengetahui seberapa besar nilai jasa ekosistem keanekaragaman hayati di Taman Nasional Way Kambas, Tim Penilai DJKN menentukan spesies kunci gajah sumatera sebagai salah satu indikator penting di dalamnya.
Terletak di ujung timur Pulau Sumatera, Taman Nasional Way Kambas (TNWK) menjadi habitat dan pusat konservasi bagi gajah sumatera. TNWK berdiri sejak tahun 1937 dan ditetapkan sebagai Taman Nasional pada tahun 1999 melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 670/Kpts-II/1999 tanggal 26 Agustus 1999 dengan luas 125,631.30 hektar. Terdapat 4 tipe ekosistem utama di kawasan TNWK, yaitu ekosistem hutan hujan dataran rendah, hutan rawa, hutan mangrove, dan hutan pantai. Kawasan TNWK didominasi oleh jenis pohon meranti, rengas, keruing, dan beberapa jenis flora lainnya. Selain itu, juga terdapat lebih dari 50 jenis mamalia yang hidup di kawasan TNWK termasuk 6 spesies kunci yaitu badak sumatera, gajah sumatera, tapir, beruang madu, harimau sumatera, dan siamang4. Dengan kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya, selain menjadi tonggak keberlangsungan hidup bagi gajah sumatera, pada tanggal 28 Oktober 2015 TNWK juga secara resmi diakui sebagai salah satu ASEAN Heritage Park5.
Pada penilaian keanekaragaman hayati di TNWK ini, DJKN membentuk Tim Penilai secara kolaboratif antara Direktorat Penilaian, Kanwil DJKN Lampung dan Bengkulu, KPKNL Metro, serta KPKNL Bandar Lampung. Pelaksanaan penilaian keanekaragaman hayati ini juga tidak terlepas dari dukungan Balai Taman Nasional Way Kambas sebagai pengelola kawasan. Metode yang digunakan oleh Tim Penilai DJKN dalam menilai keanekaragaman hayati di TNWK adalah Contingent Valuation Method (CVM). CVM merupakan metode valuasi ekonomi untuk menghitung nilai jasa ekosistem dengan cara menanyakan langsung kepada masyarakat mengenai kesediaan mereka untuk membayar (willingness to pay) atas jasa ekosistem tersebut melalui skema wawancara. Berdasarkan informasi dari Balai TNWK, masyarakat yang memperoleh manfaat dari keberadaan keanekaragaman hayati TNWK adalah masyarakat yang tinggal di desa-desa penyangga kawasan TNWK. Desa penyangga merupakan desa-desa yang secara geografis berdekatan dengan kawasan TNWK dan turut berperan serta dalam upaya konservasi di TNWK.
Wawancara dalam rangka penilaian keanekaragaman hayati TNWK tersebut dilaksanakan pada medio bulan Juni di Desa Labuhan Ratu. Desa Labuhan Ratu ini merupakan salah satu desa penyangga yang berlokasi paling dekat dengan pintu masuk TNWK. Tim Penilai DJKN juga melakukan wawancara kepada pedagang yang berada di Pusat Latihan Gajah (PLG), pengelola usaha di sekitar area TNWK, dan kelompok tani hutan Rahayu Jaya. Salah satu poin penting yang ditanyakan adalah mengenai dampak yang dirasakan masyarakat dengan keberadaan kawasan keanekaragaman hayati tersebut dan seberapa besar kesediaan masyarakat membayar untuk melestarikan ekosistem hutan TNWK. Diharapkan melalui penggalian informasi dan persepsi dari masyarakat sekitar terhadap TNWK, Tim Penilai DJKN dapat mengukur besaran nilai manfaat ekonomi dari ekosistem hutan TNWK yang diterima oleh masyarakat sekitar hutan.
Hal menarik yang ditemui oleh Tim Penilai DJKN adalah terdapat perbedaan persepsi tentang keberadaan gajah sumatera sebagai spesies kunci di TNWK. Di satu sisi, masyarakat menilai bahwa gajah sumatera yang berhabitat di TNWK memberikan dampak positif bagi mereka. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan gajah sumatera merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke TNWK. Masyarakat dapat mengambil peran dalam penyediaan barang/jasa bagi wisatawan, baik sebagai pemandu wisata, pedagang makanan/minuman, maupun pedagang cinderamata dan mendapatkan penghasilan dari usaha tersebut. Manfaat tidak langsung yang dirasakan dari keberadaan spesies kunci ini, membuka pandangan masyarakat bahwa gajah sumatera di TNWK perlu dilestarikan.
