Menjaga Keberlanjutan PSN: Strategi Efektif dalam Menyeimbangkan Pembangunan dan Efisiensi
Dwianto Setyawan
Rabu, 26 Februari 2025 pukul 17:53:15 |
15473 kali

Menjaga Keberlanjutan PSN: Strategi Efektif dalam Menyeimbangkan Pembangunan dan Efisiensi
(Penulis: Kolaborasi Rustanto, Gilang R. Bhimantara, Dwianto Setyawan)
PSN dan Prioritas Pemerintah dalam RPJMN
Pengertian
Proyek Strategis Nasional (PSN) tercantum dalam Pasal 1 Peraturan Pemerintah
(PP) Nomor 42 tahun 2021. Secara umum, PSN didefinisikan sebagai proyek yang
memiliki sifat strategis dalam mendukung pertumbuhan dan pemerataan pembangunan
guna menciptakan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Definisi ini menegaskan peran penting PSN sebagai instrumen utama dalam
mencapai tujuan pembangunan nasional.
Peran PSN sangat selaras dengan
visi Presiden yang tertuang dalam Asta Cita. Terdapat frasa yang menjadi fokus
utama yaitu melanjutkan pengembangan infrastruktur sebagaimana tertuang pada Asta Cita ke-3 dengan bunyi
“meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan,
mengembangkan industri kreatif, dan melanjutkan pengembangan infrastruktur”.
Selain itu, PSN sektor bendungan, irigasi, dan air baku turut mendukung Asta
Cita yang ke-2, yang berfokus pada kemandirian bangsa melalui swasembada
pangan, pengelolaan air, serta pengembangan ekonomi hijau dan ekonomi biru.
Kehadiran PSN
berperan sebagai sarana untuk mewujudkan visi pemerintah sebagaimana tercantum dalam Asta
Cita. Namun, mengingat besarnya anggaran yang diperlukan, proses pembangunannya
harus dipastikan berjalan secara optimal. Salah satu metode pengukuran
pembangunan PSN adalah dengan membandingkan antara target ketercapaian
pembangunan fisik/ atau konstruksi
proyek dan realisasi anggaran tanah yang sudah terbayarkan.
Hingga 31 Desember
2024, setidaknya Rp138 triliun dari dana pengadaan lahan yang dialokasikan
melalui LMAN telah direalisasikan untuk berbagai sektor, mencakup 129 proyek.
Angka ini baru mencerminkan aspek pembebasan lahan, belum termasuk nilai
konstruksi, yang secara nominal jauh lebih besar. Pembangunan infrastruktur harus mempertimbangkan aspek lahan dan aspek
fisik/konstruksi secara simultan agar proyek seperti jalan tol, bendungan,
irigasi, pelabuhan, dan sektor lainnya dapat terwujud secara optimal.
Pentingnya Kehadiran PSN
PSN merupakan
salah satu solusi yang dipilih pemerintah untuk mengatasi defisit infrastruktur
dan penurunan investasi pascakrisis 2008-2012. Skema PSN dipilih karena menawarkan berbagai fasilitas, seperti
percepatan perizinan, prioritas percepatan penyiapan proyek, dan penyederhanaan
proses birokrasi secara masif[1].
Sederet
persyaratan untuk menjadi PSN pun harus dipenuhi dari sisi kelayakan secara
ekonomis yang tinggi, memiliki Economic Interest Rate of Return (EIRR)
dengan quartile teratas, disertai dengan master plan,
feasibility study, maupun study AMDAL. Dengan seperangkat
“keistimewaan” tersebut, PSN dipirioritaskan untuk sektor yang vital dan
berdampak luas berdasakan percepatan kebutuhan nasional,. Oleh karena itu, pelaksanaannya membutuhkan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan
lintas Kementerian dan Lembaga.