Persepsi lainnya yang ditemui oleh Tim Penilai adalah adanya sebagian masyarakat yang menganggap bahwa keberadaan gajah sumatera ini tidak hanya memberikan dampak positif, namun juga berdampak negatif bagi mereka. Di beberapa lokasi yang berbatasan langsung dengan kawasan TNWK, gajah-gajah tersebut seringkali menyeberangi batas kawasan dan merusak lahan pertanian warga. Balai Taman Nasional Way Kambas merangkul masyarakat dengan membentuk Masyarakat Mitra Polhut (MMP) sebagai salah satu upaya untuk menangani permasalahan tersebut. MMP adalah masyarakat mitra polisi hutan yang bertugas berjaga secara bergiliran di sekitar kawasan TNWK untuk menghalau gajah dengan menggunakan ‘suara-suara’ seperti petasan. Pembentukan MMP selain bertujuan untuk mengamankan lahan pertanian warga dari gajah liar yang keluar dari kawasan, juga merupakan upaya agar gajah-gajah tersebut terhindar dari konflik dengan warga yang berpotensi mengancam nyawa mereka dan mengakibatkan populasinya semakin terancam.
Terlepas dari perbedaan pandangan masyarakat sekitar hutan terhadap keberadaan gajah sumatera sebagai spesies kunci di TNWK, mereka tetap memberikan dukungan positif untuk kelestarian alam TNWK. Hal ini tercermin dari hasil wawancara Tim Penilai DJKN, dimana hampir seluruh responden menyatakan bersedia untuk berkontribusi dalam pelestarian kawasan. Besaran nominal kesediaan berkontribusi yang rela mereka keluarkan sangat beragam, tergantung pada pendapatan serta jumlah tanggungan masing-masing keluarga. Besaran kontribusi ini juga berkaitan dengan tingkat pengetahuan masyarakat tentang pentingnya kawasan TNWK. Masyarakat yang memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam TNWK menunjukkan antusiasme yang tinggi untuk membantu melestarikan kawasan. Keterbatasan penghasilan masyarakat tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk dapat menunjukkan kontribusinya menjaga kelestarian kawasan TNWK. Mereka bersedia untuk menyumbangkan tenaga mereka untuk menggantikan kontribusi secara materiil, seperti dengan turut serta bergotong-royong dalam kegiatan pelestarian hutan, penanggulangan bencana, atau pencegahan deforestasi.
Hasil wawancara tersebut memperlihatkan indikasi besarnya nilai ekonomi keberadaan TNWK bagi masyarakat. Nilai ekonomi tersebut tercipta dari harapan masyarakat agar ekosistem hutan di kawasan TNWK dapat tetap utuh dan lestari, sehingga gajah-gajah yang hidup di TNWK dapat dipelihara dengan baik. Mereka meyakini bahwa jika kondisi TNWK semakin lestari maka gajah liar tersebut tidak akan keluar dari kawasan hutan, karena sumber makanan mereka tersedia dan melimpah di dalam kawasan TNWK. Apabila gajah-gajah tersebut tidak keluar dari kawasan TNWK, maka tidak ada lagi gangguan terhadap usaha pertanian masyarakat. Mereka tidak perlu lagi merasakan kerugian akibat kerusakan lahan pertanian. Tentu saja harapan tersebut tidak dapat terwujud tanpa adanya sinergi dan kolaborasi antara masyarakat itu sendiri dengan Balai Taman Nasional Way Kambas sebagai pengelola kawasan dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan kelestarian alam hutan di TNWK. Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian alam TNWK sebagai habitat gajah sumatera merupakan modal awal untuk membangun sinergi menuju lestari. Karena pada hakikatnya hubungan antara manusia dengan alam merupakan sebuah sistem yang tidak dapat diputus maupun dipisahkan satu sama lain.
Membangun sinergi dan kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan demi menjaga
keseimbangan ekosistem, bukan hanya di TNWK namun juga seluruh kawasan konservasi di
Indonesia. Kelestarian alam Indonesia tidak akan terwujud hanya dengan usaha satu pihak
saja. Dibutuhkan sinergi antara masyarakat, pemerintah baik pusat maupun daerah,
akademisi, dan berbagai pihak lainnya yang bergerak di bidang lingkungan hidup untuk
menjangkau lingkup yang lebih luas dalam mewujudkan kelestarian alam. DJKN sebagai
pengelola kekayaan negara berusaha untuk memberikan sumbangsihnya dalam mewujudkan
kelestarian alam tersebut dengan melaksanakan penilaian keanekaragaman hayati yang
salah satu lokasinya adalah di TNWK ini. Diharapkan kedepannya DJKN juga dapat
melaksanakan penilaian keanekaragaman hayati di seluruh wilayah konservasi di Indonesia.
Penilaian yang dilaksanakan pada TNWK ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi nilai
dari kawasan TNWK sehingga dapat diketahui posisi sumber daya alam kawasan tersebut.
Nilai yang dihasilkan dari kegiatan penilaian Tim Penilai DJKN diharapkan dapat menjadi salah
satu pertimbangan dalam perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan terutama bagi
pengelola kawasan untuk menentukan langkah yang tepat dalam mengelola kawasan
konservasi sesuai kewenangan yang dimiliki. Berkaca dari peristiwa Taman Nasional Tesso
Nilo (TNTN) yang mengalami konversi lahan secara ilegal serta perusakan ekosistem yang
begitu masif, tentunya kita tidak menginginkan hal yang sama terulang kembali di kawasan
kawasan konservasi lainnya. Oleh karena itu, nilai ekonomi kawasan menjadi hal yang penting
untuk diidentifikasi.
Pengetahuan tentang besaran nilai ekonomi suatu kawasan konservasi, dapat membuka pandangan kita mengenai seberapa berharganya kawasan konservasi tersebut untuk dipertahankan, dilestarikan, dan dijaga keutuhan ekosistemnya. Mempertahankan selalu lebih baik dibandingkan harus memperbaiki yang sudah terlanjur rusak, terlebih lagi jika kita membicarakan tentang ekosistem hutan yang sangat sulit untuk dipulihkan apabila sudah mengalami kerusakan. Nilai ekonomi kawasan konservasi ini juga mempermudah dalam mengidentifikasi besaran kerugian yang dialami oleh kawasan hutan konservasi apabila terjadi kerusakan. Kita dapat membayangkan bahwa ketika suatu kawasan konservasi mengalami kerusakan secara fisik seperti kebakaran hutan atau alih fungsi lahan, maka bukan hanya tegakan kayu yang berdiri di atas tanahnya saja yang menghilang, tetapi juga manfaat ekosistem di dalamnya. Jasa ekosistem seperti manfaat penyerapan karbon, pengendali banjir, regulasi tata air, dan keberadaan keanekaragaman hayati juga tidak bisa didapatkan lagi.
Pelaksanaan penilaian keanekaragaman hayati di TNWK memberikan perspektif baru
dan pengalaman yang sangat berharga bagi Tim Penilai DJKN. Diharapkan nantinya hasil
penilaian keanekaragaman hayati di TNWK ini dapat memberikan manfaat yang sebesar
besarnya bagi pembangunan dan pelestarian keanekaragaman hayati di TNWK, khususnya,
dan memberikan pandangan mengenai betapa berharganya keanekaragaman hayati di
Indonesia, sehingga sangat patut untuk dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan di
semua lini pembangunan menuju Indonesia yang lestari dan berkelanjutan.
***
1 Penulis korespondensi, Direktorat Penilaian
2 Sumber : https://www.iucnredlist.org/species/199856/9129626
3 Sumber : https://www.menlhk.go.id/news/bayi-gajah-sumatera-kembali-lahir-di-taman nasional-way-kambas/
4 Sumber : https://watala.or.id/2514/taman-nasional-way-kambas/
5 Sumber : https://www.aseanbiodiversity.org/asean-heritage-parks/way-kambas-national-park/
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |
Foto Terkait Artikel