Peran LMAN dalam Ekosistem PSN
LMAN merupakan
salah satu bagian dari ekosistem PSN yang bertugas mendanai pembebasan lahan
sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku [2]. Pendanaan ini dilakukan setelah
melalui proses panjang pengadaan tanah oleh Panitia Pengadaan Tanah, validasi
oleh BPN, serta keterlibatan Pejabat Pembuat Komitmen atas tanah yang terkena PSN. Tanah yang
digunakan dalam PSN dapat berasal dari berbagai kepemilikan, seperti milik
warga negara Indonesia, badan hukum, perusahaan atau bahkan Barang Milik Negara
(BMN) maupun Barang Milik Daerah (BMD), dengan karakteristik yang beragam.
Sebelum suatu proyek ditetapkan sebagai PSN, Kementerian terkait terlebih
dahulu menginisiasi proyek dan menyusun Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah
(DPPT). Dokumen ini menjadi dasar bagi
Gubernur, Bupati atau Wali Kota dalam penetapan lokasi.
Proses yang
panjang tersebut juga melibatkan masyarakat atau pemilik tanah yang terdampak,
di mana setelah penetapan lokasi diterbitkan,
pemindahtanganan kepemilikan menjadi terbatas. Secara tegas, tanah yang
sudah tercantum dalam dokumen Penetapan Lokasi [3] tidak dapat
diperjualbelikan lagi dan hanya dapat dialihkan kepemilikannya kepada inisiator
PSN.
Dampak Kebijakan Efisiensi terhadap Keberlanjutan PSN
Manfaat PSN
tidak hanya dirasakan setelah proyek terbangun, tetapi juga melalui
kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi, baik di tingkat regional maupun
nasional. Indikasi manfaat ini dapat diketahui sejak tahap feasibility
study dan semakin nyata setelah proyek beroperasi, memberikan dampak
bagi masyarakat dalam periode tertentu.
Keberlanjutan
PSN sangat bergantung pada penyelesaian fisik proyek. Dalam upaya meningkatkan
efisiensi anggaran, pemerintah dapat melakukan penyesuaian strategi pembangunan
untuk menjaga keberlanjutan PSN, termasuk optimalisasi target dan jadwal
penyelesaian proyek. Penyesuaian ini bertujuan untuk memastikan pemanfaatan
anggaran yang lebih efektif tanpa mengurangi manfaat jangka panjang yang
diharapkan
Agar
pembangunan PSN tetap berjalan secara keberlanjutan, diperlukan langkah antisipastif
dalam mengelola kebijakan efisiensi anggaran.
Pemerintah
dapat terus meninjau dampak jangka panjang dari setiap keputusan strategis,
sehingga proyek-proyek yang telah dirancang tetap memberikan kontribusi optimal
bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dampak dan Konsekuensi Penyesuaian atau Penghentian PSN
Setiap keputusan terkait keberlanjutan PSN, termasuk kemungkinan penyesuaian target penyelesaian proyek, membawa konsekuensi bagi berbagai pihak, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Beberapa dampak yang perlu diperhatikan, antara lain:
Upaya Mitigasi
untuk Memastikan Keberlanjutan dan Dampak Positif PSN
Untuk mengatasi potensi dampak yang mungkin terjadi akibat perubahan kebijakan terhadap PSN, diperlukan langkah-langkah strategis guna meminimalkan risiko dan memastikan manfaat pembangunan tetap dirasakan. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:
Secara keseluruhan, setiap keputusan Pemerintah terkait keberlanjutan PSN
harus mempertimbangkan dampak jangka panjang serta langkah mitigasi yang tepat.
Dengan perencanaan yang matang, pendekatan yang holistik, pembangunan
infrastruktur dapat tetap menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan masyarakat.
Daftar Bacaan:
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja;
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum;
Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2023 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum;
Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 19 Tahun 2021 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum;
Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2020 tentang Pendanaan Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum dalam Rangka Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional;
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 95 Tahun 2023 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 139 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pendanaan Pengadaan Tanah bagi Proyek Strategis Nasional oleh LMAN;
Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 6 Tahun 2024 tentang Perubahan Kelima atas Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 7 Tahun 2021 tentang Perubahan Daftar Proyek Strategis Nasional;
| Disclaimer |
|---|
| Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja. |